- Listrik Padam di Tengah Paripurna, DPRD Tetap Gas Kritik Keras Kinerja Pemda 2025
- Ketua Dprd Barito Utara Berikan Apresiasi Dan Tekankan Fungsi Pengawasan Dalam Paparan Skema Pembangunan Multiyears
- Cara Cerdas Bupati Shalahuddin, Percepat Pembangunan Fisik, Ringankan Beban APBD, Hindari Eskalasi Harga, Terapkan Skema Bayar Bertahap Hingga 2029
- Proyek Strategis 2029, Bupati Barito Utara Targetkan Seluruh Kecamatan Terhubung Jalur Darat Melalui Skema Multiyears
- Pelajar Jadi Garda Terdepan, Polres Majalengka Gencarkan Edukasi Bahaya Narkoba di Sekolah
- Peletakan Batu Pertama Pembangunan Mako Polrestro Depok oleh Kapolda Metro
- Resmob PMJ Tangkap Pelaku Penyiraman Air Keras di Cengkareng
- LPDB Koperasi Bidik Basis Massa Suporter Sepak Bola untuk Bangun Ekonomi Komunitas
- Pemuda Majalengka Unjuk Gigi, Dispora Cetak Agen Perubahan hingga Tembus Level Provinsi
- 150 ribu Batang Rokok Ilegal Disita di Majalengka, Peredaran Masih Marak
Bamsoes dan Mayjen TNI Arnold Ritiauw: Dua Tokoh, Satu Semangat Pengabdian untuk Indonesia
Bertemu dalam Pendidikan P3N di Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia, keduanya terus berkontribusi bagi bangsa melalui bidang sosial, politik, dan pertahanan negara.

Keterangan Gambar : Bambang Susilo (Bamsoes) bertemu dengan Arnold Ritiauw saat mengikuti Pendidikan Pemantapan Pimpinan Nasional (P3N) di Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia (Lemhannas RI).
Selasa, 10 Maret 2026 menjadi hari istimewa bagi dua tokoh dengan latar belakang profesi yang berbeda, namun memiliki semangat pengabdian yang sama kepada bangsa dan negara. Mereka adalah Bambang Susilo yang akrab disapa Bamsoes, seorang politisi muda disabilitas dari Partai Golkar, serta Arnold Aristoteles Ritiauw, seorang perwira tinggi Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD). (10/3/2026)
Keduanya pernah bertemu dalam satu ruang pendidikan kebangsaan yang sama di Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia (Lemhannas) melalui program Pendidikan Pemantapan Nilai-Nilai Kebangsaan (P3N). Pertemuan tersebut mempertemukan dua sosok dari jalur pengabdian yang berbeda—politik dan militer—namun dengan visi yang sama: memberikan kontribusi terbaik bagi Indonesia.
Bamsoes dikenal sebagai sosok politisi muda yang gigih memperjuangkan pemberdayaan penyandang disabilitas di Indonesia. Ia merupakan pendiri sekaligus Ketua Umum Perkumpulan Pengusaha Disabilitas Indonesia (PERPEDIN), sebuah organisasi yang berfokus pada penguatan kemandirian ekonomi bagi penyandang disabilitas melalui kewirausahaan dan pemberdayaan usaha. Melalui organisasi ini, Bamsoes terus mendorong agar kaum disabilitas tidak hanya menjadi objek perhatian, tetapi juga menjadi pelaku aktif dalam pembangunan ekonomi nasional.
Sementara itu, Mayor jenderal TNI Arnold Ritiauw merupakan salah satu perwira tinggi TNI AD yang memiliki rekam jejak panjang dalam dunia militer dan pendidikan kepemimpinan. Saat ini ia mengemban amanah sebagai Tenaga Ahli Pengajar Bidang Strategi di Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia. Sebelumnya, ia juga pernah menjabat sebagai Gubernur Akademi Militer (Akmil) sejak Desember 2024 hingga mutasi terakhir pada 31 Juli 2025, posisi strategis yang berperan dalam membentuk generasi perwira masa depan TNI.
Meski berasal dari latar belakang profesi yang berbeda, keduanya memiliki kisah hidup yang serupa. Mereka berasal dari keluarga sederhana yang jauh dari kata kecukupan. Namun dengan kegigihan, disiplin, dan semangat pantang menyerah, keduanya mampu menembus berbagai tantangan kehidupan hingga mencapai posisi yang memungkinkan mereka mengabdi bagi bangsa dan negara.
Saat ditemui tim media di Kantor Perkumpulan Pengusaha Disabilitas Indonesia (PERPEDIN) di Jakarta Selatan, Bamsoes menyampaikan refleksi mengenai perjalanan hidup serta makna pengabdian bagi bangsa.
“Saya dan Mayjen Arnold mungkin berjalan di jalur pengabdian yang berbeda. Beliau mengabdi melalui dunia militer dan strategi kebangsaan, sementara saya melalui perjuangan sosial dan pemberdayaan disabilitas. Namun kami memiliki kesamaan nilai: berasal dari keluarga sederhana dan percaya bahwa keterbatasan ekonomi bukan alasan untuk berhenti bermimpi. Justru dari keterbatasan itulah lahir semangat untuk terus berjuang dan memberi manfaat bagi bangsa dan negara,” ujar Bamsoes.
Ia juga menambahkan bahwa pertemuan dalam pendidikan kebangsaan di Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia menjadi pengalaman berharga yang mempertemukan berbagai tokoh dari latar belakang berbeda namun memiliki tujuan yang sama.
“Pertemuan di Lemhannas mengajarkan kita bahwa pengabdian tidak selalu harus melalui jalur yang sama. Yang terpenting adalah komitmen untuk terus berkontribusi bagi Indonesia, sesuai dengan kapasitas dan bidang kita masing-masing,” tambahnya.
Hari ulang tahun yang jatuh pada tanggal dan bulan yang sama ini menjadi pengingat bahwa pengabdian kepada Indonesia dapat lahir dari berbagai jalan. Baik melalui perjuangan sosial dan politik seperti yang dilakukan Bamsoes, maupun melalui dedikasi dalam dunia pertahanan dan pendidikan militer seperti yang dijalani Mayjen TNI Arnold Ritiauw.
Kisah keduanya menjadi inspirasi bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk berkontribusi bagi negeri, melainkan justru dapat menjadi kekuatan untuk terus melangkah dan memberi manfaat bagi masyarakat luas.
















