- Tekan Blank Spot Internet, Diskominfosandi Barito Utara Perluas Program LINDA BATARA
- Wabup FelixTekankan Arah Pembangunan Daerah Pada Musrenbang Gunung Purei
- Dari Musrenbang Teweh Timur, Komitmen PKK Menguatkan Peran Keluarga
- Jaga Situasi Tetap Kondusif Babinsa Dan Komduk Patroli Malam, Warga Merasa Nyaman
- Ada Permainan Harga, Keamanan dan Mutu Pangan Jelang HBKN? Laporkan ke Hotline Satgas Saber
- Sekjen ATR/BPN Pastikan Perencanaan Anggaran Tahun 2026 Matang Sejak Awal
- Sosialisasikan Permen ATR/Kepala BPN 1/2026, Sekjen: Terapkan secara Terstruktur dan Menyeluruh
- Dari Rotan hingga Kuliner, TP PKK Barito Utara Dorong Produktivitas Warga Teweh Timur
- Jembatan Penghubung Warga di Majalengka Nyaris Putus, Warga Desa Mirat Bergerak Swadaya di Tengah Minim Bantuan
- PRSI dan Fakultas Teknik Unsada Matangkan Kerja Sama Program Robotika untuk Negeri
RSUD Mardi Waluyo Menjadi RSUD Plat Merah Terkotor di Blitar Paska Pemecatan Tenaga Kebersihan

Keterangan Gambar : Poto : Istimewa
MEGAPOLITANPOS. COM, Blitar - Kondisi RSUD Mardi Waluyo Kota Blitar pasca pemangkasan massal tenaga kebersihan menuai kecaman luas dari keluarga pasien. Rumah sakit yang seharusnya menjadi tempat pemulihan justru menimbulkan rasa tidak nyaman akibat kebersihan yang tak terawat. Sampah menumpuk di sejumlah titik, dan lingkungan pelayanan tampak jauh dari standar fasilitas kesehatan.
Pantauan di lapangan banyaknya tumpukan sampah di berbagai sudut rumah sakit. Sebagai contoh banyaknya sampah daun kering di area parkir. Situasi ini menimbulkan keresahan di kalangan pasien dan keluarga yang setiap hari harus beraktivitas di lingkungan tersebut.
“Saya kaget, ini rumah sakit tapi sampahnya dibiarkan menumpuk,” keluh Siti (45), salah satu keluarga pasien asal Kecamatan Sananwetan.
Baca Lainnya :
- Jembatan Penghubung Warga di Majalengka Nyaris Putus, Warga Desa Mirat Bergerak Swadaya di Tengah Minim Bantuan
- Tingkatkan Response Time, Komisi IV DPRD Kota Bogor Dorong Pengadaan Mobil Rescue Damkar
- Bocor Miliaran, DPRD Kota Bogor Soroti Pajak Parkir Alfamart dan Indomaret yang Hanya Rp35 Ribu Sebulan
- Mahasiswa Majalengka Dorong Kolaborasi Mitigasi Bencana Bersama DPRD dan BPBD
- Leuwimunding Majalengka Terobosan Transparansi Bansos Lewat Program Stiker Penerima Manfaat
Kondisi tersebut diduga kuat sebagai dampak langsung dari kebijakan pemangkasan massal tenaga kebersihan yang dilakukan manajemen rumah sakit. Jumlah petugas yang tersisa dinilai tidak sebanding dengan luas area RSUD Mardi Waluyo, sehingga kebersihan tak lagi tertangani secara optimal.
“Kami ini membawa orang sakit, bukan orang sehat. Kalau lingkungannya kotor begini, malah takut nambah penyakit,” tambah Siti.
Ironisnya, kebijakan efisiensi yang digembar-gemborkan justru mengorbankan aspek paling mendasar dalam layanan kesehatan. Kebersihan bukan sekadar estetika, melainkan syarat mutlak keselamatan pasien. Lingkungan rumah sakit yang kotor berpotensi meningkatkan risiko infeksi dan memperburuk kondisi pasien.
Seperti diberitakan sebelumnya, harapan puluhan tenaga kebersihan untuk memulai awal tahun dengan pekerjaan layak justru berubah menjadi kekecewaan mendalam. Mereka yang telah dinyatakan lolos seleksi dan bahkan mulai bekerja di RSUD Mardi Waluyo sejak Kamis (1/1/2026), mendadak menerima kenyataan pahit: status kelulusan mereka dibatalkan sepihak.
Keputusan itu disampaikan oleh PT Sasana Bersaudara Indonesia (SBI) melalui surat pengumuman resmi bernomor 002/PNG/SBI/I/2026, selaku perusahaan penyedia jasa tenaga kebersihan di rumah sakit tersebut.
Ironisnya, alasan pembatalan hanya disebut sebagai “kendala internal perusahaan” tanpa penjelasan rinci, transparan, dan masuk akal. Sebuah alasan yang dinilai tidak manusiawi, mengingat puluhan kepala keluarga telah menggantungkan hidup pada pekerjaan tersebut.
Sementara itu, Plt Direktur RSUD Mardi Waluyo, dr. Bernard Theodore Ratulangi, Sp.PK., menyatakan bahwa rumah sakit telah memberikan teguran kepada pihak perusahaan rekanan tersebut.
“Kami sudah menegur PT-nya. Kok bisa seperti itu. Tapi soal penggantian pekerja, kami tidak tahu. Kalau terkait titipan, saya tidak tahu sama sekali,” tegasnya.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak PT Sasana Bersaudara Indonesia belum memberikan klarifikasi. Upaya konfirmasi melalui pesan singkat dan sambungan telepon belum memperoleh respons.
Kisruh rekrutmen tenaga kebersihan ini kembali memunculkan sorotan terhadap tata kelola manajemen di RSUD Mardi Waluyo. Transparansi, profesionalitas, dan keadilan dalam proses penerimaan tenaga kerja kembali dipertanyakan.(za/mp )

















