- PB. Formula: Hukum Cenderung Tajam Ke Bawah Tapi Tumpul Ke Atas
- Maruarar Siraid : Oktober BRI Segera Luncurkan Pinjaman KUR Tanpa Bunga untuk UMKM
- Kunjungan Menteri PKP Berkah untuk Warga Blitar, Tambah Kuota 444 Unit RTLH
- Gerindra Majalengka Gaspol Kaderisasi, 100 Calon Kader Dilepas
- Diskon Besar di Jakarta Fair 2026, Smart Lock hingga Perabot Rumah Dijual Mulai Rp10 Ribuan
- Aspirasi Warga Tak Lagi Mandek, DPRD Majalengka Kebut Proyek Miliaran
- Aspirasi Warga Terealisasi 2026, Jembatan Cijurey Siliwangi Dibangun Rp 19 Miliar
- Demi Keselamatan dan Daya Saing, Iperindo Usulkan Transisi B50 Dilakukan Bertahap
- Peternak Rakyat Desak Evaluasi Impor Satu Pintu SBM, Harga Pakan Melonjak Rp2.000 per Kg
- 150 Massa di Majalengka Long March, Polisi Siaga Kawal Aksi Damai MBG
Peternak Rakyat Desak Evaluasi Impor Satu Pintu SBM, Harga Pakan Melonjak Rp2.000 per Kg

Keterangan Gambar : Gelombang protes peternak rakyat kembali menguat seiring terus merosotnya harga ayam hidup
MEGAPOLITANPOS.COM, Jakarta – Gelombang protes peternak rakyat kembali menguat seiring terus merosotnya harga ayam hidup (live bird) di tingkat peternak dan meningkatnya biaya produksi. Dalam aksi yang digelar di depan Gedung BUMN, Jalan Merdeka Selatan, Jakarta, Senin (29/6/2026), puluhan peternak menuntut pemerintah segera mengevaluasi kebijakan impor bahan baku pakan, khususnya soybean meal (SBM), yang dinilai menjadi salah satu penyebab tingginya biaya produksi.
Para peternak menyampaikan bahwa kondisi usaha mereka semakin tertekan karena harga ayam hidup berada di bawah biaya pokok produksi (BPP), sementara harga pakan terus mengalami kenaikan.
Berdasarkan informasi yang dihimpun dari pelaku usaha, harga soybean meal yang sebelumnya berkisar Rp6.700 per kilogram kini telah mencapai sekitar Rp8.700 per kilogram. Kenaikan tersebut memunculkan pertanyaan di kalangan peternak mengenai efektivitas kebijakan impor bahan baku pakan melalui mekanisme satu pintu yang melibatkan PT Berdikari.
Baca Lainnya :
Dalam orasi aksi, para peternak mempertanyakan selisih harga bahan baku yang mencapai sekitar Rp1.900 hingga Rp2.000 per kilogram dibandingkan harga sebelumnya. Mereka meminta pemerintah bersama DPR RI membuka evaluasi terhadap pembentukan harga bahan baku impor beserta mekanisme distribusinya.
"Kami mempertanyakan impor satu pintu di PT Berdikari dengan selisih harga hampir dua ribu rupiah dari harga sebelumnya," ujar salah seorang peternak saat berorasi.
Menurut para peternak, kenaikan biaya pakan yang tidak diimbangi dengan perbaikan harga ayam hidup telah menyebabkan kerugian berkepanjangan. Situasi tersebut dikhawatirkan memicu panic selling, memperburuk harga ayam di pasar, serta mengancam keberlangsungan peternakan rakyat.
Solehudin, salah satu peternak yang mengikuti aksi, mengaku kondisi di lapangan semakin sulit.
"Yang kami rasakan di kandang sangat sederhana, pakan terus naik, sementara harga ayam terus turun," katanya.
Ia menjelaskan, peternak kini membeli pakan dengan harga lebih tinggi, namun harus menjual ayam di bawah biaya produksi.
"Kalau kondisi ini terus berlangsung tanpa ada penjelasan dan solusi, peternak kecil seperti kami yang pertama kali akan gulung tikar," ujarnya.
Sementara itu, Koordinator Lapangan aksi, Bagas, menegaskan bahwa peternak tidak mempersoalkan siapa pihak yang melakukan impor bahan baku. Yang mereka tuntut adalah transparansi serta evaluasi terhadap kebijakan impor satu pintu agar penyebab kenaikan harga di tingkat pengguna dapat diketahui secara terbuka.
Menurutnya, peternak juga mengusulkan pembentukan forum evaluasi bersama yang melibatkan Badan Pangan Nasional, Kementerian Pertanian, Kementerian BUMN, PT Berdikari, industri pakan, peternak rakyat, akademisi, dan DPR RI.
Forum tersebut diharapkan mampu menghasilkan kebijakan yang lebih transparan, efisien, dan berpihak pada keberlangsungan peternak rakyat.
"Bagi kami, persoalan ini bukan semata mengenai harga bahan baku, melainkan menyangkut keberlangsungan usaha, ketahanan pangan nasional, dan masa depan peternakan rakyat Indonesia," kata Bagas.
Melalui aksi tersebut, para peternak berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret agar beban kenaikan biaya produksi tidak terus dibebankan kepada peternak yang berada di ujung rantai usaha perunggasan.
"Kami tidak akan diam ketika biaya produksi terus naik. Selisih harga hampir Rp2.000 per kilogram harus dijelaskan secara terbuka kepada peternak dan publik. Negara tidak boleh membiarkan peternak rakyat terus menjadi pihak yang menanggung beban," tegas mereka.(AS/MP).


.jpg)
.jpg)
.jpg)











