- Bangun Kedaulatan Ekonomi, Menkop Dorong Kolaborasi Cendekiawan dan Koperasi
- Sejarah Baru Pramuka Majalengka, 545 Anggota Resmi Jadi Pramuka Garuda
- Kantah Kabupaten Tangerang Salurkan UGK Untuk Pembangunan KSCS, Dukung Manfaat Air Baku bagi Masyarakat
- Perkuat Budaya Antikorupsi, Kantah Kabupaten Tangerang Ikuti Workshop Integritas Bersama KPK
- Kantah Kabupaten Pandeglang Ikuti Workshop Integritas Bersama KPK Bangun Budaya Anti Korupsi
- Lima Hari Kades Sangkanhurip Sulit Ditemui, Warga Pertanyakan Pelayanan Desa
- Kementerian UMKM Lanjutkan Pendampingan Usaha bagi UMKM Aceh Pascabencana
- MUI Sesalkan Konser Andrea Bocelli di Indonesia Tetap Digelar
- DPRD Barito Utara Hadiri Pemakaman H Nadalsyah Koyem, Patih Herman Sampaikan Duka Mendalam
- HUT Humas Polri ke-75, Kapolres Majalengka Tegaskan Wartawan Saudara
Indonesia Sampaikan Perkembangan Industri Pakaian Jadi dalam Dengar Pendapat Umum USITC

MEGAPOLITANPOS.COM, Washington DC– Atase Perdagangan Washington DC, Ranitya Kusumadewi menghadiri kegiatan dengar pendapat umum (public hearing) terkait investigasi daya saing ekspor pakaian jadi (apparel) dari sejumlah negara pemasok utama Amerika Serikat (AS).
Kegiatan yang diselenggarakan oleh United States International Trade Commission (USITC) ini dilaksanakan secara hibrida pada Senin (11/3). "Keikutsertaan Indonesia dalam kegiatan ini perlu dimanfaatkan untuk menyampaikan informasi terkait industri pakaian jadi Indonesia. Sehingga, dapat menjadi peluang untuk mendorong AS
Baca Lainnya :
- Kementerian UMKM Integrasikan SAPA UMKM dengan InaExport untuk Perkuat Ekspor
- Wali Kota Blitar Raih Juara 3 Nasional Berkinerja Tinggi dari Mendagri
- Dari Dapur Nusantara ke Dunia: Tempe RI Resmi Ekspansi ke Chile
- Arab Saudi Larang Impor Unggas dan Telur dari Indonesia Mulai 1 Maret 2026
- Difasilitasi Kemendag, Dua UMKM Sukses Ekspor Perdana ke UEA
untuk meningkatkan sourcing produk pakaian jadi dari Indonesia,” ujar Ranitya.
Ranitya menjelaskan, investigasi dilakukan USITC berdasarkan permintaan US Trade
Representative (USTR) yang dilakukan pada lima negara, yaitu Indonesia, Bangladesh, Kamboja, India, dan Pakistan.
Dalam investigasi, USITC meminta negara-negara menyampaikan berbagai informasi berupa perkembangan perdagangan pakaian jadi ke AS, profil industri masing-masing negara, pola pangsa pasar dan perdagangan, serta informasi terkait lainnya. “Nantinya, penyampaian laporan investigasi ini akan disampaikan USITC ke USTR pada 30 Agustus 2024,” jelas Ranitya.
Dalam kegiatan dengar pendapat ini, Indonesia menyampaikan beberapa poin penting. Diantaranya, industri pakaian jadi Indonesia memegang peran penting sebagai pemasok global mengingat 70 persen produksi Indonesia diekspor, industri pakaian jadi Indonesia menawarkan kesempatan bisnis yang baik mengingat Indonesia terus mengembangkan industri berdasarkan inovasi dan teknologi, adanya perkembangan infrastruktur pendukung dan tersedianya tenaga kerja Indonesia berkualitas, serta upaya penerapan praktik bisnis yang baik dan berkelanjutan.
Selain itu, sektor pakaian jadi telah dijadikan salah satu sektor prioritas dalam peta jalan 'Making Indonesia 4.0'. "Mengingat pasar AS adalah pasar tujuan utama ekspor pakaian jadi Indonesia, kita perlu memperhatikan tren ke depan pasar AS yang menekankan pada kualitas dan aspek ethical business,” tutup Ranitya.
AS merupakan pasar terbesar bagi ekspor industri pakaian jadi Indonesia dengan nilai ekspor pada 2022 mencapai USD 5,47 miliar, mewakili 57.2 persen dari total ekspor pakaian jadi Indonesia ke dunia sebesar USD 9.58 miliar. Pakaian jadi merupakan salah satu ekspor utama Indonesia ke AS dengan tren peningkatan sekitar 3 persen antara 2018—2022.
Sementara itu, Indonesia merupakan negara sumber impor pakaian jadi ke-5 terbesar di AS dengan pangsa pasar 5,35 persen di bawah Tiongkok (21,34 persen), Vietnam (17,84 persen), Bangladesh (8,98 persen), dan India (5,76 persen).(Reporter: Achmad Sholeh Alek).


.jpg)













