- Pemkab Barito Utara Dorong Literasi Keuangan Syariah Lewat SICANTIKS 2026
- Bupati Shalahuddin Buka Kegiatan SICANTIKS 2026, Dorong Literasi Keuangan Syariah di Barito Utara
- TPAKD Jadi Kunci, Pemkab Barito Utara Percepat Akses Keuangan hingga Pelosok
- Pemkab Barito Utara Perkuat Sinergi Dorong Inklusi Keuangan Daerah
- KH Maman Imanulhaq : Jangan Mainkan Tiket Haji, Ini Soal Keadilan Umat!
- Kontroversi Pernyataan Saiful Mujani, Dinilai Provokatif dan Picu Perpecahan
- Kemenkop dan Kemensos Rencanakan Penerima PKH Jadi Karyawan KDKMP
- Warga Keluhkan Sulitnya Tanda Tangan Kades Kandawati dan Dugaan Jatah Rp1.200 per Meter
- Battle Mini Sound System Galang Dana Pembangunan Masjid Baitunnur
- Lepas Siswa Gen 64 MAN Barut, Bupati Tekankan Siap Hadapi Tantangan Global
KH Maman Imanulhaq : Jangan Mainkan Tiket Haji, Ini Soal Keadilan Umat!

Keterangan Gambar : Anggota DPR RI Komisi VIII, KH Maman Imanulhaq
MEGAPOLITANPOS.COM JAKARTA - KH Maman Imanulhaq angkat suara keras terkait wacana "war ticket haji" yang dinilai berpotensi menimbulkan polemik di tengah persiapan ibadah haji yang kian mendekati puncak.
Dalam Rapat Kerja Komisi VIII DPR RI bersama Menteri Haji dan Umrah di Gedung DPR RI, Selasa (14/4), Kiai Maman menegaskan bahwa seluruh pihak seharusnya fokus pada kesiapan layanan jemaah, bukan justru membuka wacana baru yang membingungkan publik.
"Kita sedang memasuki fase krusial persiapan haji. Jangan sampai muncul kebijakan yang justru memicu kebingungan di masyarakat," tegasnya dalam keterangan pers. Selasa, (14/04/2026)
Baca Lainnya :
- KH Maman Imanulhaq : Jangan Mainkan Tiket Haji, Ini Soal Keadilan Umat!
- Ahmad Nawawi Resmi Maju Calon Ketua Umum PB Mathla, ul Anwar 2026–2031
- H. Iing Misbahuddin Sebut Halal Bihalal PKS Wadah Satukan Visi Bangun Majalengka
- Halal Bihalal PKS Majalengka Dihadiri Bupati dan DPR RI, Seruan Langkung Sae Menguat
- Dinkes Absen dalam Audiensi, DPRD Majalengka Tegaskan Pentingnya Akuntabilitas Pengelolaan IPAL
Menurutnya, wacana "war ticket haji" berisiko merusak prinsip keadilan dalam sistem antrean yang selama ini dijaga ketat dan transparan. Ia menekankan, pengelolaan kuota haji harus tetap berpijak pada asas keadilan, akuntabilitas, dan keberpihakan kepada kelompok rentan.
Kiai Maman juga menyoroti persoalan mendasar yang selama ini dihadapi, yakni panjangnya antrean haji yang berdampak besar pada jemaah lanjut usia (lansia). Banyak di antara mereka yang harus menunggu bertahun-tahun hingga kondisi fisiknya tidak lagi optimal, bahkan ada yang wafat sebelum berangkat.
"Lansia yang sudah lama menunggu harus menjadi prioritas. Ini realitas yang tidak boleh diabaikan," ujarnya.
Ia pun mendorong pemerintah untuk memperkuat kebijakan afirmatif bagi lansia, termasuk penambahan kuota khusus secara proporsional, optimalisasi sistem prioritas berbasis usia dan masa tunggu, serta perbaikan sistem verifikasi agar tepat sasaran.
"Kebijakan haji bukan hanya soal teknis, tapi menyangkut keadilan sosial dan pelayanan ibadah. Negara harus hadir memastikan yang paling membutuhkan mendapat prioritas," pungkasnya.
Komisi VIII DPR RI, lanjutnya, akan terus mengawal kebijakan penyelenggaraan haji agar tetap berpihak pada kepentingan umat, khususnya kelompok rentan seperti lansia. ** (Agit)
















