- OJK Luncurkan ETF Emas, Investasi Aman di Bursa Saham
- 6.426 Botol Miras Digilas, Bupati Majalengka Gaspol Berantas Peredaran Ilegal
- Dari Sampah Jadi Energi: Bank Jakarta Perluas Program Biodigester di Jakarta Utara
- EDRR Indonesia 2026 Hadirkan Teknologi Mitigasi Bencana dan Penyelamatan Global di JIExpo Kemayoran
- Hambatan Administratif Kepailitan Tekan Produksi dan Ekspor, PT Dua Kuda Indonesia Minta Operasional Tetap Berjalan
- Menteri UMKM Pastikan Status Usaha Mikro Beri Manfaat bagi Pengemudi Ojol
- Wabup Barito Utara Hadiri HUT Ke-1 Kodam XXII Tambun Bungai
- PTPN I Raih Anugerah Mahayuga, Tegaskan Peran Perkebunan bagi Ketahanan Pangan Nasional
- Pemkab Barito Utara Perkuat Sinergi dengan BMKG, Gedung Radar Cuaca Muara Teweh Diresmikan
- Bupati Shalahuddin Buka Raker LPT-IK Kabupaten Barito Utara Tahun 2026
Kepala BK Perdag Sebut Tantangan Perdagangan Pangan Global Semakin Kompleks

Keterangan Gambar : Kepala BK Perdag Kasan
MEGAPOLITANPOS.COM, Bogor- Kepala BK Perdag Kasan menyebutkan, tantangan perdagangan pangan global saat ini semakin kompleks dan multidimensi sehingga perlu adanya gagasan-gagasan baru, khususnya dari para ekonom muda untuk membantu menyelesaikan persoalan tersebut.
“Tantangan perdagangan pangan global sangat kompleks, mulai dari perubahan iklim, perkembangan teknologi, proteksionisme, hingga yang terbaru isu friend-shoring. Perdagangan tidak lagi mengarah pada diversifikasi pasar, namun menyempit pada hubungan bilateral. Kami berharap gagasan dari para ekonom muda yang hadir dapat memberikan solusi menghadapi tantangan tersebut,” ungkap Kasan dalam seminar nasional BK Perdag) bekerja sama dengan Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) bertema “Tantangan Perdagangan Pangan Global” di IPB International Convention Center, Bogor, Jawa Barat, kemarin, Rabu, (25/10).
Kasan menjelaskan beberapa tantangan perdagangan pangan global yang perlu menjadi perhatian yang serius, yaitu pertama, perubahan iklim. World Metrological Organization (WMO) dan the US Climate Prediction Center ENSO menyatakan bahwa Kawasan di Asia Pasifik akan mengalami El Nino pada 2023.
Baca Lainnya :
- PTPN I Raih Anugerah Mahayuga, Tegaskan Peran Perkebunan bagi Ketahanan Pangan Nasional
- Kementerian UMKM Luncurkan Arah Baru Kewirausahaan, Fokus Naik Kelas dan Daya Saing Global
- Kementerian UMKM Optimistis Petani Lebih Sejahtera Lewat KUR dan Penguatan Kelompok Tani
- SAPA UMKM Siap Perluas Akses Pengadaan Pemerintah melalui Integrasi Layanan
- Menteri UMKM Perkuat Ekosistem Wirausaha Hadapi Bonus Demografi
Sementara, El Nino di Indonesia diprediksi berlanjut pada semester II 2023 dengan kategori lemah–moderat dan Indian Ocean Dipole (IOD) diprediksi berada pada kategori positif–netral hingga Januari 2024.
Kedua, disrupsi rantai pasok yang sudah menurun, namun belum pulih secara optimal. Tekanan terhadap rantai pasok global akibat Covid-19 menyebabkan kemacetan di masing-masing mata rantai pasokan, seperti kontainer, pengiriman, pelabuhan, truk, kereta api, angkutan udara, hingga gudang.
Ketiga, perkembangan teknologi yang membuat diversifikasi produk semakin gencar dilakukan dengan berbagai penelitian. Salah satunya di bidang pangan, seperti produk pangan hasil rekayasa genetik.
Semakin beredarnya produk di pasaran yang menggunakan Genetic Modified Organism (GMO) dapat berdampak pada keamanan pangan bagi masyarakat sehingga dibutuhkan jaminan keamanan pangan.
Keempat, munculnya proteksionisme ekspor dan impor pangan oleh sejumlah negara.
Kelima, meningkatnya isu friend-shoring termasuk dalam perdagangan pangan global. Keenam, isu-isu lainnya seperti ketersediaan tenaga kerja sektor pertanian, perdebatan atas prioritas pangan, pakan, dan energy (feed-fuel-food debate), serta pengendalian gas rumah kaca.
“Friend-shoring meningkat sejak akhir tahun 2022 yang ditandai dengan reorientasi arus perdagangan bilateral untuk memprioritaskan negara-negara yang memiliki nilai politik serupa. Perang Ukraina, terputusnya saling ketergantungan perdagangan Amerika Serikat (AS)-Tiongkok, dan konsekuensi Brexit telah memainkan peran penting dalam membentuk tren utama perdagangan bilateral,” ungkap Kasan.
Lebih lanjut Kasan juga menjelaskan, perdagangan membawa kesejahteraan sebab berkontribusi terhadap ketahanan pangan, termasuk kemiskinan. Dengan demikian, diperlukan kebijakan dan strategi perdagangan pangan Indonesia yang tepat agar bisa berdampak signifikan pada peningkatan indeks ketahanan pangan Indonesia di masa mendatang.
“Gagasan para ekonom muda yang hari ini hadir diharapkan dapat melahirkan pemikiran dan perspektif baru yang diperlukan untuk penyusunan kebijakan dan strategi perdagangan pangan Indonesia di masa mendatang,” imbuh Kasan.(Reporter: Achmad Sholeh)


.jpg)
.jpg)













