- PWHI Desak Bupati Indramayu Usut Dugaan Penyalahgunaan Gedung Desa Kertawinangun Untuk Ajang Karaoke dan Pesta Mira.
- Estafet Kepemimpinan di Tubuh TNI Bergulir Pangkogabwilhan Il Hadiri Sertijab Wapang TNI Dan Kasad.
- Elim Tyu Samba: Peringatan HUT ke-75 Presiden Prabowo Diwujudkan Lewat Tiga Aksi Nyata di Blitar.
- Maraknya Panti Pijat Esek Esek di Pasar Kemis, Tindakan APH Belum Maksimal
- Polres Barito Utara Gelar Subuh Keliling, Serap Aspirasi Jemaah Masjid Darul Aman
- Safari Jumat di Montallat, Shalahuddin Tinjau Infrastruktur dan Salurkan Bantuan Pendidikan
- Pastikan Wilayah Aman, Babinsa Dan Komduk Aktif Laksanakan Patroli Malam.
- PELATARAN Jadi Solusi Warga Urus Layanan Pertanahan di Akhir Pekan.
- Pastikan Infrastruktur Berkualitas, Bupati Shalahuddin Turun Langsung Tinjau Jalan Panglima Batur
- Program Asri DPC Gerindra Kabupaten Blitar Gelar Bersih Pantai Tambakrejo.
MUI : Bedah Buku JI Sampai NKRI Kerena Salah Pemahaman Dan Merasa Paling Benar

Keterangan Gambar : MUI
MEGAPOLITANPOS.COM, Tangerang - Ketua MUI, KH. Ahmad Bajuri Khotib, MA, menggambarkan bedah buku ini dengan cerita sahabat Nabi yaitu Ali bin Abi Tholib yang dibunuh oleh penghafal Quran karena salah pemahaman dan merasa paling benar.

KH. Ahmad Bajuri mengatakan melihat saudara kita yang salah dalam pemahaman agama, berbangsa dan bernegara ini juga sangat sedih dan harus kita selamatkan lalu tarik kembali kepangkuan Ibu Pertiwi upaya-upaya ini terus dilakukan.
Baca Lainnya :
- Maraknya Panti Pijat Esek Esek di Pasar Kemis, Tindakan APH Belum Maksimal
- Kwarcab Pramuka Majalengka Libatkan 808 Peserta dalam JOTA-JOTI 2026
- DPRD Kota Bogor Tinjau Trase Baru Batutulis, Progres Pembangunan Capai 84 Persen
- Kapolres Majalengka Ungkap Tiga Kasus Kriminal, Dugaan Kekerasan Seksual Anak Disorot
- PN Tak Berwenang Adili Sengketa Internal, PDIP Majalengka Tancap Gas Hadapi Pileg 2029
"Di Kota Tangerang masih ada ideologi-ideologi yang salah pemahaman dan merasa paling benar (red) terus tidak berhenti dan ini menjadi perjuangan MUI Kota Tangerang," ujarnya saat acara bedah buku bersama sejumlah tokoh agama, akademisi, dan aparat penegak hukum menggelar acara Bedah Buku “JI Sampai NKRI” di Aula Gedung MUI Kota Tangerang, Kamis (18/9).
Acara ini mengusung tema “Merawat Indonesia, Menuju Harmoni Bangsa” sebagai refleksi dan aksi nyata mewujudkan kota yang damai, inklusif, dan tangguh. Buku “JI Sampai NKRI” karya Dr. Sholahuddin mengulas dinamika Jemaah Islamiyah (JI) pasca Bom Bali 2002 hingga deklarasi pembubarannya pada 30 Juni 2024. Peristiwa ini dipandang sebagai deradikalisasi kolektif, yakni fenomena langka ketika sebuah kelompok bersenjata memilih meninggalkan jalan kekerasan.
Bedah buku ini menghadirkan penulis bersama sejumlah narasumber, antara lain Ust. Para Wijayanto (mantan Amir Jemaah Islamiyah), Brigjen Pol John Weynratt Hutagalung, S.I.K (Direktur Pencegahan), KH. Ahmad Bajuri Khotib, MA, Kombes Pol Dr. Raden M. Jauhari, S.H., S.I.K., M.Si., Dr. H. Muhamad Qustulani, MA.Hum, serta Dr. H. Muhammad Soleh Hapudin, M.Si.
Dalam paparannya, Sholahuddin menekankan bahwa transformasi JI terjadi melalui konflik panjang dengan aparat. Jika pada awalnya konflik bersifat resiprokal (saling balas serangan), maka pada dekade terakhir bergeser menjadi konflik respon. Alih-alih membalas dengan kekerasan, JI memilih jalur dakwah, pendidikan, dan pada akhirnya mengambil keputusan membubarkan diri.
“Ini momentum penting, bukan hanya bagi Indonesia, tapi juga dunia internasional. Tidak banyak organisasi teroris yang secara kolektif memutuskan meninggalkan ideologi kekerasan,” ujarnya.
Direktur Pencegahan, Brigjen Pol John Weynratt Hutagalung, S.I.K, dalam sambutan yang diwakili oleh AKBP Joko Dwi Harsono, S.I.K., M.Hum, menegaskan pentingnya kegiatan ini sebagai upaya memperkuat kolaborasi lintas elemen bangsa. “Bedah buku ini bukan hanya forum akademis, tetapi juga sarana membangun kesadaran bersama bahwa radikalisme dan terorisme dapat dilawan melalui pendidikan, dialog, dan penguatan nilai kebangsaan. Kami mendorong lahirnya agen-agen perdamaian dari masyarakat untuk menjaga keutuhan NKRI,” tegasnya.
Acara ini dihadiri lebih dari 250 peserta, terdiri dari tokoh lintas agama, pimpinan ormas, pengurus majelis taklim, Para Penyuluh Agama,pengurus DKM, mahasiswa, hingga forum kerukunan (FKUB, FKDM) dan unsur pemerintah daerah. Kehadiran mereka mencerminkan dukungan luas bagi upaya memperkuat moderasi beragama dan meneguhkan nilai-nilai kebangsaan.
Melalui kegiatan ini, MUI Kota Tangerang bersama Direktorat Pencegahan dan mitra strategis berharap lahir jejaring kolaborasi lintas elemen masyarakat dalam menangkal radikalisme serta memperkuat narasi kebangsaan. (WHY)

.jpg)

.jpg)




.jpg)







