- Operasi Laut Gabungan Sita 1,3 Ton Ketamine, Delapan Awak Kapal Asing Diamankan
- Pramono Anung Dukung Kolaborasi Bank Jakarta-Persija, Target Juara untuk 500 Tahun Jakarta
- Sambut HUT RI ke-81, Wali Kota Depok Sebar Ribuan Bendera Merah Putih
- Bukan Sekadar Sponsor, Bank Jakarta Bangun Kemitraan Strategis dengan Persija
- Yayasan Kreshna dan RS Husada Jakarta Resmi Bentuk Club Stroke di Usia ke-102 Tahun
- Bupati Lepas Kontingen Barito Utara Ikuti Jambore Nasional XII 2026 Cibubur, Jakarta
- Menteri UMKM Dorong APPI Perkuat Pasar Produk Dalam Negeri
- Pemkab Barito Utara Kaji Tiru Tata Kelola Pemerintahan ke Kulon Progo
- Bupati Barito Utara Hadiri Rakor Pemerintahan Desa/Kelurahan se-Kalteng 2026
- Kaji Tiru ke Bantul, Pemkab Barito Utara Dalami Inovasi Tata Kelola dan Pelayanan Publik
RSUD Mardi Waluyo Menjadi RSUD Plat Merah Terkotor di Blitar Paska Pemecatan Tenaga Kebersihan

Keterangan Gambar : Poto : Istimewa
MEGAPOLITANPOS. COM, Blitar - Kondisi RSUD Mardi Waluyo Kota Blitar pasca pemangkasan massal tenaga kebersihan menuai kecaman luas dari keluarga pasien. Rumah sakit yang seharusnya menjadi tempat pemulihan justru menimbulkan rasa tidak nyaman akibat kebersihan yang tak terawat. Sampah menumpuk di sejumlah titik, dan lingkungan pelayanan tampak jauh dari standar fasilitas kesehatan.
Pantauan di lapangan banyaknya tumpukan sampah di berbagai sudut rumah sakit. Sebagai contoh banyaknya sampah daun kering di area parkir. Situasi ini menimbulkan keresahan di kalangan pasien dan keluarga yang setiap hari harus beraktivitas di lingkungan tersebut.
“Saya kaget, ini rumah sakit tapi sampahnya dibiarkan menumpuk,” keluh Siti (45), salah satu keluarga pasien asal Kecamatan Sananwetan.
Baca Lainnya :
- Anto Febrianto Tantang Pemuda Majalengka : Mandiri dan Berani Kritik
- Interupsi PDIP Warnai Paripurna APBD Majalengka, Bupati Beri Penjelasan
- Bupati Majalengka Beberkan Hasil Paripurna APBD 2026, Dana Tetap Aman
- APBD Majalengka 2026 Naik Jadi Rp 3,14 Triliun, Ini Rincian Anggarannya
- Persib Gagal Juara, Ateng Sutisna Ajak Bobotoh Tetap Solid dan Bermartabat
Kondisi tersebut diduga kuat sebagai dampak langsung dari kebijakan pemangkasan massal tenaga kebersihan yang dilakukan manajemen rumah sakit. Jumlah petugas yang tersisa dinilai tidak sebanding dengan luas area RSUD Mardi Waluyo, sehingga kebersihan tak lagi tertangani secara optimal.
“Kami ini membawa orang sakit, bukan orang sehat. Kalau lingkungannya kotor begini, malah takut nambah penyakit,” tambah Siti.
Ironisnya, kebijakan efisiensi yang digembar-gemborkan justru mengorbankan aspek paling mendasar dalam layanan kesehatan. Kebersihan bukan sekadar estetika, melainkan syarat mutlak keselamatan pasien. Lingkungan rumah sakit yang kotor berpotensi meningkatkan risiko infeksi dan memperburuk kondisi pasien.
Seperti diberitakan sebelumnya, harapan puluhan tenaga kebersihan untuk memulai awal tahun dengan pekerjaan layak justru berubah menjadi kekecewaan mendalam. Mereka yang telah dinyatakan lolos seleksi dan bahkan mulai bekerja di RSUD Mardi Waluyo sejak Kamis (1/1/2026), mendadak menerima kenyataan pahit: status kelulusan mereka dibatalkan sepihak.
Keputusan itu disampaikan oleh PT Sasana Bersaudara Indonesia (SBI) melalui surat pengumuman resmi bernomor 002/PNG/SBI/I/2026, selaku perusahaan penyedia jasa tenaga kebersihan di rumah sakit tersebut.
Ironisnya, alasan pembatalan hanya disebut sebagai “kendala internal perusahaan” tanpa penjelasan rinci, transparan, dan masuk akal. Sebuah alasan yang dinilai tidak manusiawi, mengingat puluhan kepala keluarga telah menggantungkan hidup pada pekerjaan tersebut.
Sementara itu, Plt Direktur RSUD Mardi Waluyo, dr. Bernard Theodore Ratulangi, Sp.PK., menyatakan bahwa rumah sakit telah memberikan teguran kepada pihak perusahaan rekanan tersebut.
“Kami sudah menegur PT-nya. Kok bisa seperti itu. Tapi soal penggantian pekerja, kami tidak tahu. Kalau terkait titipan, saya tidak tahu sama sekali,” tegasnya.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak PT Sasana Bersaudara Indonesia belum memberikan klarifikasi. Upaya konfirmasi melalui pesan singkat dan sambungan telepon belum memperoleh respons.
Kisruh rekrutmen tenaga kebersihan ini kembali memunculkan sorotan terhadap tata kelola manajemen di RSUD Mardi Waluyo. Transparansi, profesionalitas, dan keadilan dalam proses penerimaan tenaga kerja kembali dipertanyakan.(za/mp )

















