- Kakek Mujiran Resmi Bebas, PTPN I Tegaskan Komitmen BUMN Humanis
- Keluhan Pasien Meningkat, DPRD dan Pemkab Barito Utara Evaluasi Layanan RSUD dan BPJS
- Polemik Jabatan Ketua KONI Kota Blitar, Ini Kata Hendi Priono
- Pemerintah Siapkan 34 Aglomerasi Waste to Electricity, Depok dan Bogor Jadi Prioritas Pengolahan Sampah Modern
- Loyalitas Nasabah Diganjar Hadiah Mewah, BNI Kembali Hadirkan Rejeki wondr 2026
- Kementan Pastikan Pupuk Subsidi Tepat Sasaran Melalui Digitalisasi Data Petani
- Ketua Dewan Pembina PP MES Ma,ruf Amin Lantik Pengurus Masyarakat Ekonomi Syariah Periode 2026-2031
- Blok Masela Dikebut, Ateng Sutisna Ingatkan Ancaman Sosial
- Menkop Ajak Lulusan Universitas Trilogi Agar Jadi Motor Penggerak KDKMP
- BRI Life Gelar Pelepasan Tukik, Dukung Konservasi Penyu di Pantai Kuta Bali
H Ateng Sutisna : WFH Bukan Solusi Instan, Distribusi LPG Harus Dibenahi

Keterangan Gambar : Anggota Komisi XII DPR RI, H Ateng Sutisna. (dok. instagram)
MEGAPOLITANPOS.COM JAKARTA - Anggota DPR RI dari Fraksi PKS, Ateng Sutisna, melontarkan dua sorotan tajam terkait persoalan energi nasional. Wacana penerapan work from home (WFH) untuk menekan konsumsi BBM, serta berulangnya kelangkaan LPG 3 kilogram saat momentum Lebaran.
Pernyataan tersebut disampaikan melalui akun pribadi media sosialnya, dikutip pada Sabtu, (28/03/2025).
Dalam unggahannya, Ateng menilai wacana WFH satu hari dalam sepekan sebagai langkah yang perlu dikaji secara mendalam, bukan sekadar solusi instan. Ia menekankan bahwa kebijakan tersebut harus berbasis perhitungan matang agar benar-benar berdampak signifikan terhadap penurunan konsumsi bahan bakar minyak.
Baca Lainnya :
- Blok Masela Dikebut, Ateng Sutisna Ingatkan Ancaman Sosial
- Klarifikasi Terkait Viral Harga Tabung Gas 3 Kg di Koperasi Merah Putih Ciakar, Tangerang Banten
- Eman Suherman Gegerkan Aula, Baznas Bangun Harapan Warga
- Gen Z Majalengka Bersuara di Senayan, Sekolah Rusak Jadi Sorotan
- Pemda DKI Diminta Turun Tangan Atasi Kisruh Gedung Pasar Baru
"WFH bisa menjadi opsi, tapi harus dievaluasi secara komprehensif. Jangan sampai hanya jadi kebijakan simbolik tanpa dampak nyata terhadap penghematan energi," tegasnya.
Selain itu, Ateng juga menyoroti persoalan klasik yang kembali terulang setiap tahun, yakni kelangkaan LPG 3 kg terutama saat periode Lebaran. Ia menilai distribusi yang belum optimal menjadi akar persoalan yang harus segera dibenahi oleh pemerintah.
"Kelangkaan LPG 3 kg saat Lebaran ini bukan hal baru. Artinya ada yang tidak beres dalam sistem distribusi. Ini harus jadi perhatian serius," ujarnya.
Menurutnya, pemerintah perlu melakukan evaluasi menyeluruh terhadap rantai pasok energi bersubsidi, mulai dari distribusi hingga pengawasan di lapangan. Ia juga mendorong adanya transparansi dan akurasi data penerima subsidi agar penyaluran lebih tepat sasaran.
Sorotan ini muncul di tengah meningkatnya konsumsi energi nasional pasca-mudik Lebaran, di mana mobilitas masyarakat melonjak signifikan dan berdampak langsung pada kebutuhan BBM serta LPG.
Pengamat menilai, kombinasi antara kebijakan efisiensi seperti WFH dan pembenahan distribusi energi bisa menjadi kunci untuk meredam tekanan konsumsi nasional. Namun, tanpa eksekusi yang tepat, kedua isu ini berpotensi terus menjadi masalah berulang setiap tahun.
Pemerintah kini didorong untuk tidak hanya merespons secara jangka pendek, tetapi juga menyiapkan strategi jangka panjang guna menjaga stabilitas energi nasional di tengah dinamika global dan lonjakan kebutuhan domestik. ** (Agit)



.jpg)













