- Dede Fauji Resmi Dilantik Jadi Kaur Keuangan Desa Sangkanhurip
- Tampilkan Tokoh Wayang Bima dan Gatut Kaca Satlantas Sosialisasi Operasi Keselamatan Semeru 2026 .
- Ikuti Arahan Presiden Prabowo, Pemkab Majalengka Dorong Atap Genting sebagai Kebijakan Ekonomi Rakyat
- BNI Tutup 2025 dengan Kinerja Solid, Kredit Tumbuh 15,9% dan Laba Rp20 Triliun
- Pimpin Cabor Percasi Kota Blitar Ini Pesan Mohammad Trijanto Kepada Atlit
- Hari Jadi Majalengka ke-186, Puluhan Anak Ikuti Sunatan Massal di Puskesmas Leuwimunding
- Polemik Kepemimpinan PPP Jawa Barat Memanas: Pepep Saeful Hidayat Gugat SK Plt Uu Ruzhanul ke Mahkamah Partai
- Pemkot Depok dan Bogor Bersinergi, Underpass Citayam Ditargetkan Tuntas 2027
- Operasi Keselamatan Jaya 2026 Berlangsung Hingga 15 Februari 2026
- Rayakan Tahun Ke-4 SimInvest, Simversary Investors League 2025 Sukses Digelar
AI Mengubah Dunia Jurnalisme: Peluang Efisiensi vs Ancaman Keberlanjutan Media di 2026

Keterangan Gambar : Ilustrasi. istimewa
MEGAPOLITANPOS.COM Bandung,2 Februari 2026 – Kecerdasan buatan (AI) semakin meresap ke dalam praktik jurnalisme, baik di Indonesia maupun secara global. Di satu sisi, AI menjadi alat bantu powerful untuk mempercepat kerja redaksi; di sisi lain, ia memicu kekhawatiran serius terhadap trafik media, etika, dan keberlanjutan industri pers.
Di Indonesia, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria menyoroti fenomena "zero click" dalam acara Retreat PWI di Bogor akhir Januari 2026. Publik kini cukup membaca ringkasan berita yang dihasilkan AI di mesin pencari tanpa mengunjungi situs media asli, sehingga menggerus pendapatan iklan dan kunjungan portal berita.
"Ini berdampak langsung pada keberlanjutan industri pers," ujar Nezar, seraya menekankan pentingnya menjaga pilar jurnalisme: laporan lapangan langsung, analisis mendalam, dan cerita manusiawi (human stories).
Baca Lainnya :
- Ikuti Arahan Presiden Prabowo, Pemkab Majalengka Dorong Atap Genting sebagai Kebijakan Ekonomi Rakyat
- Hari Jadi Majalengka ke-186, Puluhan Anak Ikuti Sunatan Massal di Puskesmas Leuwimunding
- Polemik Kepemimpinan PPP Jawa Barat Memanas: Pepep Saeful Hidayat Gugat SK Plt Uu Ruzhanul ke Mahkamah Partai
- Sejarah Kabupaten Majalengka: Dari Kerajaan Kuno hingga Perubahan Nama dan Hari Jadi Resmi
- AI Mengubah Dunia Jurnalisme: Peluang Efisiensi vs Ancaman Keberlanjutan Media di 2026
Dewan Pers dan organisasi seperti AJI menegaskan AI hanya boleh sebagai alat bantu, bukan pengganti jurnalis. Penggunaan harus transparan, dengan label jika AI terlibat, serta tetap di bawah kontrol manusia penuh untuk menjaga akurasi, verifikasi, dan etika. Pedoman penggunaan AI dalam karya jurnalistik telah dirilis, meski ada kritik soal kelemahannya dalam regulasi.
Banyak jurnalis Indonesia memanfaatkan AI untuk transkripsi wawancara, riset data, brainstorming ide, hingga draft awal berita. Program pelatihan, termasuk kunjungan ke Inggris akhir Januari 2026 yang diikuti media seperti IDN Times, fokus pada penggunaan AI bertanggung jawab untuk melawan misinformasi.
Secara global, laporan Reuters Institute "Journalism, Media, and Technology Trends and Predictions 2026" menyebut AI semakin "menekan" (squeeze) media tradisional bersama munculnya creator economy. Newsroom beralih ke konten orisinal, mendalam, dan berbasis otoritas, dengan prioritas pada reporting lapangan dan personalisasi. Survei menunjukkan mayoritas jurnalis menggunakan AI secara rutin untuk tugas pendukung seperti analisis data, headline generation, dan deteksi fake news, tapi tetap dengan pengawasan ketat.
Meski AI tidak akan menggantikan jurnalis sepenuhnya—karena fakta dan empati tetap butuh sentuhan manusia—tahun 2026 diprediksi sebagai titik balik: media yang adaptif dan etis akan bertahan, sementara yang bergantung konten generik berisiko tertinggal. Tantangan terbesar: menjaga kredibilitas di tengah banjir informasi AI-generated.
















