- Diskon Besar di Jakarta Fair 2026, Smart Lock hingga Perabot Rumah Dijual Mulai Rp10 Ribuan
- Aspirasi Warga Tak Lagi Mandek, DPRD Majalengka Kebut Proyek Miliaran
- Aspirasi Warga Terealisasi 2026, Jembatan Cijurey Siliwangi Dibangun Rp 19 Miliar
- Demi Keselamatan dan Daya Saing, Iperindo Usulkan Transisi B50 Dilakukan Bertahap
- Peternak Rakyat Desak Evaluasi Impor Satu Pintu SBM, Harga Pakan Melonjak Rp2.000 per Kg
- 150 Massa di Majalengka Long March, Polisi Siaga Kawal Aksi Damai MBG
- Bupati Barito Utara Bacakan Amanat Presiden pada HUT ke-80 Bhayangkara
- Camat Palasah Bawa Kue ke Polsek, Momen Hangat Bhayangkara ke-80
- Rian Bakal Calon Ketum TheJak: Saatnya Manajemen Lebih Terbuka, TheJak Milik Kita Bersama Bukan Segelintir Orang
- Kantor Pertanahan Kabupaten Tangerang melaksanakan kegiatan Pembayaran Uang Ganti Rugi Pengadaan Tanah untuk pembangunan Jalan Tol Serpong–Balaraja Seksi 2A
Ketua Bidang Perempuan PKS Dorong Kampus Bahas Isu Homoseksualitas Secara Objektif dan Menyeluruh

Keterangan Gambar : Ketua Bidang Perempuan dan Keluarga DPP PKS, Dr. Eko Yuliarti Siroj.( Foto Narsum).
MEGAPOLITANPOS.COM, Jakarta– Ketua Bidang Perempuan dan Keluarga DPP PKS, Dr. Eko Yuliarti Siroj, menyampaikan keprihatinannya terhadap narasi yang disampaikan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (UI) yang menyebut homoseksualitas sebagai sesuatu yang normal dan bukan penyimpangan.
Menurut Eko, perguruan tinggi merupakan ruang lahirnya pemikiran ilmiah yang seharusnya menghadirkan kajian secara utuh, objektif, dan bertanggung jawab. Ia menilai isu yang berkaitan dengan manusia, keluarga, dan masa depan peradaban tidak semestinya dipandang hanya dari satu sudut pandang.
"Sebagai seorang muslim, kami meyakini bahwa nilai-nilai kehidupan tidak hanya ditentukan oleh kesepakatan manusia yang dapat berubah mengikuti perkembangan zaman, tetapi juga berpijak pada tuntunan Allah SWT sebagai Pencipta manusia yang paling mengetahui fitrah, kebutuhan, dan jalan terbaik bagi kehidupan manusia," ujar Eko di Jakarta, Rabu (1/7/2026).
Baca Lainnya :
Eko menegaskan bahwa kebebasan akademik harus berjalan beriringan dengan tanggung jawab moral dan intelektual. Menurutnya, setiap narasi yang disampaikan kepada publik, khususnya oleh institusi akademik, perlu memberikan ruang bagi beragam perspektif, termasuk agama, budaya Indonesia, kesehatan masyarakat, serta dampaknya terhadap ketahanan keluarga.
Ia juga menyoroti berbagai kajian kesehatan masyarakat yang menunjukkan adanya tantangan kesehatan tertentu. Menurut Eko, data epidemiologi dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menunjukkan bahwa kelompok lelaki yang berhubungan seks dengan lelaki (LSL) memiliki risiko infeksi HIV dan sejumlah penyakit menular seksual yang lebih tinggi dibandingkan populasi umum. Karena itu, ia menilai fakta tersebut perlu menjadi bagian dari diskursus ilmiah dalam penyusunan materi edukasi.
Selain aspek kesehatan, Eko mengajak dunia akademik untuk mengkaji berbagai implikasi sosial, psikologis, budaya, serta ketahanan keluarga secara lebih komprehensif. Menurutnya, pembahasan mengenai orientasi seksual tidak cukup hanya dilihat dari perspektif penerimaan sosial, tetapi juga perlu mempertimbangkan nilai-nilai agama, norma budaya bangsa, dan tujuan pembangunan keluarga sebagai fondasi masyarakat Indonesia.
"Kampus memiliki tanggung jawab besar dalam membangun tradisi berpikir kritis. Karena itu, setiap isu yang sensitif hendaknya dikaji secara utuh, menghadirkan berbagai perspektif ilmiah, sosial, budaya, hukum, dan agama, sehingga mahasiswa memperoleh pemahaman yang seimbang dan tidak parsial," katanya.
Eko berharap seluruh sivitas akademika terus menjaga tradisi akademik yang objektif, terbuka terhadap dialog ilmiah, serta tetap menghormati nilai-nilai Pancasila, konstitusi, dan karakter religius masyarakat Indonesia. Menurutnya, perbedaan pandangan seharusnya menjadi ruang untuk memperkaya kajian ilmiah, bukan menghilangkan perspektif yang hidup dan diyakini masyarakat.(AS/MP).
















