- Bupati Majalengka Beberkan Hasil Paripurna APBD 2026, Dana Tetap Aman
- APBD Majalengka 2026 Naik Jadi Rp 3,14 Triliun, Ini Rincian Anggarannya
- Persib Gagal Juara, Ateng Sutisna Ajak Bobotoh Tetap Solid dan Bermartabat
- Bupati Majalengka Ajak Ribuan Bobotoh Doakan Persib Juara Piala Presiden 2026
- Ateng Sutisna Satukan Ribuan Bobotoh, Nobar Final Persib di Majalengka Meriah
- SIAL Food & Drinks Indonesia 2026 Perkuat Posisi Indonesia sebagai Hub Pangan dan Perdagangan Global
- Kapolres Majalengka Ajak Bobotoh Junjung Sportivitas Saat Nobar Persib vs Persebaya
- Munjirin Panen Padi Ciherang di Cakung, Urban Farming Bali Lestari Hasilkan 10 Ton Gabah
- PTPN I Ubah Aset Jadi Mesin Pertumbuhan, Cafe dan Gerai Produk Hilir Segera Hadir
- PWHI Kota Tangerang Minta Dugaan Intimidasi terhadap Jurnalis Diproses Sesuai Hukum
DPR Soroti Risiko Fiskal 2026, Program Makan Bergizi Gratis Bisa Disesuaikan

Keterangan Gambar : Anggota DPR RI, Anis Byarwati
MEGAPOLITANPOS.COM, Jakarta– Anggota DPR RI Anis Byawati menyatakan sepakat dengan ide Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang membuka opsi pemangkasan anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta penundaan sebagian belanja infrastruktur yang bersifat multi-years jika defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 berpotensi melampaui batas aman 3 persen.
Menurut Anis, langkah antisipatif tersebut perlu dipertimbangkan apabila lonjakan harga minyak mentah dunia akibat konflik geopolitik memicu pelebaran defisit fiskal.
“Defisit APBN kita memang sudah semakin mengkhawatirkan. Defisit APBN 2025 sebesar 2,96 persen saja merupakan yang tertinggi pasca era reformasi, dengan mengecualikan masa pandemi,” ujar Anis di sela-sela kegiatan reses anggota DPR RI di Jakarta.
Baca Lainnya :
- APBD Majalengka 2026 Naik Jadi Rp 3,14 Triliun, Ini Rincian Anggarannya
- Nurhadi Anggota Komisi IX DPR RI Getol Kritisi Oknum Nakes yang Terlantarkan Pasien BPJS
- Endro Hermono Anggota Komisi VIII DPR-RI Sosialisasikan Keuangan Ibadah Haji Praktis Cepat dan Terjangkau
- Bupati dan DPRD Sambut JPO Hibah Boy Thohir, Majalengka Bersolek
- Pari Purna DPRD Kota Blitar Pilih Sabotase Absen, Ini Alasannya
Anggota Badan Anggaran (Banggar) DPR RI itu menilai potensi kenaikan defisit tidak hanya dipicu oleh lonjakan harga minyak mentah dunia akibat konflik Iran–Israel–Amerika Serikat, tetapi juga dari asumsi penerimaan pajak dalam APBN 2026 yang dinilai terlalu tinggi.
Ia menjelaskan, target pertumbuhan penerimaan perpajakan sebesar 21,5 persen jauh di atas tingkat pertumbuhan natural yang berkisar sekitar 7,5 persen.
“Jika target penerimaan pajak meleset, maka pendapatan negara akan sulit mencapai target dan defisit APBN 2026 berpotensi melebihi 3 persen,” kata legislator dari Partai Keadilan Sejahtera tersebut.
Anis menilai opsi pemangkasan anggaran program Makan Bergizi Gratis cukup masuk akal mengingat besarnya alokasi dana program tersebut yang mencapai Rp335 triliun. Selain itu, lembaga pemeringkat global Fitch Ratings juga menyoroti program tersebut karena dinilai berpotensi menekan belanja negara dan memperlebar defisit fiskal.
Ia menambahkan, pemerintah sebelumnya juga telah melakukan simulasi risiko (stress test) terhadap kemungkinan kenaikan harga minyak dunia hingga menyentuh rata-rata 92 dolar AS per barel per tahun akibat eskalasi konflik global.
Sebagai anggota Komisi XI DPR RI, Anis mengingatkan bahwa potensi pelebaran defisit, baik dari faktor internal maupun eksternal, harus diantisipasi sejak dini oleh pemerintah.
“Sebelumnya Moody’s Investors Service juga menyoroti risiko fiskal dan defisit APBN, serupa dengan Fitch Ratings yang memproyeksikan defisit anggaran sekitar 2,9 persen pada 2026, di atas target APBN sebesar 2,69 persen,” ujarnya.
Ia menegaskan, apapun opsi kebijakan yang diambil pemerintah harus memiliki dampak paling minimal terhadap masyarakat.
Menurutnya, menaikkan administered price atau harga yang diatur pemerintah seperti BBM, LPG, maupun tarif listrik justru berpotensi semakin menekan daya beli masyarakat yang hingga kini belum sepenuhnya pulih.
“Karena itu pilihan menyesuaikan program diyakini lebih rasional, seperti memangkas anggaran program MBG dan menunda sebagian belanja infrastruktur yang bersifat multi-years,” pungkasnya.(Reporter: Achmad Sholeh Alek).


.jpg)
.jpg)







1.jpg)





