Breaking News
- Dunia Pers Berduka: Sekjen PWI Zulmansyah Sekedang Meninggal Dunia di Jakarta
- Pelaku Pembunuhan Wanita di Serpong Utara Dibekuk Resmob PMJ Kurang dari 24 Jam
- Pramono Anung Tekankan Sinergi dan Ekspansi BUMD demi Jakarta Global City
- Dorong Peran BUMD DKI sebagai Pilar Ekonomi, Pemprov DKI Jakarta Gelar BUMD Leaders Forum
- Pemkab Barito Utara Komitmen Dukung Cegah Karhutla, Sekda Muhlis Hadiri Apel Siaga Karhutla 2026
- Polda Metro Bongkar 6 Lokasi Praktik Pengoplosan Gas Subsidi Beromzet hingga Miliaran Rupiah
- Kemnaker Gandeng TikTok, Perkuat Talenta Ekonomi Digital dan Buka Peluang Kerja Baru
- Kodim Tangerang Gelar Patroli Dialogis, Ajak Warga Bersatu Cegah Kriminalitas
- Koramil 01/Tgr Bersama Warga, Patroli Malam Ciptakan Keamanan Wilayah
- Kemanunggalan TNI dan Warga di Balik Pembangunan Jembatan Garuda Tangerang
Kusnadi : Kirab Tumpeng Agung Wujud Harmonisasi Antara Bumi Pertiwi, Manusia, dan Sang Pencipta

MEGAPOLITANPOS.COM, Blitar - Unjuk Syukur kepada Sang Hyang Widhi gelaran Kirab Tumpeng Agung di Blitar merupakan peradaban yang tak boleh dilupakan dari generasi ke generasi, warisan leluhur dengan adat budaya di Nusantara seperti pada acara Kirab yang digelar berbentuk arak arakan ini juga sebagai ungkapan rasa syukur atas limpahan kekayaan bumi Nusantara. Hal ini disampaikan oleh Kusdandi, S.H M.Hum Ketua DPD PDI Perjuangan Jawa Timur ketika menghadiri kirab budaya Tumpeng Agung pada Senin (27/06/22). Kirab Tumpeng Agung Nusantara “Gotong Royong 2022 adalah peringatan ynag ke sebelas dalam, kegiatan ini dilakukan juga dalam rangkaian Mahargya Candi Palah Penataran atau Peringatan Hari Jadi Candi Palah Penataran ke-825 yang diselenggarakan oleh Lembaga Pelindung dan Pelestari Budaya Nusantara (LP2BN). Sedangkan tema yang di ambil pada perayaan tersebut adalah “Kumambange Watu Item”, maknanya sebuah pekerjaan berat tak akan mungkin diselesaikan sendiri, Watu item atau batu hitam adalah bebatuan alam yang berwarna hitam dan berat bila dibanding batu gombong yang sering dijumpai di sungai. "Selaku pejabat pemerintah saya sangat mengapresiasi kepada segenap pihak utamanya generasi muda yang masih tetap peduli dan tetap mempertahankan khasanah budaya bangsa warisan leluhur, ujar Kusnadi. Sedangkan rangkaian Kirab Tumpeng Agung Nusantara “Gotong Royong” seperti yang dikwmukakan oleh Aris sugito selaku Panitia Penyelenggra menjelaskan acara kirab dimulai dari ritual Bedhol Kirab dengan membaca doa dan mantra-mantra di Situs Balekambang yang kemudian desa modangan Kecamatan Nglegok, usai pembacaan doa bersama para tokoh agama dan pemangku adat, acra dilanjutkan dengan parade arak arakan diiringi kesenian tradisional untuk menuju Candi Palah Penataran yang menempuh jarak kurang lebih sekitar 3 km.
"Penataan urutan peserta kirab dimulai dari Cucuk Lampah manggolo yudo (Jatayu), Damar Kambang, Pasukan Merah Putih, Cucuk Lampah (Jatayu), Damar Kambang, Pasukan Merah Putih, Mbok Ireng, Putri Domas, Tumpeng Agung, Tumpeng Hasil Bumi," ungkapnya.
Karena sekarang ini Kabulaten Blitar telah melewati masa pandemi Covid 19 dan sekarang menuju masa endemi, kirab budaya mendapat ansias tinggi masyarakat untuk menyaksikan jalanya kirab, yang memukai penonton ada beberapa paguyuban seni tradisional h
tari seribu barong yang menempati barisan paling belakang.
Kusnadi yang juga sebagai ketua DPRD Provinsi Jawa Timur juga menyampaikan pesan penting, bahwa Kirab Tumpeng Agung Nusantara yang konotasinya adalah sebabagai bentuk menghormati para leluhur yang telah mengajarkan nilai-nilai adiluhung, kegotongroyongan, dalam kebhinekaan jangan lekang oleh waktu, untuk menjaga nilai nilai itu pihaknya minta perhatian oleh semua pihak .
"Kegiatan Kirab Tumpeng Agung Nusantara di Blitar ini adalah suatu contoh dari pegiat budaya untuk menghargai dan mengenang para leluhur kita yang telah memberikan nilai-nilai budi pekerti luhur, misalnya semangat gotong royong, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, dibuktikan dengan adanya bangunan-bangunan bersejarah yang memiliki relief dan corak dengan kompleksitas yang luar biasa,” tuturnya.
Selanjutnya Kusnadi yang juga sebagai politisi dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI P ) juga menyebut sebagai bentuk melestarikan kebudayaan, gelaran acara yang diadakan setiap tahun ini juga dapat dijadikan sarana memupuk dan meningkatkan tali persaudaraan dan sebagai pengingat untuk menjaga keharmonisan utamanya bumi pertiwi, manusia, dengan Sang Kholiq,"tutup Kusnadi. (za/mp)

.jpg)















