- Menkop Perkuat Peran Koperasi Dalam Ekosistem Energi Terbarukan
- Legalitas dan Sertifikasi Jadi Kunci UMKM Naik Kelas, Kementerian UMKM Perkuat Ekosistem Usaha
- Bogor Bersih dari Angkot Tua, Pemkot Siapkan Langkah Peremajaan Armada
- Warga Modernland Mengeluhkan Jalan Rusak dan PSU Yang Belum Diserah Terima Ke Pemkot Tangerang
- DPMPTSP-KADIN Barito Utara Satukan Langkah Tarik Investasi,Hilirisasi Jadi Prioritas
- Hendi Resmi Dilantik, Sangkanurip Perkuat Mesin Pembangunan Desa
- Usia 19 Tahun, Kecamatan Sindang Tancap Gas Wujudkan Majalengka Sae
- DPRD Dorong Madrasah Jadi Alternatif Pendidikan Berkualitas dalam Program Sekolah Gratis
- Amankan Pengesahan Warga Baru PSHT Sebanyak 480 Personil Disiagakan
- Warisan Leluhur yang Tetap Hidup, Hajat Laut Pangandaran Dorong Pariwisata Daerah
Pedagang Mengeluh, Kios Terhalang Tumpukan Tanah Galian Drainase

Keterangan Gambar : Tumpukan material galian drainase di depan kios pedagang
MEGAPOLITANPOS. COM, Blitar- Alih alih pembangunan drainase di kota Blitar diduga menyengsarakan pedagang kecil, pasalnya adanya material galian tanah menggunung menutupi area depan toko milik warga, selain tumpukan pasir, dan coran beton yang berserakan kini menghiasi ruas Jalan Sedap Malam RT 2 RW 14, tepat di Kecamatan Kepanjenkidul, Kota Blitar.
Hal ini sangat dikeluhkan para pedagang kecil di sekitar Pasar Templek pembeli enggan belanja menjauh pilih belanja di tempat lain, akibatnya pendapatan anjlok drastis.
Proyek yang disebut-sebut sebagai pengelolaan dan pengembangan sistem drainase dengan nilai Rp197.074.000 itu kini dikerjakan oleh CV.Sakti Jaya. Dituturkan warga sekitar lokasi pembangunan saluran di sekitar pasar templek.
Baca Lainnya :
- Warga Modernland Mengeluhkan Jalan Rusak dan PSU Yang Belum Diserah Terima Ke Pemkot Tangerang
- Hendi Resmi Dilantik, Sangkanurip Perkuat Mesin Pembangunan Desa
- Usia 19 Tahun, Kecamatan Sindang Tancap Gas Wujudkan Majalengka Sae
- DPRD Dorong Madrasah Jadi Alternatif Pendidikan Berkualitas dalam Program Sekolah Gratis
- Amankan Pengesahan Warga Baru PSHT Sebanyak 480 Personil Disiagakan
Sisi lain juga diungkap salah satu pedagang sembako di tepi Jalan Sedap Malam sebut saja Supri, Dia beranggapan proyek ini bukan lagi soal gangguan sementara. Ia menyebutnya sebagai “musibah mengganggu pendapatan ekonomi bagi rakyat kecil.
“Bagaimana nggak anjlok pendapat kami, Kios saya ketutup galian, aksesnya terhalang. Pembelipun enggan mampir belanja, adanya proyek omzet turun drastis,"ujarnya.
Pemandangan serupa juga terlihat di deretan kios lain. Beberapa pedagang memilih menutup lebih awal karena tak sanggup menanggung kerugian. Sebagian lagi bertahan sambil berharap proyek segera rampung meski tanpa kepastian kapan.
“Kalau kios sebelah sampai dipasang jembatan darurat, Mas, buat aksesnya. Bahaya kalau nggak dibikinin ginian, bisa jatuh. Tapi ya tetap saja pelanggan banyak yang males mampir, pilih belanja di tempat lain yang nggak ada galiannya,” ujar seorang pedagang lain yang enggan disebutkan namanya.
Pada jam-jam sibuk, antrean kendaraan mengular hingga pertigaan Pasar Templek. Pengendara motor terpaksa naik ke trotoar, sementara mobil harus merayap pelan.
“Sudah seminggu ini kalau lewat sini pasti macet. Apalagi pagi-pagi, bisa setengah jam cuma buat lewatin satu ruas,” keluh Dedi, pengemudi ojek online.
“Kalau memang proyek pemerintah, ya harus jelas. Jangan dibiarkan begini, warga jadi korban semua,” tambahnya geram.
Ketika dikonfirmasi, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kota Blitar, Erna Santi, mengaku belum menerima laporan lengkap soal proyek tersebut.
“Kami ini menjalankan amanah pembangunan atas usulan dari masyarakat baik melalui musrenbang, hasil reses, hasil kajian, maupun prioritas daerah,” jelas Erna kepada awak media.
“Dampak pada proses pembangunan tentu ada, namun demikian pelaksana selalu kami arahkan untuk meminimalisir dengan dukungan semua pihak,” imbuhnya.
“Mudah-mudahan pembangunan berjalan lancar dan segera dapat diselesaikan,” pungkasnya.
Sayangnya, jawaban normatif itu justru mempertegas dugaan lemahnya pengawasan di lapangan.
Tak hanya di Jalan Sedap Malam, kondisi serupa juga muncul di Jalan Madura Kota Blitar. Di sana, proyek rehabilitasi saluran air berjalan tanpa papan nama dan tanpa kejelasan siapa pelaksananya. Warga menyebut proyek ini sebagai “proyek siluman” karena muncul tiba-tiba dan mengganggu aktivitas warga.
Para pekerja di lapangan pun hanya mengangkat bahu.
“Belum datang, Mas. Kami cuma disuruh kerja. Papan proyeknya belum tahu kapan dipasang,” ujar salah satu pekerja sambil menolak disebut namanya.
“Saya biasanya lewat sini akhirnya harus memutar kalau mau berangkat kerja. Kemarin sempat ditutup beberapa hari, sekarang sudah dibuka tapi ya macet pol jadinya,” ujar Hendri, warga Jalan Madura.
Situasi itu semakin menegaskan bahwa proyek-proyek “misterius” semacam ini tengah marak di Kota Blitar menyulut keresahan dan menumbuhkan kecurigaan publik. Pemerintah seolah menutup mata, sementara rakyat kecil harus menanggung debu, macet, dan kerugian. (za/mp)
















