- TaniBot System: Inovasi PRSI Menuju Era Smart Farming di Indonesia
- Pengusaha Majalengka H. Memet Tasmat Berbagi dengan Wartawan Jelang Idul Fitri 2026
- Universitas Bandar Lampung Perkuat Kompetensi Guru Melalui Pelatihan Coding dan Robotik
- Semarak Ramadan, PWI Jaya Salurkan Ratusan Bingkisan untuk Yatim dan Dhuafa
- Anggota DPRD Barito Utara Hadiri Safari Ramadhan dan Peresmian Masjid Nurul Iman di Desa Lemo I
- Menkop Teken MoU dengan AL Jamiyatul Washliyah untuk Mengembangkan Usaha Melalui Koperasi
- Nurhadi Tekankan Pentingnya Deteksi Dini Dengan Rutin Skrining Kesehatan
- Operasi Keselamatan Lodaya 2026 Digelar, Ratusan Personel Amankan Majalengka
- DPR Dorong Percepatan Teknologi Pengolahan Sampah Usai Tragedi Bantargebang
- Bicarakan Digitalisasi Layanan Pertanahan di Universitas Udayana, Wamen Ossy: Bukan Sekadar Ganti Dokumen Kertas ke Digital
Proyek Pemkot Blitar Diduga Tidak Transparan Menjadi Sorotan Masyarakat

Keterangan Gambar : Proyek Pemkot Blitar Diduga Tidak Transparan Menjadi Sorotan Masyarakat
MEGAPOLITANPOS.COM Blitar - Proyek rehabilitasi saluran air di Jalan Madura Kelurahan Sananwetan kota Blitar, tengah menuai sorotan tajam. Pasalnya proyek yang nilainya dibawah 200 juta tersebut diduga sebagai pekerjaan siluman tanpa papan nama.
"Dari awal pelaksanaan proyek hingga hampir finishing tak nampak papan nama. Sehingga masyarakat tidak mendapatkan informasi, “ memang sejak awal proyek siluman dikerjakan kami warga tidak pernah melihat papan nama, yang mencantumkan berapa anggaranya,dari mana sumber dananya, tidak mengerti,” ujar Arifin.
Baca Lainnya :
- DPRD Kota Bogor Apresiasi BIIFest: ICMI Berhasil Gabungkan Syiar Agama dan Penguatan Ekonomi
- Hotel 88 Batu Licin Resmi Hadir Februari 2026: Pilihan Utama Menginap di Pusat Bisnis Tanah Bumbu
- Nekat Curi Baut KA, Pemuda Asal Kalimantan dibekuk Polisi
- DPRD Kota Bogor Libatkan Masyarakat Dalam Penyusunan Aturan
- Esgoji Inovasi Siapkan Generasi Muda Qur\'ani Berakhlaqul Karimah Sejak Dini.
Sisi lain terkait aturan, diungkapkan Eko (59) sesuai aturan, setiap proyek yang menggunakan uang negara wajib mencantumkan papan nama proyek berisi nama kegiatan, instansi pelaksana, sumber dana, nilai anggaran, dan waktu pelaksanaan. Di area proyek, tidak ditemukan papan informasi.
"Ya itu memang Peraturan Menteri Pekerjaan Umum (Permen PU) yang mengatur pemasangan papan nama proyek antara lain Permen PU No. 29/PRT/M/2006 tentang Persyaratan Teknis Bangunan Gedung dan Permen PU No. 12/PRT/M/2014 tentang Penyelenggaraan Sistem Drainase Perkotaan," ujarnya.
Selain itu menurutnya kewajiban ini juga didasarkan pada Peraturan Presiden (Perpres) No. 16 Tahun 2018 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah. Aturan turunan dari Permen PU dapat berupa Peraturan Gubernur setempat yang mengatur secara teknis dan detail. Yaitu sebagai berikut :
Menurutnya sebagai Dasar hukum adalah Peraturan Presiden Nomor 16 Tahun 2018 yang mengatur pengadaan barang/jasa pemerintah, termasuk kewajiban pemasangan papan nama proyek.
Kemudian Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Permen PUPR) Nomor 30 Tahun 2020, yang mengatur persyaratan teknis pemasangan papan nama gedung negara, termasuk ukuran dan isi.
Serta Permen PU No. 29/PRT/M/2006: Tentang Pedoman Persyaratan Teknis Bangunan Gedung, menjadi salah satu rujukan umum terkait papan nama proyek, dan Permen PU No. 12/PRT/M/2014 : Tentang Penyelenggaraan Sistem Drainase Perkotaan, juga mencakup kewajiban ini di sektor drainase.
Masih kata Eko, Gubernur atau pemerintah daerah dapat membuat peraturan turunan (misalnya : Peraturan Gubernur) untuk mengatur pemasangan papan nama proyek secara lebih spesifik sesuai kondisi daerah.
"Ketiadaan papan proyek bukan sekadar kelalaian teknis, tapi juga bentuk pelanggaran prinsip transparansi publik." Ujarnya.
Warga pun mulai geram dan menuding pemerintah setempat abai terhadap aturan main yang mestinya ditegakkan.
“Saya biasanya lewat sini akhirnya harus memutar kalau mau berangkat kerja. Kemarin sempat ditutup beberapa hari, sekarang sudah dibuka tapi ya macet pol jadinya,” keluh Hendri, warga Jalan Madura.
Kemarahan warga makin meluas karena proyek ini berdiri tepat di jalur utama menuju simpang lampu merah yang padat kendaraan.
“Kok ya sampai menutup jalan, padahal itu salah satu akses utama warga loh, Mas. Banyak juga toko, warung, dan usaha kecil yang kena dampaknya,” ujar warga lain yang enggan disebut namanya.
“Sekarang pun meski jalannya sudah dibuka, proyek itu bersebelahan dengan lampu merah. Ya jelas macet, apalagi pas jam berangkat dan pulang kerja,” imbuhnya geram.
Sementara itu Kepala Dinas PUPR Kota Blitar Erna Santi kepada media ini menyampaikan terimakasih.
"Ya, trimakasih pak...semoga semua pihak bisa memahami kondisi ini, agar pembangunan bisa berjalan dan selesai dengan baik," Kata Kadis PUPR Kota Blitar kepada media ini dihubungi melalui nomor ponselnya Senin (05/11/25). (za/mp)















