- Demi Keselamatan dan Daya Saing, Iperindo Usulkan Transisi B50 Dilakukan Bertahap
- Peternak Rakyat Desak Evaluasi Impor Satu Pintu SBM, Harga Pakan Melonjak Rp2.000 per Kg
- 150 Massa di Majalengka Long March, Polisi Siaga Kawal Aksi Damai MBG
- Bupati Barito Utara Bacakan Amanat Presiden pada HUT ke-80 Bhayangkara
- Camat Palasah Bawa Kue ke Polsek, Momen Hangat Bhayangkara ke-80
- Rian Bakal Calon Ketum TheJak: Saatnya Manajemen Lebih Terbuka, TheJak Milik Kita Bersama Bukan Segelintir Orang
- Kantor Pertanahan Kabupaten Tangerang melaksanakan kegiatan Pembayaran Uang Ganti Rugi Pengadaan Tanah untuk pembangunan Jalan Tol Serpong–Balaraja Seksi 2A
- RDP dengan Komisi II DPR RI, Sekjen ATR/BPN Laporkan Capaian Pelaksanaan Tujuh Layanan Prioritas
- Sekjen ATR/BPN: Layanan Pertanahan Capai 8,4 Juta Berkas Setiap Tahunnya
- Jadi Pembicara di Diklat Pratama DPP GMPK, Menteri Nusron: Nasionalisme Menjadikan Bangsa yang Kuat
Bupati Eman : Prestasi IPM 71,37 Tercapai, Tapi ATS Jadi PR Besar

Keterangan Gambar : Bupati Majalengka, H Eman Suherman dan Wakil Bupati Majalengka Dena M Ramdhan
MEGAPOLITANPOS.COM MAJALENGKA - Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 di Kabupaten Majalengka berubah menjadi panggung refleksi tajam. Di satu sisi, prestasi membanggakan ditorehkan. Namun di sisi lain, fakta getir tentang ribuan anak yang belum mengenyam pendidikan justru mencuat ke permukaan.
Bupati Majalengka, Eman Suherman, saat bertindak sebagai pembina upacara di Lapangan GGM, Sabtu (2/5/2026), secara terbuka memaparkan dua wajah dunia pendidikan daerahnya dinilai kemajuan signifikan sekaligus tantangan serius yang belum terselesaikan.
Di hadapan Wakil Bupati, pimpinan DPRD, Forkopimda, hingga jajaran pendidikan, Eman mengungkapkan bahwa Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Majalengka tahun 2026 menembus angka 71,37 melonjak dibandingkan tahun 2024 dan menjadikan Majalengka sebagai daerah dengan IPM tertinggi di wilayah Ciayumajakuning.
Baca Lainnya :
- 150 Massa di Majalengka Long March, Polisi Siaga Kawal Aksi Damai MBG
- Camat Palasah Bawa Kue ke Polsek, Momen Hangat Bhayangkara ke-80
- RDP dengan Komisi II DPR RI, Sekjen ATR/BPN Laporkan Capaian Pelaksanaan Tujuh Layanan Prioritas
- Jadi Pembicara di Diklat Pratama DPP GMPK, Menteri Nusron: Nasionalisme Menjadikan Bangsa yang Kuat
- Modus Bantuan Masjid Tipu Warga di Majalengka, 4 Pelaku Ditangkap Kilat!
"Ini bukti nyata bahwa investasi di sektor pendidikan mulai membuahkan hasil," tegasnya.
Namun, pernyataan itu seketika diimbangi dengan fakta mencengangkan. Di tengah capaian tersebut, masih terdapat 10.374 Anak Tidak Sekolah (ATS) pada tahun ajaran 2025/2026.
"Ini pekerjaan rumah besar. Saya tidak ingin ada lagi anak Majalengka yang kehilangan haknya untuk sekolah," ujar Eman dengan nada tegas.
Data pendidikan 2026 memang menunjukkan tren positif. Rata-rata Lama Sekolah (RLS) meningkat menjadi 7,81 dari sebelumnya 7,53. Angka Partisipasi Murni (APM) PAUD mencapai 90,90 persen, SD/MI 90,79 persen, SMP/MTs 85,92 persen, serta Angka Partisipasi Kasar (APK) di angka 44,19 persen. Namun, angka ATS yang masih tinggi menjadi alarm keras bagi semua pihak.
Kepala Dinas Pendidikan Majalengka, Muhamad Umar Ma'ruf, menegaskan pihaknya akan bergerak cepat menindaklanjuti instruksi Bupati dengan strategi jemput bola.
"Kami akan memperkuat sinergi lintas sektor. Anak-anak yang putus sekolah harus kita tarik kembali ke sistem pendidikan," ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa peningkatan angka statistik belum cukup jika tidak diiringi kualitas lulusan yang kompetitif.
"RLS naik itu positif, tapi kualitas harus menjadi prioritas agar generasi kita mampu bersaing," tambahnya.
Sementara itu, Ketua Dewan Pendidikan Kabupaten Majalengka, Iman Pramudiya, memberikan catatan kritis. Ia menilai capaian IPM patut diapresiasi, namun persoalan ATS memerlukan penanganan luar biasa.
"Angka di atas 10 ribu itu tidak kecil. Ini harus ditangani secara masif dan kolaboratif," ujarnya.
Menurutnya, solusi tidak cukup hanya dari pemerintah. Keterlibatan masyarakat, dunia usaha, hingga tokoh lokal menjadi kunci untuk memutus rantai anak putus sekolah. Ia juga mendorong penguatan pendidikan nonformal sebagai jalur alternatif.
Hardiknas 2026 di Majalengka pun tak sekadar seremoni. Ia menjadi cermin keras di tengah prestasi yang membanggakan, masih ada ribuan anak yang tertinggal. Sebuah pengingat bahwa perjuangan pendidikan belum selesai dan tidak boleh berhenti. ** (Agit)

















