AI Mengubah Dunia Jurnalisme: Peluang Efisiensi vs Ancaman Keberlanjutan Media di 2026

By Sigit 02 Feb 2026, 11:46:43 WIB Teknologi
AI Mengubah Dunia Jurnalisme: Peluang Efisiensi vs Ancaman Keberlanjutan Media di 2026

Keterangan Gambar : Ilustrasi. istimewa


MEGAPOLITANPOS.COM Bandung,2 Februari 2026 – Kecerdasan buatan (AI) semakin meresap ke dalam praktik jurnalisme, baik di Indonesia maupun secara global. Di satu sisi, AI menjadi alat bantu powerful untuk mempercepat kerja redaksi; di sisi lain, ia memicu kekhawatiran serius terhadap trafik media, etika, dan keberlanjutan industri pers.

Di Indonesia, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria menyoroti fenomena "zero click" dalam acara Retreat PWI di Bogor akhir Januari 2026. Publik kini cukup membaca ringkasan berita yang dihasilkan AI di mesin pencari tanpa mengunjungi situs media asli, sehingga menggerus pendapatan iklan dan kunjungan portal berita.

"Ini berdampak langsung pada keberlanjutan industri pers," ujar Nezar, seraya menekankan pentingnya menjaga pilar jurnalisme: laporan lapangan langsung, analisis mendalam, dan cerita manusiawi (human stories).

Baca Lainnya :

Dewan Pers dan organisasi seperti AJI menegaskan AI hanya boleh sebagai alat bantu, bukan pengganti jurnalis. Penggunaan harus transparan, dengan label jika AI terlibat, serta tetap di bawah kontrol manusia penuh untuk menjaga akurasi, verifikasi, dan etika. Pedoman penggunaan AI dalam karya jurnalistik telah dirilis, meski ada kritik soal kelemahannya dalam regulasi.

Banyak jurnalis Indonesia memanfaatkan AI untuk transkripsi wawancara, riset data, brainstorming ide, hingga draft awal berita. Program pelatihan, termasuk kunjungan ke Inggris akhir Januari 2026 yang diikuti media seperti IDN Times, fokus pada penggunaan AI bertanggung jawab untuk melawan misinformasi.

Secara global, laporan Reuters Institute "Journalism, Media, and Technology Trends and Predictions 2026" menyebut AI semakin "menekan" (squeeze) media tradisional bersama munculnya creator economy. Newsroom beralih ke konten orisinal, mendalam, dan berbasis otoritas, dengan prioritas pada reporting lapangan dan personalisasi. Survei menunjukkan mayoritas jurnalis menggunakan AI secara rutin untuk tugas pendukung seperti analisis data, headline generation, dan deteksi fake news, tapi tetap dengan pengawasan ketat.

Meski AI tidak akan menggantikan jurnalis sepenuhnya—karena fakta dan empati tetap butuh sentuhan manusia—tahun 2026 diprediksi sebagai titik balik: media yang adaptif dan etis akan bertahan, sementara yang bergantung konten generik berisiko tertinggal. Tantangan terbesar: menjaga kredibilitas di tengah banjir informasi AI-generated.




  • AI Mengubah Dunia Jurnalisme: Peluang Efisiensi vs Ancaman Keberlanjutan Media di 2026

    🕔11:46:43, 02 Feb 2026
  • PRSI Terima Kunjungan HIMELDA Unsada Bahas Pengembangan Robotik dan AI

    🕔12:11:25, 23 Jan 2026
  • PRSI Terima Kunjungan COMAU Italia, Perluas Kerja Sama Robotika Global

    🕔17:10:35, 23 Jan 2026
  • PRSI dan KADIN Indonesia Gelar Audiensi Bahas Sinergi Menuju Terbentuknya Industri Robotik Nasional

    🕔20:33:34, 28 Okt 2025
  • PRSI dan Universitas Budi Luhur Teken MoU untuk Perkuat SDM dan Ekosistem Teknologi Nasional

    🕔15:34:30, 11 Agu 2025