- Patroli Malam, Babinsa Bersatu Ciptakan Lingkungan Aman dan Nyaman.
- Dulu Pemohon yang Cari Petugas Ukur, Sejak Ada Pengukuran Terjadwal Kini Tanah Diukur Lebih Pasti dan Cepat.
- Wamen UMKM Helvi Moraza Dorong UMKM Sumbar Bangkit dan Naik Kelas Pascabencana
- Patroli Malam Babinsa dan Komduk, Bentuk Nyata Kemanunggalan TNI Dengan Rakyatnya.
- Dorong Wartawan Berkualitas, PWI Jaya Gelar UKW Angkatan ke-66, di Kantor Wali Kota Jakarta Pusat
- Menjangkau Siberut Memperkuat Wirausaha Terdampak Bencana
- Status Tanggap Darurat Karhutla Barito Utara Diperpanjang hingga 15 Oktober
- Pemkab Barut Tegaskan Arah Kebijakan RAPBD 2027
- Sport City Jadi Strategi Baru Kota Tangerang Gerakkan Hotel, UMKM dan Tingkatkan Ekonomi.
- Melihat Lebih Dekat Batik Khas Kota Tangerang dan Upaya Pelestariannya.
Dibalik Insiden Rusuh Reses Guntur Wahono Ternyata Pelakunya Orang diluar Undangan Resmi

Keterangan Gambar : Usai peristiwa ricuh saat malam reses Anggota DPRD Jatim Guntur Wahono di Dusun Bendorejo Desa Bendosewu Kabupaten Blitar
MEGAPOLITANPOS.COM, Blitar - Usai peristiwa ricuh saat malam reses Anggota DPRD Jatim Guntur Wahono di Dusun Bendorejo Desa Bendosewu Kabupaten Blitar, ternyata dipicu oleh sekelompok orang tak diundang.
Mereka oknum pembuat onar ini diluar undangan yang disebarkan oleh panitia, saat pembukaan acara hingga ditutup dengan doa hingga satu lagu obat kangen Guntur Wahono yang dilantunkan tak ada keributan.
Hal ini dikemukakan Guntur kepada awak media didampingi Endik Susilo selaku ketua panitia di rumah Guntur Wahono dirumahnya dusun Tambak Boyo Desa Sumber Kecamatan Sanan Kulon pada Rabu (31/01/2024).
Baca Lainnya :
- Tan Ngi Hing Anggota Komisi II DPRD Kota Blitar Respon Positif Skema Baru BGN untuk SPPG Mulai 5 Oktober.
- Polisi Bongkar Curanmor Majalengka, Motor Korban Ditemukan di Garut
- Sulthan Saddan Buka Kartu di Musda KNPI : 1000 Persen Maju!
- Babak Baru DPRD Majalengka, Sandi Fahmi Resmi Jadi Wakil Rakyat
- 7 Tersangka Diciduk, Narkoba Diduga Menyasar Pekerja Industri
Endi Susilo menjelaskan jumlah peserta yang diundang sebanyak 250 orang. Sementara, kericuhan itu pun terjadi setelah Guntur Wahono meninggalkan tempat reses di dusun Bendorejo desa Bendosewu Talun.
"Memang saat itu nama mereka tidak ada dalam undangan, sejumlah orang ini datang berkumpul dibagian belakang. Karena undangan sudah terdata lengkap, dan sebagian besar ibu-ibu," jelasnya.
Endi pun menjelaskan, sebelum warga dikumpulkan, saat sebelumnya mereka diberi penjelasan tidak adanya uang transportasi, dan mereka ada kesepakatan bersama warga setempat. Masyarakat menginginkan adanya program, yakni pembangunan pagar mushola dan mesin pembuat genting, sebagai ganti uang transportasi tersebut, yang bersumber dari APBD Provinsi Jatim.
"Undangan yang terdaftar dan datang, semua sudah paham kalau tidak ada uang transportnya, mereka tetap datang untuk bertemu dengan Pak Guntur. Setelah acara selesai, dan Pak Guntur sudah pulang, barulah kericuhan terjadi," terang Endi.
Sementara itu, Guntur Wahono membenarkan apa yang dikatakan Hendi. Ia mengaku sebelumnya, timnya sudah mengetahui adanya kelompok yang berkumpul di sebuah rumah, sebelum memasuki tempat acara, bahkan sempat bersalam salaman.
"Pas ribut-ribut itu, saya sudah pulang mas dan saya disitu sampai acara selesai. Diawal memang, tim saya sudah bilang, kalau ada sekelompok orang berkumpul di suatu rumah dekat tempat acara, saya pikir ya gak apa-apa mereka hadir meski tanpa undangan, saya sambut dengan baik ," ujar Guntur.
Terkait dugaan kericuhan tersebut sudah terencana dan mentargetkan acara PDI Perjuangan, Guntur tak mau berspekulasi lebih jauh dan berprasangka buruk.
"Saya tidak menuduh siapa-siapa. Tapi yang jelas, saya tau masyarakat di situ adalah basis PDI Perjuangan. Saya juga datang kesitu atas permintaan warga masyarakat, ngiras pantes menyambung silaturahmi karena saat lalu ternyata saya ada suara dukungan dari mereka, kami tetap menyambung persaudaraan," pungkasnya. ** (za/mp)


.jpg)

.jpg)
.jpg)


.jpg)







