- Wakil I dan Ketua BK DPRD Kota Bogor, Teruskan Aspirasi Masyarakat Kota Bogor ke Pusat
- Guntur Wahono : Car Free Day Blitar Wujudkan Pola Hidup Sehat dan Mengatrol UMKam
- Batara Swimming Club Dominasi Eksibisi Renang PORKAB Barito Utara 2025
- Natal Nasional 2025 Diadakan dengan Kesederhanaan: Donasi Murni Masyarakat Dialirkan untuk Korban Bencana, Pendidikan, dan Pembangunan Gereja
- Menkop Apresiasi KKMP Tukangkayu Kembangkan Produk Unggulan
- KNPI Barito Utara Salurkan Hasil Donasi untuk Korban Bencana Di Sumatera
- H. Nurul Anwar, Anggota DPRD Barito Utara: Kebijakan Parkir Gratis di Rumah Sakit Adalah Tindakan Nyata Membantu Masyarakat
- Hasrat, S.Ag, : Selaku Anggota DPRD Sangat Mendukung Pelaksanaan Festival Kuntau Menjadi Agenda Tahunan
- Anggota DPRD, Hj. Sri Neny Triana: Kita Ingin Pemuda Barito Utara Menjadi Pelopor Kemajuan
- BRI Life Gerak Cepat Bantu Korban Banjir-Longsor di Aceh, Sumut, dan Sumbar
Penguatan SDM Pertanian: Mahasiswa UNM Kembangkan Model Evaluasi Pelatihan Operator Traktor

Keterangan Gambar : swasembada pangan dan modernisasi pertanian hanya dapat dicapai melalui penguatan kualitas SDM.
MEGAPOLITANPOS.COM, Makassar — Upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) pertanian menjadi fokus penting Pemerintah Indonesia di tengah meningkatnya tuntutan global terhadap produktivitas dan ketahanan pangan. Kementerian Pertanian (Kementan) terus memperkuat sektor pertanian melalui pelatihan vokasional sebagai strategi kunci peningkatan kompetensi.
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman dalam berbagai kesempatan menegaskan bahwa swasembada pangan dan modernisasi pertanian hanya dapat dicapai melalui penguatan kualitas SDM.
“SDM adalah elemen krusial dalam pembangunan pertanian. Kita bertanggung jawab mencetak SDM berkualitas dan kompeten,” tegas Amran.
Baca Lainnya :
- Kementerian Pertanian Pastikan Bantuan untuk Korban Banjir Bandang di Sumatera Barat Segera Tersalurkan
- Pemerintah Salurkan Bantuan Pangan untuk Korban Banjir dan Tanah Longsor di Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh
- Sabang Kondusif Pasca Penyegelan 250 Ton Beras Ilegal, Warga Justru Beri Dukungan ke Aparat
- Instruksi Tegas Mentan: Semua Bantuan Pertanian Harus untuk Petani Gurem dan Berpendapatan Rendah
- Dewan Pers: Ada Pelanggaran Etik dalam Pemberitaan Sengketa dengan Menteri Pertanian
Ia menambahkan bahwa peningkatan kompetensi merupakan syarat utama dalam mendongkrak produktivitas dan kualitas pertanian nasional.
“Kemajuan pertanian kita sangat bergantung pada kemampuan dan kompetensi SDM. Karena itu, kami berkomitmen meningkatkan kemampuan SDM melalui pelatihan dan pendidikan berkualitas,” ujar Mentan.
Peneliti UNM Kembangkan Model Evaluasi Pelatihan Pertanian
Di tengah komitmen tersebut, Andi Amal Hayat Makmur, Mahasiswa Pascasarjana Universitas Negeri Makassar (UNM) sekaligus Ketua Kelompok Substansi Penyelenggaraan Pelatihan BPPSDMP Kementan, mendorong penyempurnaan model evaluasi pelatihan untuk meningkatkan efektivitas pendidikan vokasional di sektor pertanian.
Gagasannya dituangkan dalam disertasi berjudul “Pengembangan Model Evaluasi Peserta Pelatihan Pertanian (Studi Pelatihan Teknis Operator Traktor Roda 2)”, yang telah disahkan oleh Promotor Prof. Dr. Syahrul, M.Pd., dan Ko-Promotor Prof. Dr. Purnamawati, M.Pd.
Menurut Andi Amal, pelatihan harus menjadi instrumen peningkatan kapasitas kerja secara menyeluruh.
“Peningkatan kualitas SDM adalah faktor penentu percepatan pembangunan. Pelatihan harus mampu meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap kerja,” jelasnya.
Evaluasi Pelatihan Dinilai Terlalu Berbasis Tes Tertulis
Dalam penelitiannya, Andi Amal menemukan bahwa pelatihan vokasional Kementan melalui berbagai UPT masih terlalu menekankan evaluasi secara teoretis melalui pre-test dan post-test.
Padahal, pelatihan teknis—seperti operator traktor roda dua—membutuhkan penilaian keterampilan praktik yang sistematis.
“Keterampilan tidak diukur secara sistematis. Rencana pembelajaran masih bersifat generik dan belum berbasis hasil evaluasi awal,” ungkapnya.
Ia menilai kondisi ini menjadi hambatan bagi pencetakan tenaga kerja pertanian yang profesional, adaptif, dan berdaya saing tinggi.
Dorong Model Evaluasi Komprehensif dan Aplikatif
Melalui penelitian ini, Andi Amal menawarkan model evaluasi yang lebih komprehensif dengan mengukur aspek kognitif sekaligus psikomotorik. Model yang dikembangkan bukan untuk mengubah substansi pelatihan, melainkan menyempurnakan bagian yang masih lemah.
“Tujuan akhirnya menyediakan pedoman evaluasi yang jelas, sistematis, dan aplikatif,” ujarnya.
Ia berharap model evaluasi tersebut dapat menjadi standar bagi UPT Pelatihan Kementan di seluruh Indonesia.
Kontribusi untuk Modernisasi Pertanian
Andi Amal menyebut bahwa langkah Kementan dalam mengembangkan kurikulum berbasis kompetensi sudah berada pada jalur yang tepat. Oleh karena itu, penyempurnaan evaluasi menjadi bagian penting dalam mencetak SDM pertanian yang siap menghadapi tantangan modernisasi pertanian nasional.
“Harapan saya, hasil penelitian ini dapat membantu pemerintah dan lembaga pelatihan memastikan bahwa setiap peserta benar-benar memiliki kompetensi sesuai standar,” tutupnya. (Reporter: Achmad Sholeh Alek).

















