- Sinergi Tegakkan Keamanan, Babinsa Gandeng Komduk Patroli Malam.
- Menkop Tekankan Percepatan Reforma Agraria Berbasis Koperasi
- Menteri Maman Ajak Mahasiswa Jadi Problem Solver, Bukan Sekadar Pencari Kerja
- Kartu Huma Betang Sejahtera Diserahkan, Pemprov dan Pemkab Perkuat Perlindungan Masyarakat
- Wagub Kalteng Serahkan Bantuan Pangan untuk Warga Terdampak Karhutla di Barito Utara
- Tak Hanya Beri Kepastian Hukum, Sertipikasi Rumah Ibadah Tegaskan Eksistensi Jemaat Gereja.
- Layanan Pengukuran Terjadwal, Masyarakat Dapatkan Kepastian Waktu Ukur Tanah dengan Cepat.
- Waspada Bencana Hidrometeorologi, Sachrudin Minta Aparat Wilayah Lebih Sigap.
- Maulid Nabi Jadi Momentum Sinergi Ulama dan Umaro, Sachrudin: Bangun Kota dengan Kepedulian.
- Pimpin Upacara Peringatan Harhubnas 2026, Bupati Tangerang Tandaskan Keselamatan Transportasi Bukan Sekadar Formalitas.
DPR Soroti Risiko Fiskal 2026, Program Makan Bergizi Gratis Bisa Disesuaikan

Keterangan Gambar : Anggota DPR RI, Anis Byarwati
MEGAPOLITANPOS.COM, Jakarta– Anggota DPR RI Anis Byawati menyatakan sepakat dengan ide Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang membuka opsi pemangkasan anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta penundaan sebagian belanja infrastruktur yang bersifat multi-years jika defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 berpotensi melampaui batas aman 3 persen.
Menurut Anis, langkah antisipatif tersebut perlu dipertimbangkan apabila lonjakan harga minyak mentah dunia akibat konflik geopolitik memicu pelebaran defisit fiskal.
“Defisit APBN kita memang sudah semakin mengkhawatirkan. Defisit APBN 2025 sebesar 2,96 persen saja merupakan yang tertinggi pasca era reformasi, dengan mengecualikan masa pandemi,” ujar Anis di sela-sela kegiatan reses anggota DPR RI di Jakarta.
Baca Lainnya :
- Gelar Sosialisasi Percepatan Sertipikasi Tanah bagi MBR, Kejar Target 3 Juta Bidang.
- Kemenkop Fokus Perkuat KDKMP dan Tata Kelola Koperasi Nasional
- Nurhadi DPR RI: Keracunan Masal Puluhan Siswa di Blitar BGN, Dinas Kesehatan Investigasi Mendalam .
- Zenal Abidin Ikuti Doa dan Dzikir Bersama, Doakan Bogor Dijauhkan dari Bencana
- HUT ke-67 Pelopor, Adityawarman: Semoga Brimob Presisi Makin Solid dan Kuat
Anggota Badan Anggaran (Banggar) DPR RI itu menilai potensi kenaikan defisit tidak hanya dipicu oleh lonjakan harga minyak mentah dunia akibat konflik Iran–Israel–Amerika Serikat, tetapi juga dari asumsi penerimaan pajak dalam APBN 2026 yang dinilai terlalu tinggi.
Ia menjelaskan, target pertumbuhan penerimaan perpajakan sebesar 21,5 persen jauh di atas tingkat pertumbuhan natural yang berkisar sekitar 7,5 persen.
“Jika target penerimaan pajak meleset, maka pendapatan negara akan sulit mencapai target dan defisit APBN 2026 berpotensi melebihi 3 persen,” kata legislator dari Partai Keadilan Sejahtera tersebut.
Anis menilai opsi pemangkasan anggaran program Makan Bergizi Gratis cukup masuk akal mengingat besarnya alokasi dana program tersebut yang mencapai Rp335 triliun. Selain itu, lembaga pemeringkat global Fitch Ratings juga menyoroti program tersebut karena dinilai berpotensi menekan belanja negara dan memperlebar defisit fiskal.
Ia menambahkan, pemerintah sebelumnya juga telah melakukan simulasi risiko (stress test) terhadap kemungkinan kenaikan harga minyak dunia hingga menyentuh rata-rata 92 dolar AS per barel per tahun akibat eskalasi konflik global.
Sebagai anggota Komisi XI DPR RI, Anis mengingatkan bahwa potensi pelebaran defisit, baik dari faktor internal maupun eksternal, harus diantisipasi sejak dini oleh pemerintah.
“Sebelumnya Moody’s Investors Service juga menyoroti risiko fiskal dan defisit APBN, serupa dengan Fitch Ratings yang memproyeksikan defisit anggaran sekitar 2,9 persen pada 2026, di atas target APBN sebesar 2,69 persen,” ujarnya.
Ia menegaskan, apapun opsi kebijakan yang diambil pemerintah harus memiliki dampak paling minimal terhadap masyarakat.
Menurutnya, menaikkan administered price atau harga yang diatur pemerintah seperti BBM, LPG, maupun tarif listrik justru berpotensi semakin menekan daya beli masyarakat yang hingga kini belum sepenuhnya pulih.
“Karena itu pilihan menyesuaikan program diyakini lebih rasional, seperti memangkas anggaran program MBG dan menunda sebagian belanja infrastruktur yang bersifat multi-years,” pungkasnya.(Reporter: Achmad Sholeh Alek).


.jpg)
.jpg)












