- Pasien Puskesmas Bantarujeg Viral, Bupati Majalengka Evaluasi Total
- Kapolres Majalengka Bongkar Dua Kasus Pengeroyokan, Ini Kronologinya
- Hari Santri 2026, Nurul Anwar Ajak Santri Terus Belajar dan Berkarya
- Hari Santri 2026, Benny Siswanto Dorong Santri Berkontribusi bagi Kemajuan Daerah
- Hasil Pilkades Kebonjati Dipertanyakan, Warga Soroti Sistem QR Code
- Bangun Kedaulatan Ekonomi, Menkop Dorong Kolaborasi Cendekiawan dan Koperasi
- Sejarah Baru Pramuka Majalengka, 545 Anggota Resmi Jadi Pramuka Garuda
- Kantah Kabupaten Tangerang Salurkan UGK Untuk Pembangunan KSCS, Dukung Manfaat Air Baku bagi Masyarakat
- Perkuat Budaya Antikorupsi, Kantah Kabupaten Tangerang Ikuti Workshop Integritas Bersama KPK
- Kantah Kabupaten Pandeglang Ikuti Workshop Integritas Bersama KPK Bangun Budaya Anti Korupsi
Kasus Dugaan Peretasan Data Berujung LPSK, Kuasa Hukum Sebut Ada Persaingan Bisnis

Keterangan Gambar : Sejumlah mantan karyawan PT Importa Jaya Abadi melalui kuasa hukumnya mendatangi Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) untuk memohon perlindungan hukum
MEGAPOLITANPOS.COM, Jakarta, — Sejumlah mantan karyawan PT Importa Jaya Abadi melalui kuasa hukumnya mendatangi Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) untuk memohon perlindungan hukum terkait laporan dugaan tindak pidana Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) yang menjerat mereka.
Salah satu nama yang menjadi sorotan adalah Dharmawan Khadafi, yang dilaporkan oleh PT Importa Jaya Abadi ke Polres Sleman, Yogyakarta, pada Oktober 2024 lalu.
Dharmawan saat ini bekerja di perusahaan sejenis, PT Baja Tirta Sentosa, dan telah ditetapkan sebagai tersangka serta berstatus tahanan kota. Berkas perkaranya disebut telah dinyatakan lengkap atau P21 dan dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri Sleman.
Baca Lainnya :
- Di Ujung Indonesia, Pulau Kecil Terluar Dijaga dengan Kepastian Hukum Hak atas Tanah.
- Kabar Duka dari Dunia Hukum, Kamaruddin Simanjuntak Meninggal pada Senin Dini Hari
- Soal Video AI Prof Djokosoetono, Mintarsih: Tiga Pendiri Blue Bird Hilang
- Kisah Inspiratif Dwi Suswanti Raih Gelar Doktor, Meski Sang Ibu Tak Lulus SD
- Mintarsih Ungkap Hutang Blue Bird Taxi Lebih Dari Hartanya dan Aset Minus
Permohonan perlindungan ke LPSK diajukan oleh Silalahi And Partners Law Firm yang mewakili 10 orang klien, dengan dua nama lain yang turut disorot yakni Damar dan Agus Himawan.
Para klien dilaporkan dengan sangkaan Pasal 30 ayat (2) dan Pasal 32 ayat (2) UU ITE, terkait dugaan peretasan sistem dan pemindahan data elektronik milik perusahaan. Namun, tim kuasa hukum menilai penerapan pasal tersebut penuh kejanggalan.
Kuasa hukum menegaskan tidak terdapat bukti yang menunjukkan bahwa Damar maupun Agus Himawan pernah memerintahkan atau terlibat dalam dugaan pencurian maupun penyalahgunaan data perusahaan.
“Tidak ada bukti pemanfaatan data untuk kepentingan pihak ketiga, tidak ada penjualan data, dan tidak ada data yang diberikan ke kompetitor. Sampai hari ini, penyalahgunaan data itu tidak pernah terbukti,” ujar Sudirman Manalu, SH, kuasa hukum PT Baja Tirta Sentosa.
Lebih lanjut, Sudirman menduga perkara ini tidak berdiri semata sebagai kasus pidana, melainkan dipicu oleh persaingan bisnis, menyusul perpindahan hampir bersamaan 10 karyawan dari PT Importa Jaya Abadi ke PT Baja Tirta Sentosa.
Salah satu poin krusial yang dipersoalkan adalah tuduhan akses ilegal ke sistem komputer perusahaan. Menurut kuasa hukum, akses data dilakukan pada 10 Oktober, sementara pengunduran diri resmi klien baru berlaku pada 20 Oktober, sehingga pada saat itu klien masih berstatus sebagai karyawan aktif dengan hak akses sah.
“Jika seseorang masih bekerja dan memiliki akses resmi, lalu melakukan backup data, apakah itu otomatis menjadi tindak pidana? Di mana letak itikad buruknya?” ujar Sudirman.
Tim kuasa hukum juga menyebut adanya dugaan intimidasi dan rekayasa hukum selama proses pemeriksaan. Beberapa klien disebut merasa ditekan untuk memberikan keterangan tertentu, meski unsur pidana yang dituduhkan dinilai tidak terpenuhi.
Permohonan ke LPSK dilakukan untuk mendapatkan perlindungan hukum dan psikologis, serta memastikan proses hukum berjalan objektif dan adil. Kuasa hukum menilai perkara ini berpotensi menjadi preseden buruk bagi dunia ketenagakerjaan di Indonesia.
“Ini bukan hanya soal klien kami. Jika praktik seperti ini dibiarkan, setiap karyawan berpotensi dikriminalisasi karena konflik atau kepentingan tertentu,” tegas Sudirman Manalu.
Saat ini, tim kuasa hukum tengah melengkapi dokumen serta keterangan tambahan yang diminta LPSK. Pengaduan resmi dijadwalkan segera disampaikan agar perlindungan hukum dapat diberikan secara maksimal selama proses hukum berlangsung. (**)




.jpg)











