- Sambut HUT ke-499 Jakarta, Pemprov DKI Sebut Jakarta Fair Jadi Simbol Kolaborasi dan Kemajuan Kota
- Kapolres Majalengka Taklukkan Ciremai, Kibarkan Merah Putih Raksasa
- UMKM 5K Run Jadi Ajang Promosi Produk Olahraga Lokal dan Gaya Hidup Sehat
- Jakarta Fair Kemayoran 2026 Jadi Pusat Perayaan HUT Jakarta dengan Ragam Hiburan Istimewa
- Ketum PRI Lantik Pengurus Samudra, Perkuat Peran Santri dalam Pembangunan Bangsa
- Pasangan Muda Indonesia Bersinar di Macau Open 2026, BNI dan PBSI Petik Hasil Pembinaan Jangka Panjang
- KUR Rp40 Miliar Digelontorkan ke NTB, Dorong UMKM dan PMI Naik Kelas
- Wakil Ketua Komisi II DPRD Kota Tangerang Fraksi PSI Lakukan Kegiatan Reses ke-3
- PENAS XVII Jadi Pintu Kolaborasi dan Inovasi bagi Pertanian Barito Utara
- Pemkab Tegaskan Komitmen Barito Utara Dukung Kemandirian Pangan Nasional di PENAS XVII Gorontalo
Tak Bisa Andalkan TPA! HPSN 2026, DLH Majalengka Gaspol Bentuk 26 Bank Sampah Desa

Keterangan Gambar : Foto : dok. kominfo
MEGAPOLITANPOS.COM MAJALENGKA - Ancaman sampah kian nyata. Produksi sampah di Kabupaten Majalengka menembus angka sekitar 900 ton per hari, sementara yang mampu tertangani di TPA Heuleut baru sekitar 120 ton per hari. Situasi ini menjadi alarm keras bagi semua pihak.
Momentum Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2026 pun tak dibiarkan berlalu begitu saja. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Majalengka langsung "tancap gas" dengan mengukuhkan 26 Bank Sampah Unit (BSU) desa serta meluncurkan inovasi EMAS PKK bersamaan Gerakan Bersih (Geber) Jum'at di Kecamatan Sukahaji. Jumat (20/2/2026).
Kepala DLH Kabupaten Majalengka, Wawan Sarwanto, menegaskan bahwa pola lama mengandalkan pengangkutan ke TPA tidak lagi cukup.
Baca Lainnya :
- Kapolres Majalengka Taklukkan Ciremai, Kibarkan Merah Putih Raksasa
- AWI Soroti Dugaan Intimidasi Wartawan di DPRD Majalengka, Minta Klarifikasi
- BAZNAS Majalengka Salurkan Bantuan untuk 1.672 Warga Sepanjang Mei 2026
- Hendi Resmi Dilantik, Sangkanurip Perkuat Mesin Pembangunan Desa
- Usia 19 Tahun, Kecamatan Sindang Tancap Gas Wujudkan Majalengka Sae
"Kita tidak bisa terus menerus mengandalkan TPA. Kalau sampah tidak dikurangi dan dipilah dari rumah tangga, maka beban di hilir akan terus menumpuk. Kuncinya ada di sumbernya," tegas Wawan.
Menurutnya, pengukuhan 26 BSU desa bukan sekadar seremoni, melainkan strategi konkret untuk memangkas residu sejak dari hulu.
"Sampah harus selesai di desa. Bank sampah bukan pajangan. Ini harus jadi gerakan nyata yang memberi dampak lingkungan sekaligus nilai ekonomi bagi masyarakat," ujarnya.
DLH menegaskan, perubahan perilaku masyarakat menjadi harga mati dalam upaya mengatasi persoalan sampah yang kian kompleks. Tanpa keterlibatan aktif warga dalam memilah sampah organik dan anorganik sejak dari rumah, persoalan ini akan terus berulang.
"HPSN 2026 ini harus menjadi titik balik. Edukasi dan pendampingan akan terus kami lakukan. Tapi keberhasilan ada di tangan masyarakat. Kalau sudah terbiasa memilah, persoalan sampah akan jauh lebih ringan," tambahnya.
Dengan penguatan Bank Sampah Unit di 26 desa serta kolaborasi bersama PKK melalui program EMAS PKK, DLH optimistis Majalengka mampu menekan volume residu ke TPA dan membangun sistem pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang berkelanjutan.
Tantangannya kini, konsistensi dan kesadaran bersama untuk menjadikan perubahan perilaku sebagai budaya, bukan sekadar slogan tahunan. ** (Agit)

















