- Usung Semangat Sportivitas, Endriansyah Siap Ramaikan Bursa Calon Ketua Umum The Jakmania
- Pembangunan Jalan Daerah di 37 Provinsi Rampung dan Diresmikan Presiden, Total 1.151 Km
- Pak Gembus SPOT Plus Hadir di Tebet, Bukti Inovasi Waralaba Kuliner Indonesia Terus Berkembang
- Pemutihan Denda Pajak Kendaraan di Jakarta Fair 2026 Diminati Pengunjung
- Tangis dan Penantian 75 Tahun: Pemerintah Belanda Akhirnya Minta Maaf kepada Komunitas Maluku
- Bupati Eman Pacu Atlet Majalengka, Target Tembus Juara Porprov 2026
- Wabup Dena Resmikan Al Khalifah, Harapan Baru Pendidikan Majalengka
- RDP PETI Barito Utara Hasilkan Dua Keputusan Penting, WPR Segera Diusulkan
- HUT ke-499 Jakarta, Pramono Tegaskan Kota Global Harus Tetap Berpihak pada Rakyat
- Lebih dari Seabad Berdiri, Sekolah Panggung di Malabar Simpan Sejarah Pendidikan Bangsa
Kepala BK Perdag Sebut Tantangan Perdagangan Pangan Global Semakin Kompleks

Keterangan Gambar : Kepala BK Perdag Kasan
MEGAPOLITANPOS.COM, Bogor- Kepala BK Perdag Kasan menyebutkan, tantangan perdagangan pangan global saat ini semakin kompleks dan multidimensi sehingga perlu adanya gagasan-gagasan baru, khususnya dari para ekonom muda untuk membantu menyelesaikan persoalan tersebut.
“Tantangan perdagangan pangan global sangat kompleks, mulai dari perubahan iklim, perkembangan teknologi, proteksionisme, hingga yang terbaru isu friend-shoring. Perdagangan tidak lagi mengarah pada diversifikasi pasar, namun menyempit pada hubungan bilateral. Kami berharap gagasan dari para ekonom muda yang hadir dapat memberikan solusi menghadapi tantangan tersebut,” ungkap Kasan dalam seminar nasional BK Perdag) bekerja sama dengan Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) bertema “Tantangan Perdagangan Pangan Global” di IPB International Convention Center, Bogor, Jawa Barat, kemarin, Rabu, (25/10).
Kasan menjelaskan beberapa tantangan perdagangan pangan global yang perlu menjadi perhatian yang serius, yaitu pertama, perubahan iklim. World Metrological Organization (WMO) dan the US Climate Prediction Center ENSO menyatakan bahwa Kawasan di Asia Pasifik akan mengalami El Nino pada 2023.
Baca Lainnya :
- Kementerian UMKM Perkuat Promosi Wastra Kalimantan Timur
- Menkop Perkuat Peran Koperasi Dalam Ekosistem Energi Terbarukan
- Ketua Dewan Pembina PP MES Ma,ruf Amin Lantik Pengurus Masyarakat Ekonomi Syariah Periode 2026-2031
- Menteri UMKM Apresiasi KURDA Bunga 0 Persen untuk Pengusaha UMKM Sragen
- Menteri Maman Siapkan Aturan Pelindungan dan Perkuatan Ekosistem Digital UMKM
Sementara, El Nino di Indonesia diprediksi berlanjut pada semester II 2023 dengan kategori lemah–moderat dan Indian Ocean Dipole (IOD) diprediksi berada pada kategori positif–netral hingga Januari 2024.
Kedua, disrupsi rantai pasok yang sudah menurun, namun belum pulih secara optimal. Tekanan terhadap rantai pasok global akibat Covid-19 menyebabkan kemacetan di masing-masing mata rantai pasokan, seperti kontainer, pengiriman, pelabuhan, truk, kereta api, angkutan udara, hingga gudang.
Ketiga, perkembangan teknologi yang membuat diversifikasi produk semakin gencar dilakukan dengan berbagai penelitian. Salah satunya di bidang pangan, seperti produk pangan hasil rekayasa genetik.
Semakin beredarnya produk di pasaran yang menggunakan Genetic Modified Organism (GMO) dapat berdampak pada keamanan pangan bagi masyarakat sehingga dibutuhkan jaminan keamanan pangan.
Keempat, munculnya proteksionisme ekspor dan impor pangan oleh sejumlah negara.
Kelima, meningkatnya isu friend-shoring termasuk dalam perdagangan pangan global. Keenam, isu-isu lainnya seperti ketersediaan tenaga kerja sektor pertanian, perdebatan atas prioritas pangan, pakan, dan energy (feed-fuel-food debate), serta pengendalian gas rumah kaca.
“Friend-shoring meningkat sejak akhir tahun 2022 yang ditandai dengan reorientasi arus perdagangan bilateral untuk memprioritaskan negara-negara yang memiliki nilai politik serupa. Perang Ukraina, terputusnya saling ketergantungan perdagangan Amerika Serikat (AS)-Tiongkok, dan konsekuensi Brexit telah memainkan peran penting dalam membentuk tren utama perdagangan bilateral,” ungkap Kasan.
Lebih lanjut Kasan juga menjelaskan, perdagangan membawa kesejahteraan sebab berkontribusi terhadap ketahanan pangan, termasuk kemiskinan. Dengan demikian, diperlukan kebijakan dan strategi perdagangan pangan Indonesia yang tepat agar bisa berdampak signifikan pada peningkatan indeks ketahanan pangan Indonesia di masa mendatang.
“Gagasan para ekonom muda yang hari ini hadir diharapkan dapat melahirkan pemikiran dan perspektif baru yang diperlukan untuk penyusunan kebijakan dan strategi perdagangan pangan Indonesia di masa mendatang,” imbuh Kasan.(Reporter: Achmad Sholeh)








.jpg)







