- Hardiknas 2026 : Fajar Muh Shidik Gugat Pendidikan Baik atau Kita Terbiasa Rusak?
- Kadisdik Majalengka : Hayu Saekola Dorong Revolusi Lingkungan Sekolah melalui Geber
- Kecam Keras 9 Pasar di Kota Blitar Sepi, Disperindag Harus Buang Konsep Cara Lama
- Proyek Jaringan Irigasi Disorot, Dugaan Penyimpangan Menguat di Majalengka
- Digerebek di Parkiran Alfamart! Pengedar Obat Keras Ilegal Diciduk di Talaga
- Bupati Eman : Prestasi IPM 71,37 Tercapai, Tapi ATS Jadi PR Besar
- Gagal Kabur! Pencuri Motor Diringkus Warga Usai Kepergok Dorong Scoopy
- Ratusan Pil Obat Keras Digulung! Satres Narkoba Majalengka Bongkar Peredaran Ilegal di Kampung
- Kado Hardiknas dari Sekolah Ambruk, Bupati Eman Suherman : Momentum Bangkit dan Benahi Pendidikan
- Hardiknas 2026 : H Iing Misbahuddin Serukan Revolusi Pendidikan Berbasis Karakter!
Hardiknas 2026 : Fajar Muh Shidik Gugat Pendidikan Baik atau Kita Terbiasa Rusak?

Keterangan Gambar : Anggota DPRD Majalengka, Fajar Muh Shidik CH
MEGAPOLITANPOS.COM MAJALENGKA - Momentum Hari Pendidikan Nasional 2026 tak hanya diisi seremoni. Suara kritis justru mencuat dari ruang akademik. Fajar Muh Shidik, anggota DPRD Kabupaten Majalengka dari Komisi IV, melontarkan pertanyaan tajam yang menggugah kesadaran publik. Apakah pendidikan kita benar-benar baik-baik saja, atau kita hanya terbiasa dengan masalahnya?
Pernyataan itu disampaikan dalam akun resminya, Fajar saat menghadiri kegiatan akademik di lingkungan kampus di Majalengka, Sabtu (02/05/2026).
Dalam suasana yang khidmat namun penuh refleksi, ia menyoroti kondisi pendidikan yang kerap terlihat stabil di permukaan, namun menyimpan berbagai persoalan mendasar.
Baca Lainnya :
- Hardiknas 2026 : Fajar Muh Shidik Gugat Pendidikan Baik atau Kita Terbiasa Rusak?
- Kadisdik Majalengka : Hayu Saekola Dorong Revolusi Lingkungan Sekolah melalui Geber
- Kecam Keras 9 Pasar di Kota Blitar Sepi, Disperindag Harus Buang Konsep Cara Lama
- Digerebek di Parkiran Alfamart! Pengedar Obat Keras Ilegal Diciduk di Talaga
- Bupati Eman : Prestasi IPM 71,37 Tercapai, Tapi ATS Jadi PR Besar
"Jangan sampai kita merasa semuanya baik-baik saja, padahal kita hanya terbiasa dengan kekurangan yang terus berulang," tegas Fajar di hadapan mahasiswa dan civitas akademika.
Menurutnya, peringatan Hardiknas seharusnya menjadi momen evaluasi mendalam, bukan sekadar rutinitas tahunan.
Ia menekankan pentingnya membangun sistem pendidikan yang tidak hanya fokus pada capaian angka, tetapi juga kualitas karakter, daya pikir kritis, dan kesiapan generasi menghadapi tantangan zaman.
Fajar juga mengingatkan bahwa tantangan pendidikan saat ini semakin kompleks, mulai dari kesenjangan akses, kualitas pengajar, hingga adaptasi terhadap perkembangan teknologi. Jika tidak dibenahi secara serius, kondisi ini dikhawatirkan akan terus diwariskan sebagai "masalah yang dinormalisasi".
"Pendidikan adalah fondasi masa depan. Kalau fondasinya retak tapi kita anggap biasa, maka yang runtuh nanti adalah generasi," ujarnya.
Pernyataan tersebut langsung menyita perhatian peserta kegiatan. Banyak yang menilai kritik tersebut relevan dengan kondisi riil di lapangan, terutama di daerah.
Hardiknas 2026 pun menjadi lebih dari sekadar peringatan, ia berubah menjadi panggilan untuk berbenah. Sebuah pengingat bahwa pendidikan tidak boleh hanya tampak baik, tetapi harus benar-benar kuat, adil, dan berkualitas. ** (Agit)

















