- Polres Majalengka Bongkar 20 Kasus, 40 Tersangka Diciduk!
- Sinergi Tegakkan Keamanan, Babinsa Gandeng Komduk Patroli Malam.
- Menkop Tekankan Percepatan Reforma Agraria Berbasis Koperasi
- Menteri Maman Ajak Mahasiswa Jadi Problem Solver, Bukan Sekadar Pencari Kerja
- Kartu Huma Betang Sejahtera Diserahkan, Pemprov dan Pemkab Perkuat Perlindungan Masyarakat
- Wagub Kalteng Serahkan Bantuan Pangan untuk Warga Terdampak Karhutla di Barito Utara
- Tak Hanya Beri Kepastian Hukum, Sertipikasi Rumah Ibadah Tegaskan Eksistensi Jemaat Gereja.
- Layanan Pengukuran Terjadwal, Masyarakat Dapatkan Kepastian Waktu Ukur Tanah dengan Cepat.
- Waspada Bencana Hidrometeorologi, Sachrudin Minta Aparat Wilayah Lebih Sigap.
- Maulid Nabi Jadi Momentum Sinergi Ulama dan Umaro, Sachrudin: Bangun Kota dengan Kepedulian.
WFH Hemat BBM Disorot DPR : Ada Dugaan Manipulasi Kendaraan Dinas

Keterangan Gambar : Anggota DPR RI Komisi XII dari Fraksi PKS, Ir. H. Ateng Sutisna, MBA,
MEGAPOLITANPOS.COM JAKARTA - Kebijakan Work From Home (WFH) yang digadang-gadang mampu menekan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) kini menghadapi sorotan serius. Di balik narasi efisiensi energi, muncul isu yang lebih mengkhawatirkan potensi penyalahgunaan hingga manipulasi aset negara.
Anggota DPR RI Komisi XII dari Fraksi PKS, Ir. H. Ateng Sutisna, MBA, mengingatkan bahwa penghematan BBM tidak boleh mengabaikan aspek pengawasan. Ia menilai, tanpa kontrol ketat, kebijakan WFH justru bisa membuka celah baru kebocoran anggaran. Pernyataan tersebut disampaikan dikutip dari akun resminya, Rabu (15/04/2026).
"Penghematan BBM melalui WFH harus diiringi pengawasan aset negara," tegasnya.
Baca Lainnya :
- Polres Majalengka Bongkar 20 Kasus, 40 Tersangka Diciduk!
- PWI Majalengka Menggema, Doa untuk 8 Orang Hilang di Krakatau
- Koramil 04/Ciledug Turun Tangan, Pasar Lembang Dibersihkan dari Sampah.
- Dorong Semangat Warga Jaga Kamtibmas Babinsa Bersama Komduk Patroli Malam.
- Gelar Sosialisasi Percepatan Sertipikasi Tanah bagi MBR, Kejar Target 3 Juta Bidang.
Sorotan semakin tajam setelah muncul temuan praktik manipulasi kendaraan dinas. Ateng mengungkap adanya dugaan perubahan pelat kendaraan dari pelat merah menjadi pelat hitam, yang mengindikasikan lemahnya pengawasan dan potensi penyalahgunaan untuk kepentingan pribadi.
"Ditemukan praktik manipulasi pelat kendaraan dinas, dari pelat merah menjadi pelat hitam. Ini menjadi sinyal adanya krisis integritas dalam pengelolaan aset negara," ungkapnya.
Ia juga menyoroti penggunaan kendaraan dinas di luar kepentingan kedinasan, terutama saat akhir pekan panjang. Praktik ini dinilai bertentangan dengan semangat efisiensi energi yang sedang didorong pemerintah.
"Penggunaan kendaraan dinas untuk kepentingan pribadi, terutama saat akhir pekan panjang, berpotensi merusak tujuan efisiensi energi nasional," tambahnya.
Menurut Ateng, pola kerja WFH membuat pengawasan terhadap aset negara menjadi lebih kompleks. Tanpa sistem monitoring yang transparan dan berbasis teknologi, potensi penyalahgunaan akan semakin sulit dideteksi.
Isu ini berkembang di tengah tekanan pemerintah untuk menekan subsidi energi yang terus membengkak. Publik pun mulai mempertanyakan efektivitas kebijakan WFH apakah benar menghasilkan penghematan, atau justru memunculkan celah baru yang tak terlihat?
Sejumlah kalangan mendesak adanya audit menyeluruh serta penguatan sistem pengawasan aset negara selama kebijakan WFH diberlakukan. Transparansi dinilai menjadi kunci agar efisiensi tidak hanya menjadi slogan.
"Efisiensi harus tetap akuntabel. Jangan sampai penghematan di satu sisi, justru menimbulkan kebocoran di sisi lain," pungkasnya.
Di tengah upaya negara menahan laju konsumsi energi, peringatan ini menjadi alarm serius. WFH bisa jadi solusi, namun tanpa pengawasan ketat, ia juga berpotensi menjadi pintu masuk penyimpangan baru.


.jpg)
.jpg)












