- KUMITRA Buka Akses Usaha Mikro Aceh ke Rantai Pasok Ritel
- Sri Rahayu Resmi Pimpin PDAM, Eman Soroti Pelayanan Air dan Kekompakan
- BNN RI dan Australian Federal Police Perkuat Kemitraan Brantas Jaringan Narkotika
- 638 Prajurit Satgas BGC TNI Konga 39-H MONUSCO Diberangkatkan Tugas Misi PBB ke Kongo
- Sambut HUT ke 81, KAI Ajak 607 Anak Panti Asuhan Naik Whoosh
- Cegah Kejahatan Malam, TNI Dan Komduk Intensifkan Patroli/Siskamling .
- Bupati Tangerang Sambangi Bayi Berpenyakit Jantung.
- Kementerian UMKM Integrasikan SAPA UMKM dengan InaExport untuk Perkuat Ekspor
- JPO Alun-alun Majalengka Mulai Dibangun, Bakal Jadi Ikon Baru Kota
- Iing Misbahuddin di Sadawangi, Kalimat Singkatnya Jadi Perhatian
Fenomena Rojali, Anis: Cermin Melemahnya Daya Beli Masyarakat

Keterangan Gambar : poto.istimewa
MEGAPOLITANPOS.COM, Jakarta— Anggota Komisi XI DPR RI Anis Byarwati menilai fenomena 'Rojali' atau rombongan jarang beli di pusat perbelanjaan atau mal merupakan gejala yang mencerminkan pergeseran perilaku konsumen di tengah tekanan ekonomi. Anis mengatakan fenomena ini menggambarkan situasi di mana masyarakat tetap berkunjung ke mal, namun enggan melakukan transaksi pembelian karena berbagai alasan, salah satunya melemahnya daya beli.
"Jika daya beli masyarakat menurun, prioritas belanja akan bergeser dari barang tersier ke kebutuhan pokok. Jadi, pengunjung tetap datang ke mal, tapi tidak dengan niat berbelanja, melainkan mungkin mencari hiburan atau sekadar _ngadem_," ujar Anis di Jakarta, Senin (28/7/2025).
Anis menjelaskan perubahan ini turut dipengaruhi transformasi konsep pusat perbelanjaan yang kini tidak hanya berfungsi sebagai tempat jual beli, tetapi juga sebagai ruang rekreasi dan sosial. Anis mengatakan mal telah menjadi destinasi hiburan, tempat makan bersama keluarga, hingga sarana bermain anak-anak, yang menjadikannya tetap ramai meski transaksi minim.
Baca Lainnya :
- Makna Kartini Masa Kini, DPR Soroti Pendidikan Perempuan dan Ketahanan Keluarga
- Anis Byarwati: Reformasi Pajak Harus Perluas Basis, Bukan Sekadar Digitalisasi
- Idul Fitri 2026: Perempuan Jadi Pilar Ekonomi Keluarga di Masa Sulit
- DPR Soroti Risiko Fiskal 2026, Program Makan Bergizi Gratis Bisa Disesuaikan
- Perkuat Pencegahan Stunting, Posyandu RW 03 Batu Ampar Terima Bantuan Sarana dari Dr. Anis Byarwati
"Ini adalah perubahan fungsi mal dari sekadar tempat transaksi menjadi ruang publik multifungsi," ucap Anggota legislatif dari daerah pemilihan (dapil) Jakarta Timur tersebut.
Anis juga menyoroti peran e-commerce dalam mendorong fenomena Rojali. Menurutnya, kehadiran platform belanja online membuat sebagian konsumen hanya menggunakan mal sebagai tempat untuk melihat-lihat dan mencoba barang secara langsung, sebelum akhirnya membeli secara online (daring) dengan harga lebih murah.
"Banyak konsumen kini menggunakan mal sebagai showroom fisik. Mereka melihat, mencoba, atau membandingkan produk di toko, lalu membelinya secara online karena seringkali lebih murah atau ada promo menarik," ucap Ketua Bidang Perempuan dan Keluarga (BIPEKA) DPP PKS tersebut.
Anis menegaskan kondisi ini menjadi tantangan bagi pengelola mal dan pelaku ritel. Menurut Anis, industri ini dituntut beradaptasi dengan strategi baru yang tidak semata-mata mengandalkan penjualan produk, melainkan juga menciptakan pengalaman belanja yang lebih menarik dan relevan bagi masyarakat.
"Mereka perlu memikirkan strategi baru yang tidak hanya berfokus pada penjualan barang, tetapi juga pada penciptaan pengalaman yang menarik, unik, dan relevan agar pengunjung merasa termotivasi untuk berbelanja," kata Anis.(Reporter: Achmad Sholeh Alek).

.jpg)

.jpg)
.jpg)










