- Mendikdasmen: Pendidikan Tak Cukup Sekadar Angka, Karakter Bangsa Harus Dibangun
- Hadiri Hardiknas 2026, Ketua DPRD Barito Utara Perkuat Komitmen Pendidikan
- Bupati Barut Dalam Moment Hardiknas, Sekolah Jadi Pilar Integrasi Sosial Melalui Pendidikan Inklusif dan Holistik
- Hardiknas 2026 : Fajar Muh Shidik Gugat Pendidikan Baik atau Kita Terbiasa Rusak?
- Kadisdik Majalengka : Hayu Saekola Dorong Revolusi Lingkungan Sekolah melalui Geber
- Kecam Keras 9 Pasar di Kota Blitar Sepi, Disperindag Harus Buang Konsep Cara Lama
- Proyek Jaringan Irigasi Disorot, Dugaan Penyimpangan Menguat di Majalengka
- Digerebek di Parkiran Alfamart! Pengedar Obat Keras Ilegal Diciduk di Talaga
- Bupati Eman : Prestasi IPM 71,37 Tercapai, Tapi ATS Jadi PR Besar
- Gagal Kabur! Pencuri Motor Diringkus Warga Usai Kepergok Dorong Scoopy
Gerindra Kabupaten Blitar Tolak Manuver Politik Budi Arie Masuk Dalam Struktur

Keterangan Gambar : Tomi Gandhi Sasongko wakil ketua DPC Gerindra kabupaten Blitar nyatakan sikap menolak ketua Projo Budi Arie masuk struktur Gerindra.
MEGAPOLITANPOS.COM, Blitar - Sebuah pernyataan sikap keras penolakan seluruh kader partai berlambang burung Garuda Gerakan Indonesia Raya ( Gerindra ) atas kabar rencana bergabungnya Ketua Umum Projo, Budi Arie Setiadi, ke dalam kepengurusan Partai Gerindra, gelombang penolakan yang semakin santer di tingkat daerah, suara keberatan termasuk dari DPC Partai Gerindra Kabupaten Blitar yang menilai langkah tersebut berpotensi menimbulkan gejolak di internal partai.
Dikemukakan oleh Wakil Ketua DPC Partai Gerindra Kabupaten Blitar, Tomy Gandhi Sasongko bahwa rencana DPP menerima Budi Arie butuh pemikiran rasional, selain bukan hanya tidak tepat waktu, namun juga sangat melukai semangat para kader yang selama ini setia berjuang membesarkan partai dari bawah di setiap wilayah.
“Para kader menolak keras. Mereka berdarah-darah membangun Gerindra sejak awal berdiri, lalu tiba-tiba ada orang luar yang dulu justru dikenal dekat dengan kekuasaan dan sering berbeda haluan politik, kini ingin masuk ke struktur Gerindra. Ini membuat banyak kader kecewa,” tegas Tomy Gandhi, Sabtu (8/11/25) kepada awak media.
Baca Lainnya :
- Hardiknas 2026 : Fajar Muh Shidik Gugat Pendidikan Baik atau Kita Terbiasa Rusak?
- Kadisdik Majalengka : Hayu Saekola Dorong Revolusi Lingkungan Sekolah melalui Geber
- Kecam Keras 9 Pasar di Kota Blitar Sepi, Disperindag Harus Buang Konsep Cara Lama
- Digerebek di Parkiran Alfamart! Pengedar Obat Keras Ilegal Diciduk di Talaga
- Bupati Eman : Prestasi IPM 71,37 Tercapai, Tapi ATS Jadi PR Besar
Menurut Tomy, gelombang penolakan itu muncul bukan tanpa alasan. Bagi para kader di daerah, Gerindra adalah hasil perjuangan panjang dan loyalitas tanpa pamrih terhadap Ketua Umum Prabowo Subianto. Masuknya figur eksternal seperti Budi Arie, yang selama ini identik dengan Projo dan pemerintahan Jokowi, dinilai bisa merusak tatanan internal dan nilai perjuangan yang selama ini dijaga.
“Gerindra bukan tempat penampungan politik. jadi siapapun yang ingin bergabung harus melalui proses panjang, bukan langsung masuk ke pucuk kepengurusan. Kami ingin DPP mendengar suara kader di bawah, karena yang berjuang di lapangan ini bukan orang-orang instan,” tegas Tomi Gandhi Sasongko.
Bahkan Tomy juga menilai bahwa langkah politik menerima Budi Arie justru bisa menjadi bumerang bagi Gerindra sendiri. Ia mengingatkan bahwa partai saat ini tengah berada dalam posisi strategis pasca kemenangan Prabowo Subianto di Pilpres 2024, dan seharusnya menjaga soliditas internal, bukan menambah potensi konflik baru.
“Kami tidak menolak individu, tapi menolak manuver politik yang bisa mengoyak kesetiaan kader. Jangan sampai partai yang dibangun dengan keringat dan perjuangan ini kehilangan jati dirinya hanya karena kepentingan politik jangka pendek,” tegasnya.
Penolakan di Kabupaten Blitar ini bukan satu-satunya, setelah menyusul aksi penolakan kader di Kota Blitar. Suara serupa juga bergema dari berbagai DPC Gerindra di seluruh Indonesia. Para kader di akar rumput menilai, masuknya Budi Arie yang selama ini menjadi simbol loyalitas kepada Presiden Jokowi, akan menciptakan benturan ideologis di tubuh Gerindra yang dikenal konsisten dengan garis perjuangan nasionalis kerakyatan ala Prabowo.
Kini, bola panas berada di tangan DPP Gerindra. Apakah mereka akan tetap membuka pintu bagi Budi Arie, atau mendengarkan suara keras dari kader daerah yang menolak keras langkah tersebut. Yang jelas, penolakan ini menunjukkan bahwa di tubuh Gerindra, loyalitas dan perjuangan bukan sekadar slogan — tetapi garis merah yang tidak bisa ditawar. (za/mp)















