- Bulu Tangkis Sumbang 6 Medali Asian Games 2026, BNI Apresiasi Pembinaan PBSI
- Menkop: Penempatan Manajer KDKMP untuk Pemerataan SDM di Seluruh Wilayah
- Meriahkan HUT ke-7, Kogabwilhan II Gelar Olahraga Bersama dan Aksi Sosial.
- Babinsa Ajak Warga Perkuat Keamanan dan Kerukunan Wilayah.
- Tradisi Korps, Kodim 0510/Tigaraksa Terima Warga Baru Letkol Inf Yudha Fuady Putra.
- Kodim 0506/Tgr Lalui Koramil Jajaran Salurkan Bantuan Air Bersih Paada Masyarakat.
- Apresiasi Wajib Pajak Teladan Bupati Blitar Rijanto Anugerahkan BliTaX Award 2026.
- Kodim 0808/Blitar Lakukan Droping Air Bersih Untuk Warga Sumberagung Panggungrejo.
- Fraksi DPRD Mulai Bedah RAPBD Barito Utara 2027, Arah Anggaran Jadi Sorotan
- Presiden Prabowo Minta Layanan BPJS Kesehatan Ditingkatkan, Antrean Pasien Harus Lebih Singkat
Kepala BK Perdag Sebut Tantangan Perdagangan Pangan Global Semakin Kompleks

Keterangan Gambar : Kepala BK Perdag Kasan
MEGAPOLITANPOS.COM, Bogor- Kepala BK Perdag Kasan menyebutkan, tantangan perdagangan pangan global saat ini semakin kompleks dan multidimensi sehingga perlu adanya gagasan-gagasan baru, khususnya dari para ekonom muda untuk membantu menyelesaikan persoalan tersebut.
“Tantangan perdagangan pangan global sangat kompleks, mulai dari perubahan iklim, perkembangan teknologi, proteksionisme, hingga yang terbaru isu friend-shoring. Perdagangan tidak lagi mengarah pada diversifikasi pasar, namun menyempit pada hubungan bilateral. Kami berharap gagasan dari para ekonom muda yang hadir dapat memberikan solusi menghadapi tantangan tersebut,” ungkap Kasan dalam seminar nasional BK Perdag) bekerja sama dengan Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) bertema “Tantangan Perdagangan Pangan Global” di IPB International Convention Center, Bogor, Jawa Barat, kemarin, Rabu, (25/10).
Kasan menjelaskan beberapa tantangan perdagangan pangan global yang perlu menjadi perhatian yang serius, yaitu pertama, perubahan iklim. World Metrological Organization (WMO) dan the US Climate Prediction Center ENSO menyatakan bahwa Kawasan di Asia Pasifik akan mengalami El Nino pada 2023.
Baca Lainnya :
- Menkop: Penempatan Manajer KDKMP untuk Pemerataan SDM di Seluruh Wilayah
- Kementerian UMKM dan Barantin Permudah Produk Lokal Tembus Pasar Ekspor
- 14 Ribu Keluarga Penerima Manfaat Disiapkan Masuk Ekosistem Kewirausahaan Kementerian UMKM
- Wahana Edukasi Wisata Eco Park Joko Pangon 3,8 M Agkat Ekonomi Pelaku UMKM Kota Blitar.
- Kementerian UMKM Integrasikan SAPA UMKM dengan InaExport untuk Perkuat Ekspor
Sementara, El Nino di Indonesia diprediksi berlanjut pada semester II 2023 dengan kategori lemah–moderat dan Indian Ocean Dipole (IOD) diprediksi berada pada kategori positif–netral hingga Januari 2024.
Kedua, disrupsi rantai pasok yang sudah menurun, namun belum pulih secara optimal. Tekanan terhadap rantai pasok global akibat Covid-19 menyebabkan kemacetan di masing-masing mata rantai pasokan, seperti kontainer, pengiriman, pelabuhan, truk, kereta api, angkutan udara, hingga gudang.
Ketiga, perkembangan teknologi yang membuat diversifikasi produk semakin gencar dilakukan dengan berbagai penelitian. Salah satunya di bidang pangan, seperti produk pangan hasil rekayasa genetik.
Semakin beredarnya produk di pasaran yang menggunakan Genetic Modified Organism (GMO) dapat berdampak pada keamanan pangan bagi masyarakat sehingga dibutuhkan jaminan keamanan pangan.
Keempat, munculnya proteksionisme ekspor dan impor pangan oleh sejumlah negara.
Kelima, meningkatnya isu friend-shoring termasuk dalam perdagangan pangan global. Keenam, isu-isu lainnya seperti ketersediaan tenaga kerja sektor pertanian, perdebatan atas prioritas pangan, pakan, dan energy (feed-fuel-food debate), serta pengendalian gas rumah kaca.
“Friend-shoring meningkat sejak akhir tahun 2022 yang ditandai dengan reorientasi arus perdagangan bilateral untuk memprioritaskan negara-negara yang memiliki nilai politik serupa. Perang Ukraina, terputusnya saling ketergantungan perdagangan Amerika Serikat (AS)-Tiongkok, dan konsekuensi Brexit telah memainkan peran penting dalam membentuk tren utama perdagangan bilateral,” ungkap Kasan.
Lebih lanjut Kasan juga menjelaskan, perdagangan membawa kesejahteraan sebab berkontribusi terhadap ketahanan pangan, termasuk kemiskinan. Dengan demikian, diperlukan kebijakan dan strategi perdagangan pangan Indonesia yang tepat agar bisa berdampak signifikan pada peningkatan indeks ketahanan pangan Indonesia di masa mendatang.
“Gagasan para ekonom muda yang hari ini hadir diharapkan dapat melahirkan pemikiran dan perspektif baru yang diperlukan untuk penyusunan kebijakan dan strategi perdagangan pangan Indonesia di masa mendatang,” imbuh Kasan.(Reporter: Achmad Sholeh)

.jpg)

.jpg)
.jpg)











