- Pemprov DKI Jakarta Resmi Cabut Izin Operasional B Fashion dan The Seven terkait Peredaran Narkotika
- Peserta UKW di Barito Utara Diberi Pembekalan, Wartawan Senior Tekankan Etika dan Verifikasi Berita
- Komitmen Hijau BNI: Konservasi Satwa Dilindungi hingga Pemberdayaan Desa Penyangga
- Prabowo Resmikan 1.061 Koperasi Merah Putih di Jatim-Jateng, Tonggak Baru Ekonomi Desa
- Menikmati Sunrise dari Atas Awan, Nimo Highland Jadi Primadona Libur Panjang
- Dukung Suporter Indonesia di Thailand Open 2026, BNI Andalkan QRIS wondr by BNI
- Menkop Ajak Koperasi Tebu Rakyat Miliki Saham Pabrik Gula
- Ditreskrimum Polda Metro Siapkan Tim Buru Begal dan Kejahatan Jalanan 24 Jam
- Wujudkan Swasembada Gula Kementan Kerjasama CV Lang Buana Tanam Bibit Unggul Tebu Aas Agribun
- BNI Perkuat Dukungan untuk PBSI, Regenerasi Atlet Bulu Tangkis Indonesia Kian Bersinar
DPR Dorong Percepatan Teknologi Pengolahan Sampah Usai Tragedi Bantargebang

Keterangan Gambar : Anggota Komisi XII DPR RI dari Fraksi PKS, Ateng Sutisna, menyoroti tragedi longsor gunungan sampah di TPST Bantargebang.
MEGAPOLITANPOS.COM BEKASI - Tragedi longsor gunungan sampah di TPST Bantargebang, Kota Bekasi, Jawa Barat, kembali mengguncang publik. Tumpukan sampah raksasa yang selama ini menjadi penopang sistem pengelolaan sampah ibu kota berubah menjadi bencana, menelan empat korban jiwa.
Peristiwa memilukan ini mendapat sorotan dari anggota Komisi XII DPR RI dari Fraksi PKS, Ateng Sutisna. Dalam keterangan di akun Instagram resminya yang dikutip pada Kamis (12/03/2026), Ateng menyebut tragedi tersebut sebagai alarm keras bagi krisis pengelolaan sampah di Indonesia.
"Tragedi yang merenggut nyawa rakyat kecil ini adalah alarm paling keras bahwa tata kelola persampahan kita sedang berada di ambang krisis serius," ujar Ateng.
Baca Lainnya :
- YPPM Ungkap Alasan Pilih Otong Syuhada Jadi Rektor UNMA
- DPR RI Bongkar Fakta Gudang Bulog Penuh, Beras Aman hingga 2027
- DPRD Majalengka Bongkar Dilema Galian C Ilegal : Lingkungan Rusak, Rakyat Terjepit
- Ratusan Pil Haram Diamankan, Satres Narkoba Majalengka Bongkar Peredaran Obat Ilegal
- Muh. Fajar Sidik Terima Kunjungan Lanal Cirebon, Bahas Sinergi Pembangunan Daerah
Ia menilai penumpukan sampah dalam jumlah masif di tempat pembuangan akhir tanpa rekayasa teknik yang memadai telah menciptakan ancaman besar bagi keselamatan masyarakat.
"Penumpukan sampah masif di TPA tanpa rekayasa teknik yang memadai menciptakan bom waktu ekologis yang sewaktu-waktu bisa memakan korban," katanya.
Menurut Ateng, tragedi di Bantargebang bukan sekadar kecelakaan biasa, tetapi cerminan kegagalan sistem pengelolaan sampah yang masih bergantung pada metode open dumping atau pembuangan terbuka.
"Kita masih bergantung pada metode primitif open dumping. Pilihan ini akhirnya menuntut bayaran mahal: nyawa manusia," ujarnya.
Ia menegaskan bahwa tragedi ini harus menjadi titik balik bagi pemerintah pusat maupun daerah untuk melakukan reformasi besar dalam tata kelola persampahan nasional. Tanpa perubahan nyata, ia khawatir kejadian serupa akan kembali terulang di berbagai daerah.
Ateng pun mendorong percepatan pembangunan fasilitas pengelolaan sampah modern seperti Intermediate Treatment Facility (ITF), Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa), serta Refuse Derived Fuel (RDF). Selain itu, teknologi landfill mining dinilai perlu segera dikembangkan untuk mengurangi gunungan sampah yang sudah ada.
"Pengelolaan sampah harus berubah. Pembangunan fasilitas modern seperti ITF, PLTSa, dan RDF serta pemanfaatan teknologi landfill mining harus dipercepat," katanya.
Menurut Ateng, tragedi Bantargebang seharusnya menjadi peringatan keras bahwa masalah sampah bukan lagi sekadar isu lingkungan, melainkan persoalan keselamatan manusia yang tidak bisa lagi ditunda penyelesaiannya. ** (Agit)









1.jpg)







