- Bukti Peran Aktif Babinsa dan Komduk, Patroli Malam Wujudkan Lingkungan Aman.
- Pemkot Tangerang Wisuda 405 Siswa Sekolah Lansia Angkatan Kedua, Dorong Lansia Mandiri dan Berprestasi.
- Shalahuddin Tegaskan Pendataan dan Verifikasi Pelebaran Jalan Dilakukan Secara Cermat
- Pemkab Barito Utara Percepat Pelebaran Ruas Jalan Dalam Kota Muara Teweh
- 77 Ribu Aduan Bansos Menggunung, Dinsos Majalengka Disorot
- Kementerian UMKM Kembangkan Ekosistem Digital bagi UMKM Pascabencana
- Wamen UMKM: Kolaborasi Lintas Sektor Jadi Kunci Cetak Wirausaha Baru
- Jamaah Haji 2027 Dapat Subsidi Rp 3 Juta, Pelunasan Jadi Rp 23,24 Juta
- Hari Pramuka ke-65, Dandim 0506/Tgr Hadiri Upacara Kwarcab Tangsel.
- Jaga Jakarta On The Spot, Babinsa-Bhabinkamtibmas Bagikan Sembako kepada Warga.
WFH Dipertanyakan, DPR Angkat Suara : Hemat BBM atau Sekadar Ilusi Kebijakan

Keterangan Gambar : Anggota DPR RI, Ir. H Ateng Sutisna, M.BA
MEGAPOLITANPOS.COM JAKARTA - Kebijakan Work From Home (WFH) satu hari dalam sepekan yang digadang-gadang sebagai solusi penghematan energi kini menghadapi ujian serius. Di tengah tekanan global terhadap sektor energi, suara kritis datang dari parlemen.
Anggota DPR RI dari Fraksi PKS, Ir. H. Ateng Sutisna, M.BA melontarkan peringatan keras. Ia menilai kebijakan tersebut belum tentu efektif dalam menekan konsumsi bahan bakar minyak (BBM), bahkan berpotensi melenceng dari tujuan awal.
Dalam pernyataan yang diunggah pada Minggu (29/03/2026), H. Ateng menegaskan bahwa tanpa perhitungan yang matang, WFH justru bisa memicu pergeseran pola mobilitas. Aktivitas kerja yang berkurang bukan berarti konsumsi energi ikut turun sebaliknya, masyarakat bisa beralih ke aktivitas non esensial yang tetap menyedot BBM.
Baca Lainnya :
- 77 Ribu Aduan Bansos Menggunung, Dinsos Majalengka Disorot
- Jamaah Haji 2027 Dapat Subsidi Rp 3 Juta, Pelunasan Jadi Rp 23,24 Juta
- Jaga Jakarta On The Spot, Babinsa-Bhabinkamtibmas Bagikan Sembako kepada Warga.
- Polisi Turun Tangan, Harga Beras di Majalengka Dipantau Ketat
- Bank Jakarta Buka Peluang Duplikasi Program CSR Biodigester di Seluruh Wilayah
"Jika tidak dihitung dengan cermat, kebijakan ini hanya memindahkan pola konsumsi, bukan menguranginya," tegasnya.
Lebih dari sekadar angka konsumsi, ia menyoroti akar persoalan yang dinilai selama ini luput dari perhatian distribusi subsidi energi.
Menurutnya, fokus kebijakan seharusnya tidak berhenti pada pembatasan aktivitas, tetapi menyasar siapa yang benar-benar berhak menikmati subsidi tersebut.
"Masalah utamanya bukan sekadar berapa yang dikonsumsi, tetapi siapa yang menikmati subsidi itu," ujarnya tajam.
Tak hanya soal energi, dampak lanjutan dari kebijakan ini juga dinilai mengancam denyut ekonomi rakyat kecil.
Berkurangnya aktivitas perkantoran berpotensi memukul pelaku usaha di sekitar kawasan kerja dari pedagang kaki lima hingga warung makan yang selama ini bergantung pada mobilitas pekerja.
Desakan agar kebijakan ini dikaji ulang pun menguat. H. Ateng mengingatkan, kebijakan publik yang tidak berpijak pada realitas lapangan berisiko menjadi sekadar simbol, tanpa dampak nyata.
Di tengah situasi global yang belum stabil, peringatan ini menjadi sinyal bahwa langkah penghematan energi tidak bisa dilakukan setengah hati. Tanpa evaluasi menyeluruh, kebijakan seperti WFH justru bisa menjadi bumerang mengaburkan target, sekaligus meninggalkan persoalan baru di sektor ekonomi dan distribusi energi nasional. ** (Agit)





.jpg)




.jpg)





