- KUMITRA Jambore 2026 Perkuat Kemitraan UMKM dan Rantai Pasok Nasional
- Lala Sunara Resmi Pimpin KONI, Target Porprov Jadi Prioritas
- PTPN III dan Baharkam Polri Resmi Kerja Sama, Pengamanan Aset Strategis Negara Diperkuat
- Pari Purna DPRD Kota Blitar Pilih Sabotase Absen, Ini Alasannya
- Bupati Eman Ajak KAHMI Bersatu, Kolaborasi Jadi Kunci Majalengka SAE
- Agung Nugroho, Direktur Jakarta Institute: Kemerdekaan Pers Indonesia Bukan Lagi Sensor Negara, Tapi Tekanan Ekonomi
- Sinergi Fiskal Moneter: Arah Baru Industri Jasa Keuangan
- Bupati Majalengka Ultimatum KONI Majalengka: Saatnya Bangkit Raih Prestasi
- Kapolda Metro dan Pangdam Jaya Sambangi Mako Korps Marinir
- Munjirin Minta FKDM Jakarta Timur Perkuat Deteksi Dini demi Menjaga Kondusivitas Wilayah
Indonesia Sampaikan Perkembangan Industri Pakaian Jadi dalam Dengar Pendapat Umum USITC

MEGAPOLITANPOS.COM, Washington DC– Atase Perdagangan Washington DC, Ranitya Kusumadewi menghadiri kegiatan dengar pendapat umum (public hearing) terkait investigasi daya saing ekspor pakaian jadi (apparel) dari sejumlah negara pemasok utama Amerika Serikat (AS).
Kegiatan yang diselenggarakan oleh United States International Trade Commission (USITC) ini dilaksanakan secara hibrida pada Senin (11/3). "Keikutsertaan Indonesia dalam kegiatan ini perlu dimanfaatkan untuk menyampaikan informasi terkait industri pakaian jadi Indonesia. Sehingga, dapat menjadi peluang untuk mendorong AS
Baca Lainnya :
- Wali Kota Blitar Raih Juara 3 Nasional Berkinerja Tinggi dari Mendagri
- Dari Dapur Nusantara ke Dunia: Tempe RI Resmi Ekspansi ke Chile
- Arab Saudi Larang Impor Unggas dan Telur dari Indonesia Mulai 1 Maret 2026
- Difasilitasi Kemendag, Dua UMKM Sukses Ekspor Perdana ke UEA
- ABPEDNAS Tegaskan Komitmen Transparansi Desa, Jaksa Agung Jadi Ketua Dewan Pembina
untuk meningkatkan sourcing produk pakaian jadi dari Indonesia,” ujar Ranitya.
Ranitya menjelaskan, investigasi dilakukan USITC berdasarkan permintaan US Trade
Representative (USTR) yang dilakukan pada lima negara, yaitu Indonesia, Bangladesh, Kamboja, India, dan Pakistan.
Dalam investigasi, USITC meminta negara-negara menyampaikan berbagai informasi berupa perkembangan perdagangan pakaian jadi ke AS, profil industri masing-masing negara, pola pangsa pasar dan perdagangan, serta informasi terkait lainnya. “Nantinya, penyampaian laporan investigasi ini akan disampaikan USITC ke USTR pada 30 Agustus 2024,” jelas Ranitya.
Dalam kegiatan dengar pendapat ini, Indonesia menyampaikan beberapa poin penting. Diantaranya, industri pakaian jadi Indonesia memegang peran penting sebagai pemasok global mengingat 70 persen produksi Indonesia diekspor, industri pakaian jadi Indonesia menawarkan kesempatan bisnis yang baik mengingat Indonesia terus mengembangkan industri berdasarkan inovasi dan teknologi, adanya perkembangan infrastruktur pendukung dan tersedianya tenaga kerja Indonesia berkualitas, serta upaya penerapan praktik bisnis yang baik dan berkelanjutan.
Selain itu, sektor pakaian jadi telah dijadikan salah satu sektor prioritas dalam peta jalan 'Making Indonesia 4.0'. "Mengingat pasar AS adalah pasar tujuan utama ekspor pakaian jadi Indonesia, kita perlu memperhatikan tren ke depan pasar AS yang menekankan pada kualitas dan aspek ethical business,” tutup Ranitya.
AS merupakan pasar terbesar bagi ekspor industri pakaian jadi Indonesia dengan nilai ekspor pada 2022 mencapai USD 5,47 miliar, mewakili 57.2 persen dari total ekspor pakaian jadi Indonesia ke dunia sebesar USD 9.58 miliar. Pakaian jadi merupakan salah satu ekspor utama Indonesia ke AS dengan tren peningkatan sekitar 3 persen antara 2018—2022.
Sementara itu, Indonesia merupakan negara sumber impor pakaian jadi ke-5 terbesar di AS dengan pangsa pasar 5,35 persen di bawah Tiongkok (21,34 persen), Vietnam (17,84 persen), Bangladesh (8,98 persen), dan India (5,76 persen).(Reporter: Achmad Sholeh Alek).

.jpg)















