- Gelaran Bersih Desa Rejowinangun Implentasikan Kerukunan Dalam Kebhinekaan Hakiki
- Pemkab Barito Utara Siapkan WPR Pasca Penertiban PETI
- Gen Z Majalengka Bersuara di Senayan, Sekolah Rusak Jadi Sorotan
- Polres Blitar Kota Ungkap Dugaan Tindak Pidana Perdagangan Orang Libatkan Anak di Bawah Umur
- BRI Life Perkuat Literasi Keuangan dan Proteksi Digital di Telkomsel Digiland Run 2026
- Siswa SMAN 28 Jakarta Antusias Sambut Program KEJAR DKI Jakarta Bersama Bank Jakarta
- Rapat Paripurna Bupati Majalengka Eman Suherman Soroti Kualitas Proyek, DPRD Bereaksi
- Menteri UMKM Apresiasi KURDA Bunga 0 Persen untuk Pengusaha UMKM Sragen
- Masuk Istana Negara, 500 Pelajar dan Mahasiswa Mengaku Terinspirasi Jadi Pemimpin Bangsa
- Kadis Kominfosandi, Pers Jadi Mitra Pembangunan dan Penjaga Demokrasi
Gelaran Bersih Desa Rejowinangun Implentasikan Kerukunan Dalam Kebhinekaan Hakiki

Keterangan Gambar : Gelaran Bersih Desa Rejowinangun Implentasikan Kerukunan Dalam Kebhinekaan Hakiki
MEGAPOLITANPOS.COM, Blitar - Ragam budaya warisan leluhur merupakan hal penting untuk selalu dijaga kelestariannya, sebuah kebhinekaan suku adat dan budaya harus tetap terpatri dari generasi ke generasi, seperti halnya yang dilakukan oleh masyarakat dan pemerintahan desa Rejowinangun Kecamatan Kademangan Kabupaten Blitar dalam ngleluri adat bersih desa.
Moment bersejarah atas berdirinya desa Rejowinangun sebagai prasasti menanamkan jiwa handarbeni ( Rasa Memiliki. Red ) memayu hayuning bawana, acara adat ini menjadi simbul rasa gotong royong masyarakat di Desa Rejowinangun, Kecamatan Kademangan, Kabupaten Blitar penuh khitmad dan sakral.
Bagas Wigasto Kepala Desa Rejowinangun menyampaikan, tahun 2026 ini Pemerintahan Desa Rejowinangun menggelar ritual bersih desa mengangkat tema “Merajut Kebersamaan dengan Ketulusan” dalam rangkaian kegiatan bersih desa digelar selama lima hari berturut-turut.
Baca Lainnya :
- Gelaran Bersih Desa Rejowinangun Implentasikan Kerukunan Dalam Kebhinekaan Hakiki
- Gen Z Majalengka Bersuara di Senayan, Sekolah Rusak Jadi Sorotan
- Polres Blitar Kota Ungkap Dugaan Tindak Pidana Perdagangan Orang Libatkan Anak di Bawah Umur
- Jelang Idul Adha 1447 H, Ketua Komisi II DPRD Kota Tangerang Imbau Warga Cermat Memilih Hewan Kurban
- Alokasi Dana Desa Sumber Untuk Ketahanan Pangan Kambing Sebesar 20 Persen
" Jadi tema ini dipilih sebagai bentuk ajakan kepada seluruh masyarakat agar terus menjaga kekompakan dan semangat gotong royong dalam kehidupan sosial maupun pembangunan desa Rejowinangun Gemati,"tuturnya.
Bersih desa agar dimaknai dengan nguri nguri adat bidaya, agar tidak luntur dengan kemajuan peradaban modern, sehingga bangsa ini akan kehilangan jati dirinya sebagai bangsa yang adi luhung, berbudi bowolaksna, menjunjung adat ketimuran.
" Dengan bersih desa ini kami ingin membangun kebersamaan masyarakat dengan kelembagaan desa. Jadi seluruh elemen desa saling bahu-membahu, baik dalam kegiatan sosial kemasyarakatan maupun kegiatan yang bersifat pemerintahan desa,” tutur Bagas.
Bagas menjelaskan, semangat kebersamaan itu selama ini menjadi kekuatan masyarakat Rejowinangun dalam menjaga kondusivitas desa sekaligus mendukung berbagai program pembangunan.
Ia menilai tradisi bersih desa bukan sekadar agenda budaya tahunan, namun juga menjadi ruang mempererat hubungan antarmasyarakat, perangkat desa, tokoh agama, hingga para sesepuh desa.
Rangkaian kegiatan bersih desa sendiri dimulai pada 25 April 2026 dengan kirab bendera panji yang diikuti warga dan elemen desa. Kirab tersebut menjadi simbol persatuan sekaligus penghormatan terhadap sejarah dan identitas desa.
Kegiatan kemudian dilanjutkan pada 26 April dengan kenduri massal di balai desa yang dihadiri masyarakat dari berbagai lingkungan. Suasana kebersamaan tampak ketika warga membawa makanan secara sukarela untuk dinikmati bersama.
Selanjutnya pada 27 April digelar tahlil bersama sebagai bentuk doa bersama untuk keselamatan dan keberkahan desa. Rangkaian spiritual kemudian diteruskan pada 28 April melalui kegiatan khotmil Quran di balai desa.
Puncak kegiatan berlangsung pada 29 April dengan pagelaran ruwat murwakala di balai desa yang menjadi bagian dari tradisi budaya Jawa sebagai simbol tolak bala dan harapan keselamatan bagi masyarakat desa.
Tak hanya itu, dalam momentum bersih desa tersebut, Kepala Desa bersama perangkat desa dan para sesepuh juga melaksanakan nyekar atau tabur bunga serta kirim doa ke makam para cikal bakal Desa Rejowinangun.
Tradisi itu dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada para leluhur yang dinilai memiliki jasa dalam membuka dan membangun Desa Rejowinangun hingga berkembang seperti saat ini.
Bagas berharap seluruh rangkaian bersih desa dapat semakin memperkuat rasa persaudaraan masyarakat serta menjaga nilai gotong royong yang selama ini menjadi ciri khas kehidupan warga Desa Rejowinangun.( za/mp )













