- SIAL Food & Drinks Indonesia 2026 Resmi Dibuka, Hadirkan 500 Merek dari 16 Negara
- Kementerian UMKM dan PNM Segera Salurkan Pembiayaan Perempuan Prasejahtera Berbunga 8 Persen
- Hearing DPRD Barito Utara Hasilkan Dua Kesimpulan Penting, Percepatan Raperda P4GN dan Dukungan Anggaran
- Naruk Saritani Sepakat, Hasil Hearing P4GN Jadi Langkah Bersama Perangi Narkoba
- Dukung Relawan Antinarkoba, Taufik Minta Kesbangpol Rinci Kebutuhan Anggaran
- Wamendesa Dorong Produk Unggulan Desa Tembus Pasar Internasional.
- Sachrudin-Baznas, Perkuat Peran Masjid Melalui TBMM.
- Kementerian UMKM Salurkan Bantuan Alat Produksi untuk Pulihkan Usaha Pascabencana di Aceh
- Ekspor Makanan RI Tembus US$4,49 Miliar, 500 Merek dari 13 Negara Ramaikan SIAL 2026
- Bupati Hasbi Sambut Menhan Sjafrie di Lebak, Yonif TP 840 Diminta Dukung Pembangunan Daerah.
Hujan di Jatiwangi dan Harapan Baru UMKM

Keterangan Gambar : ilustrasi
MEGAPOLITANPOS.COM OPINI - Malam itu hujan turun deras di Jatiwangi, Majalengka. Di tengah guyuran hujan, Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman Maruarar Sirait tetap berdiri melepas truk genteng produksi UMKM bersama Bupati Majalengka Eman Suherman. Rabu, (11/03/2026)
Bagi sebagian orang, peristiwa itu mungkin hanya seremoni pelepasan 14 truk genteng. Tetapi bagi para pengrajin di Jatiwangi, momen itu terasa jauh lebih besar dari sekadar acara pemerintah.
Genteng yang dimuat ke truk-truk itu bukan hanya material bangunan. Ia adalah simbol kerja keras para pengrajin yang selama puluhan tahun menghidupi keluarganya dari tanah liat yang dibakar menjadi atap rumah.
Baca Lainnya :
- Nurhadi Anggota DPR RI : Perlancar Layanyan Kesehatan Serahkan Mobil Ambulan Untuk Pemdes Bacem.
- Pasien Puskesmas Bantarujeg Viral, Bupati Majalengka Evaluasi Total
- Kapolres Majalengka Bongkar Dua Kasus Pengeroyokan, Ini Kronologinya
- Hasil Pilkades Kebonjati Dipertanyakan, Warga Soroti Sistem QR Code
- Sejarah Baru Pramuka Majalengka, 545 Anggota Resmi Jadi Pramuka Garuda
Industri genteng Jatiwangi pernah berjaya, tetapi beberapa tahun terakhir menghadapi tekanan besar: permintaan menurun, persaingan produk pabrikan meningkat, dan pasar semakin tidak menentu.
Di tengah kondisi itu, program gentengisasi yang didorong pemerintah atas arahan Presiden Prabowo Subianto menghadirkan harapan baru. Gagasan dasarnya sederhana namun penting : pembangunan rumah rakyat tidak hanya membangun bangunan, tetapi juga menggerakkan ekonomi masyarakat di sekitarnya.
Jika setiap program perumahan menyerap produk UMKM lokal genteng, bata, kayu, hingga bahan bangunan lainnya maka pembangunan tidak hanya menghasilkan rumah, tetapi juga membuka lapangan kerja dan memperkuat ekonomi daerah.
Komitmen pembelian genteng hingga sekitar Rp 3 miliar memang bukan angka besar dalam skala proyek nasional. Namun bagi pengrajin Jatiwangi, angka itu berarti pesanan nyata, aktivitas produksi kembali berjalan, dan harapan bahwa industri tradisional mereka masih memiliki tempat di masa depan.
Tentu saja, tantangan tetap ada. UMKM juga harus mampu menjaga kualitas produk, meningkatkan standar produksi, dan menyesuaikan diri dengan kebutuhan pasar yang semakin kompetitif. Tanpa itu, peluang yang datang bisa saja tidak bertahan lama.
Namun malam hujan di Jatiwangi memberi pesan yang kuat: ketika pembangunan nasional memberi ruang bagi produk lokal, maka UMKM tidak lagi hanya menjadi penonton, tetapi ikut menjadi bagian dari roda pembangunan.
Dan mungkin dari genteng-genteng sederhana itulah, harapan ekonomi rakyat kembali disusun satu demi satu, seperti atap yang melindungi rumah-rumah di seluruh negeri. ** (Agit)
















