- Tugas Nanggolo : PKDI Blitar Tolak Tawaran ADD Rp12,5 Miliar Dinilai Belum Menjawab Tuntutan
- Konsultasi Publik Pelebaran Jalan Digelar, Bupati Barito Utara Tegaskan Komitmen Pembangunan Infrastruktur
- Miss Jakarta Fair 2026 Usung Misi Pemberdayaan Perempuan, Gabriela Corrine Sugiharto Tampil sebagai Juara
- PM Singapura Lawrence Wong Disambut Presiden Prabowo, Leaders Retreat Perkuat Kemitraan Strategis
- Apel Pagi Pemkot Depok, ASN Diminta Aktif Sukseskan CKG dan Imunisasi Lengkap
- Batara Expo 2026 Resmi Ditutup, Bupati Apresiasi Partisipasi Masyarakat dan Pelaku UMKM
- Bupati Barito Utara Apresiasi Dedikasi Polri pada Syukuran Hut ke 80 Bhayangkara Tingkat Kabupaten Barito Utara
- Hadiri Syukuran Hari Bhayangkara, Nurul Anwar Apresiasi Pengabdian Polri pada Hari Bhayangkara ke-80
- Irjen Pol Wibowo Resmi Pimpin Korps Lalu Lintas Polri gantikan Irjen Agus Suryonugroho
- Hadiri Groundbreaking Lanjas, Hj Nety Herawati Harapkan Manfaat Besar bagi Warga
WFH Dipertanyakan, DPR Angkat Suara : Hemat BBM atau Sekadar Ilusi Kebijakan

Keterangan Gambar : Anggota DPR RI, Ir. H Ateng Sutisna, M.BA
MEGAPOLITANPOS.COM JAKARTA - Kebijakan Work From Home (WFH) satu hari dalam sepekan yang digadang-gadang sebagai solusi penghematan energi kini menghadapi ujian serius. Di tengah tekanan global terhadap sektor energi, suara kritis datang dari parlemen.
Anggota DPR RI dari Fraksi PKS, Ir. H. Ateng Sutisna, M.BA melontarkan peringatan keras. Ia menilai kebijakan tersebut belum tentu efektif dalam menekan konsumsi bahan bakar minyak (BBM), bahkan berpotensi melenceng dari tujuan awal.
Dalam pernyataan yang diunggah pada Minggu (29/03/2026), H. Ateng menegaskan bahwa tanpa perhitungan yang matang, WFH justru bisa memicu pergeseran pola mobilitas. Aktivitas kerja yang berkurang bukan berarti konsumsi energi ikut turun sebaliknya, masyarakat bisa beralih ke aktivitas non esensial yang tetap menyedot BBM.
Baca Lainnya :
- Gerindra Majalengka Gaspol Kaderisasi, 100 Calon Kader Dilepas
- Aspirasi Warga Tak Lagi Mandek, DPRD Majalengka Kebut Proyek Miliaran
- Aspirasi Warga Terealisasi 2026, Jembatan Cijurey Siliwangi Dibangun Rp 19 Miliar
- Camat Palasah Bawa Kue ke Polsek, Momen Hangat Bhayangkara ke-80
- Modus Bantuan Masjid Tipu Warga di Majalengka, 4 Pelaku Ditangkap Kilat!
"Jika tidak dihitung dengan cermat, kebijakan ini hanya memindahkan pola konsumsi, bukan menguranginya," tegasnya.
Lebih dari sekadar angka konsumsi, ia menyoroti akar persoalan yang dinilai selama ini luput dari perhatian distribusi subsidi energi.
Menurutnya, fokus kebijakan seharusnya tidak berhenti pada pembatasan aktivitas, tetapi menyasar siapa yang benar-benar berhak menikmati subsidi tersebut.
"Masalah utamanya bukan sekadar berapa yang dikonsumsi, tetapi siapa yang menikmati subsidi itu," ujarnya tajam.
Tak hanya soal energi, dampak lanjutan dari kebijakan ini juga dinilai mengancam denyut ekonomi rakyat kecil.
Berkurangnya aktivitas perkantoran berpotensi memukul pelaku usaha di sekitar kawasan kerja dari pedagang kaki lima hingga warung makan yang selama ini bergantung pada mobilitas pekerja.
Desakan agar kebijakan ini dikaji ulang pun menguat. H. Ateng mengingatkan, kebijakan publik yang tidak berpijak pada realitas lapangan berisiko menjadi sekadar simbol, tanpa dampak nyata.
Di tengah situasi global yang belum stabil, peringatan ini menjadi sinyal bahwa langkah penghematan energi tidak bisa dilakukan setengah hati. Tanpa evaluasi menyeluruh, kebijakan seperti WFH justru bisa menjadi bumerang mengaburkan target, sekaligus meninggalkan persoalan baru di sektor ekonomi dan distribusi energi nasional. ** (Agit)

















