- Ketua DPRD : Kehormatan Besar, Membaca Teks Proklamasi HUT RI ke 81
- KTH Blitar Marah Kerahkan Massa Gruduk Perhutani Tuntut Penyelesaian Masalah 90 Hari
- Sebanyak 19 Ribu keluarga Miskin PBP Kota Blitar Menerima Bantuan
- Dandim 0808 Blitar Usai Upacara HUT RI ke 81 Lanjut Ziarah ke Makam Bung Karno
- Kenakan Pita Hitam, 9 Ribu Personel Gabungan TNI Polri Kawal 47 Kegiatan Termasuk Demo di Jakarta
- Polda Metro Peduli Korban Gempa NTT, Kirim 12 Truk Bantuan Kemanusiaan
- Komisi Ii DPRD Kota Tangerang Apresiasi Program CKG
- Semangat Kemerdekaan Menggema di Barito Utara, Merah Putih Berkibar di Arena Tiara Batara
- Tutup Rangkaian Kegiatan Hut 8I RI Pemkab Barito Utara Gelar Resepsi dan Malam Ramah Tamah
- H.Parmana Setiawan dan Gun Sri Witanto Turut Hadiri Malam Resepsi Kenegaraan dan Ramah Tamah
Direktur Utama Bank Jakarta: Keamanan Siber Kunci Masa Depan Perbankan Digital
.jpg)
Keterangan Gambar : Bank Jakarta menempatkan penguatan keamanan siber (cyber security).
MEGAPOLITANPOS.COM, Jakarta– Bank Jakarta menempatkan penguatan keamanan siber (cyber security) sebagai salah satu prioritas utama dalam strategi transformasi digital perusahaan. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan sistem operasional, infrastruktur digital, serta perlindungan data nasabah tetap mampu menghadapi meningkatnya ancaman serangan siber di industri perbankan.
Direktur Utama Bank Jakarta, Agus Haryoto Widodo, mengatakan transformasi yang dijalankan perseroan tidak hanya bertujuan memperluas layanan dan meningkatkan pertumbuhan bisnis, tetapi juga memperkuat fondasi keamanan digital sebagai bagian dari tata kelola perusahaan.
"Ke depan, penguatan terhadap keamanan siber dan berbagai aspek keamanan digital akan menjadi bagian dari langkah yang akan kami jalankan berikutnya," ujar Agus usai bincang-bincang bertajuk Shaping the Next Era of Indonesia's Capital Market dalam Investor Day 2026 di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (30/6/2026).
Baca Lainnya :
- Pramono Anung Dukung Kolaborasi Bank Jakarta-Persija, Target Juara untuk 500 Tahun Jakarta
- Bukan Sekadar Sponsor, Bank Jakarta Bangun Kemitraan Strategis dengan Persija
- Ketum Asbanda Tekankan KUB Bukan Cuma Modal, tapi Sinergi IT dan SDM
- Kinerja BNI Melesat, Transformasi Digital dan BRAVE Jadi Motor Pertumbuhan
- JakOne Mobile Antar Bank Jakarta Raih Digital Excellence Awards 2026
Menurut Agus, Bank Jakarta tengah membangun fungsi dan bidang baru yang secara khusus menangani keamanan digital. Kehadiran unit tersebut diharapkan mampu meningkatkan mitigasi risiko sekaligus memperkuat perlindungan terhadap sistem teknologi informasi perusahaan.
Ia menegaskan, transformasi yang dilakukan tidak hanya berorientasi pada pengembangan bisnis, tetapi juga memastikan seluruh sistem pendukung, mulai dari transportasi data, identifikasi digital, hingga infrastruktur teknologi, memiliki tingkat keamanan yang semakin baik.
"Jadi tidak sekadar pengembangan bisnis, tetapi juga memastikan kami memiliki bidang yang mampu mengantisipasi berbagai persoalan, terutama yang berkaitan dengan keamanan siber," kata Agus.
Penguatan keamanan siber dinilai menjadi kebutuhan mendesak seiring semakin masifnya digitalisasi layanan keuangan. Selain menjaga kelancaran operasional perusahaan, investasi pada sistem keamanan juga menjadi faktor penting dalam melindungi data nasabah serta menjaga kepercayaan masyarakat terhadap layanan perbankan digital.
Di sisi lain, Agus menilai fundamental industri perbankan nasional hingga saat ini masih berada dalam kondisi yang kuat. Pertumbuhan kredit tetap positif, permodalan dan likuiditas terjaga, sementara rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) masih berada pada level yang relatif rendah.
Namun demikian, ia menilai tantangan industri saat ini bukan lagi terletak pada fundamental bisnis, melainkan perubahan lanskap industri yang berlangsung sangat cepat.
"Persoalannya sebenarnya bukan di fundamentalnya, tetapi medan permainannya berubah," ujarnya.
Menurut Agus, beberapa tahun terakhir sektor perbankan dihadapkan pada berbagai dinamika global, mulai dari pandemi Covid-19, konflik geopolitik, hingga perubahan kebijakan perdagangan internasional yang memengaruhi kondisi ekonomi dan perilaku pasar.
Selain itu, industri juga menghadapi tekanan meningkatnya biaya dana (cost of fund). Agus mengungkapkan bunga deposito dalam lelang dana antarbank bahkan sempat mencapai 11,5 persen, yang menjadi indikator meningkatnya biaya penghimpunan dana bagi industri perbankan.
Menghadapi berbagai tantangan tersebut, Bank Jakarta terus menjalankan transformasi secara menyeluruh melalui penguatan model bisnis, percepatan digitalisasi layanan, peningkatan manajemen risiko, pengembangan budaya kerja, hingga optimalisasi sistem keamanan siber sebagai fondasi utama pertumbuhan berkelanjutan di era perbankan digital.(AS/MP).

















