- Tak Sekadar Santunan, Pemkot Tangerang Dorong Penerima Manfaat BPJS Ketenagakerjaan Lebih Produktif
- Serahkan 5.000 Sertifikat Halal, Maryono: Sinergi Wujudkan UMKM Makin Naik Kelas
- Harganas 2026, Kemensos Tegaskan Negara Harus Hadir untuk Keluarga Indonesia
- Momentum Harganas Ke-33, Sachrudin: Keluarga Berkualitas Fondasi Wujudkan Generasi Emas
- Hendi Budi Yuantoro Menuju Kursi Parlemen DPRD Kabupaten Blitar PAW PDI P perjuangan
- USDEK BIRAWA ADI GUNA GPM Gelar Konsolidasi Nasional, Perkuat Soliditas Kader di Seluruh Indonesia
- Jangan Tunda Lagi: Ratifikasi OPCAT dan Sahkan RANHAM
- MUBES Jakmania: Seluruh Jakmania Harus Memiliki Hak yang Sama dalam Demokrasi
- Harap Perdamaian, Keluarga Salah Satu Tersangka Kasus Padel Gelar Doa Bersama
- PRSI Gelar Sosialisasi dan Pelatihan Robotik di SDN Pancoran 07 Pagi Jakarta Selatan
Dibalik Insiden Rusuh Reses Guntur Wahono Ternyata Pelakunya Orang diluar Undangan Resmi

Keterangan Gambar : Usai peristiwa ricuh saat malam reses Anggota DPRD Jatim Guntur Wahono di Dusun Bendorejo Desa Bendosewu Kabupaten Blitar
MEGAPOLITANPOS.COM, Blitar - Usai peristiwa ricuh saat malam reses Anggota DPRD Jatim Guntur Wahono di Dusun Bendorejo Desa Bendosewu Kabupaten Blitar, ternyata dipicu oleh sekelompok orang tak diundang.
Mereka oknum pembuat onar ini diluar undangan yang disebarkan oleh panitia, saat pembukaan acara hingga ditutup dengan doa hingga satu lagu obat kangen Guntur Wahono yang dilantunkan tak ada keributan.
Hal ini dikemukakan Guntur kepada awak media didampingi Endik Susilo selaku ketua panitia di rumah Guntur Wahono dirumahnya dusun Tambak Boyo Desa Sumber Kecamatan Sanan Kulon pada Rabu (31/01/2024).
Baca Lainnya :
- Hendi Budi Yuantoro Menuju Kursi Parlemen DPRD Kabupaten Blitar PAW PDI P perjuangan
- Panggih Riadi, Kembali Mengabdi untuk Desa Sumberboto Maju
- Majalengka Gaspol PAD, Retribusi TKA Tembus Target 5,6 Miliar
- Baznas-Polres Sumedang Khitan Massal, 82 Anak Terbantu Warga
- Polres Majalengka Bongkar Jaringan Tembakau Sintetis, 1 Ditangkap
Endi Susilo menjelaskan jumlah peserta yang diundang sebanyak 250 orang. Sementara, kericuhan itu pun terjadi setelah Guntur Wahono meninggalkan tempat reses di dusun Bendorejo desa Bendosewu Talun.
"Memang saat itu nama mereka tidak ada dalam undangan, sejumlah orang ini datang berkumpul dibagian belakang. Karena undangan sudah terdata lengkap, dan sebagian besar ibu-ibu," jelasnya.
Endi pun menjelaskan, sebelum warga dikumpulkan, saat sebelumnya mereka diberi penjelasan tidak adanya uang transportasi, dan mereka ada kesepakatan bersama warga setempat. Masyarakat menginginkan adanya program, yakni pembangunan pagar mushola dan mesin pembuat genting, sebagai ganti uang transportasi tersebut, yang bersumber dari APBD Provinsi Jatim.
"Undangan yang terdaftar dan datang, semua sudah paham kalau tidak ada uang transportnya, mereka tetap datang untuk bertemu dengan Pak Guntur. Setelah acara selesai, dan Pak Guntur sudah pulang, barulah kericuhan terjadi," terang Endi.
Sementara itu, Guntur Wahono membenarkan apa yang dikatakan Hendi. Ia mengaku sebelumnya, timnya sudah mengetahui adanya kelompok yang berkumpul di sebuah rumah, sebelum memasuki tempat acara, bahkan sempat bersalam salaman.
"Pas ribut-ribut itu, saya sudah pulang mas dan saya disitu sampai acara selesai. Diawal memang, tim saya sudah bilang, kalau ada sekelompok orang berkumpul di suatu rumah dekat tempat acara, saya pikir ya gak apa-apa mereka hadir meski tanpa undangan, saya sambut dengan baik ," ujar Guntur.
Terkait dugaan kericuhan tersebut sudah terencana dan mentargetkan acara PDI Perjuangan, Guntur tak mau berspekulasi lebih jauh dan berprasangka buruk.
"Saya tidak menuduh siapa-siapa. Tapi yang jelas, saya tau masyarakat di situ adalah basis PDI Perjuangan. Saya juga datang kesitu atas permintaan warga masyarakat, ngiras pantes menyambung silaturahmi karena saat lalu ternyata saya ada suara dukungan dari mereka, kami tetap menyambung persaudaraan," pungkasnya. ** (za/mp)
















