- Rampas Mobil Taksi Online, Pelaku Berhasil Dibekuk Jatanras PMJ di Rangkasbitung
- Disambut Pangkogabwilhan II Marsdya TNI Muzafar, Komisi I DPR RI Tegaskan Komitmen Dukung Alutsista dan Kesejahteraan Prajurit.
- Kantah Kabupaten Tangerang Serahkan 8 Sertipikat Aset BMN untuk Dukung Pembangunan Jalan Tol Tangerang–Merak.
- Sinergi Koramil dan Komduk Gelar Patroli Jaga Kondusifitas Wilayah Binaan.
- Kementerian UMKM Fasilitasi 1.000 Pengusaha Mikro di Sumatera Barat
- Kodim 0506/Tgr Sosialisasikan Penerimaan Secaba dan Secata PK TNI AD Gelombang I TA 2027, Tegaskan Gratis Tanpa Biaya.
- Kantor Pertanahan Kabupaten Pandeglang Dorong Percepatan Sertipikasi Tanah, Aset Pemda, dan Tanah Wakaf.
- Sertu Suparman Ajak Warga Tingkatkan Kewaspadaan Hadapi Musim Kemarau.
- Tim Wasrik Itdam V/Brawijaya Tinjau Proyek Pembangunan Jembatan Di Wilayah Kodim 0808/Blitar.
- Evaluasi Maturitas SPIP 2026, Kantah Kabupaten Tangerang Terima Kunjungan BPKP dan Biro OrtalaMR Kementerian ATR/BPN.
Festival Angkringan Pasar Ngasem, Turut Meriahkan HUT ke-267 Kota Jogjakarta

Keterangan Gambar : Kopi Joss layak dinikmati(Poto :MS)
MEGAPOLITANPOS.COM, Jogjakarta: Dalam rangka memeriahkan peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-267 Kota Jogja, puluhan angkringan mengikuti perhelatan Festival Angkringan Yogyakarta yang digelar di Plaza Pasar Ngasem pada 6-8 Oktober 2023.
Kegiatan itu adalah kolaborasi Pemkot Yogyakarta melalui Dinas Perdagangan dengan Gerakan Ekonomi Kreatif (Gekraf) DIY.
Baca Lainnya :
- Kementerian UMKM Fasilitasi 1.000 Pengusaha Mikro di Sumatera Barat
- Kementerian UMKM Optimalkan Klinik UMKM Bangkit Percepat Pemulihan Pascabencana di Tapanuli Tengah
- Kementerian UMKM Gandeng Bank Sumut Salurkan Banpres bagi UMKM Terdampak Bencana
- Perpres Ojol Baru Atur Kemitraan, Tarif hingga Perlindungan Sosial Pengemudi
- Kementerian UMKM Ajak ASN Gemar Belanja Produk Lokal, 11 Jenama Eksportir Ikut Bazar
Pejabat Wali Kota Yogyakarta, Singgih Raharjo mengatakan, Festival Angkringan Yogyakarta yang pertama kali diselenggarakan itu ternyata di luar ekspektasi, karena pengunjungnya banyak. Hal itu menunjukan bahwa angkringan itu tidak hanya sekadar menjual nasi kucing, tapi menjadi satu tempat untuk saling ketemu, diskusi dan bercerita.
"Angkringan itu tempat di mana seluruh elemen masyarakat bisa bersatu. Saya kira budaya angkringan ini menjadi salah satu budaya di Kota Yogyakarta yang harapannya terus dilestarikan. Karena dengan angkringan maka akan mempersatukan banyak orang,” kata Singgih pada wartawan belum lama ini.
Singgih menyampaikan Festival Angkringan Yogyakarta itu juga untuk membangkitkan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) dan ekonomi kreatif di Kota Yogyakarta.
" Saya keliling di tiap angkringan pasti ada yang menikmati nasi kucing, sate dan sebagainya. Ini menunjukan antusias dari masyarakat. Bahkan tidak hanya warga kota tapi ada beberapa dari luar kota. Tentunya ini akan menjadi daya tarik wisata Kota Yogyakarta,” paparnya.

Festival Angkringan Yogyakarta diikuti sekitar 43 angkringan dan kuliner pasar rakyat. Menu-menu andalan angkringan antara lain nasi kucing, aneka gorengan, Kopi Joss, berbagai jenis sate seperti sate usus, telur puyuh, dan lainnya yang ditata pada gerobak angkringan. Ciri khas angkringan juga terdapat cerek untuk memasak air di atas anglo dengan bara api dari arang.
Sementara itu Kepala Dinas Perdagangan Kota Yogyakarta Veronica Ambar Ismuwardani mengatakan Festival Angkringan Yogyakarta pertama kali diadakan di Pasar Ngasem karena tempat itu menjadi ikon dan memiliki sejarah di Kota Yogyakarta. Pihaknya berharap angkringan yang menjadi ikon bisa menjadi branding Yogyakarta. Termasuk untuk mengembangkan pasar rakyat menjadi sebuah ruang ekosistem ekonomi kreatif, sehingga pasar rakyat tidak hanya tempat jual beli barang, tapi juga wisata dan edukasi.
“Kenapa kita memilih angkringan, karena kota orang. Yogya terbuat dari rindu, pulang dan angkringan. Jadi kita berharap orang-orang kalau pulang (ke Yogya) makan di angkringan Kota Yogya. Angkringan bukan hanya menjadi kebiasaan masyarakat Kota Yogyakarta berkaitan budaya kuliner. Tapi juga bagian dari budaya sosial karena di angkringan kita memperoleh kenyamanan. Makan yang murah, tanpa sekat batas apapun kita bisa ngomongin apapun,” tutupnya.(Reporter Achmad Sholeh)




.jpg)



.jpg)







