- PRSI Hadiri Bukber di Kantor Staf Presiden, Dorong SDM Berbasis Teknologi
- H. Iing Misyahudin: Idul Fitri Momentum Sucikan Hati dan Bangkit Bangun Majalengka
- Idul Fitri 2026: Perempuan Jadi Pilar Ekonomi Keluarga di Masa Sulit
- Bupati Majalengka Resmi Lepas Takbir Keliling Sambut Idul Fitri 1447 H
- Politisi Muda Disabilitas BambsoesHadir dalam Buka Puasa Bersama IKAL Lemhannas RI di Kantor Staf Presiden
- PRSI Ucapkan Selamat Nyepi, Perkuat Komitmen Program Robotika untuk Negeri
- Pastikan Kesiapan Lebaran, Bupati Barito Utara Cek Tiga Pos Strategis
- Politisi Nasdem, Hj Nety Herawati Ingatkan Pemudik Utamakan Keselamatan
- Hilal Tak Terlihat, Pemerintah Tetapkan Lebaran 2026 pada 21 Maret
- Pemerintah Tetapkan Idul Fitri 1447 Hijriah pada Sabtu 21 Maret
Tak Bisa Andalkan TPA! HPSN 2026, DLH Majalengka Gaspol Bentuk 26 Bank Sampah Desa

Keterangan Gambar : Foto : dok. kominfo
MEGAPOLITANPOS.COM MAJALENGKA - Ancaman sampah kian nyata. Produksi sampah di Kabupaten Majalengka menembus angka sekitar 900 ton per hari, sementara yang mampu tertangani di TPA Heuleut baru sekitar 120 ton per hari. Situasi ini menjadi alarm keras bagi semua pihak.
Momentum Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2026 pun tak dibiarkan berlalu begitu saja. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Majalengka langsung "tancap gas" dengan mengukuhkan 26 Bank Sampah Unit (BSU) desa serta meluncurkan inovasi EMAS PKK bersamaan Gerakan Bersih (Geber) Jum'at di Kecamatan Sukahaji. Jumat (20/2/2026).
Kepala DLH Kabupaten Majalengka, Wawan Sarwanto, menegaskan bahwa pola lama mengandalkan pengangkutan ke TPA tidak lagi cukup.
Baca Lainnya :
- H. Iing Misyahudin: Idul Fitri Momentum Sucikan Hati dan Bangkit Bangun Majalengka
- Bupati Majalengka Resmi Lepas Takbir Keliling Sambut Idul Fitri 1447 H
- Legislator DPR RI Ateng Sutisna Hadirkan Posko Mudik Gratis di Pantura Subang - Pamanukan
- Ateng Sutisna Soroti Target Nol Open Dumping 2026, Dorong Reformasi Total dan Solusi RDF Berbasis Desa
- KNPI Majalengka Konsolidasi Besar, Pemuda Didorong Jadi Motor Pembangunan Daerah
"Kita tidak bisa terus menerus mengandalkan TPA. Kalau sampah tidak dikurangi dan dipilah dari rumah tangga, maka beban di hilir akan terus menumpuk. Kuncinya ada di sumbernya," tegas Wawan.
Menurutnya, pengukuhan 26 BSU desa bukan sekadar seremoni, melainkan strategi konkret untuk memangkas residu sejak dari hulu.
"Sampah harus selesai di desa. Bank sampah bukan pajangan. Ini harus jadi gerakan nyata yang memberi dampak lingkungan sekaligus nilai ekonomi bagi masyarakat," ujarnya.
DLH menegaskan, perubahan perilaku masyarakat menjadi harga mati dalam upaya mengatasi persoalan sampah yang kian kompleks. Tanpa keterlibatan aktif warga dalam memilah sampah organik dan anorganik sejak dari rumah, persoalan ini akan terus berulang.
"HPSN 2026 ini harus menjadi titik balik. Edukasi dan pendampingan akan terus kami lakukan. Tapi keberhasilan ada di tangan masyarakat. Kalau sudah terbiasa memilah, persoalan sampah akan jauh lebih ringan," tambahnya.
Dengan penguatan Bank Sampah Unit di 26 desa serta kolaborasi bersama PKK melalui program EMAS PKK, DLH optimistis Majalengka mampu menekan volume residu ke TPA dan membangun sistem pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang berkelanjutan.
Tantangannya kini, konsistensi dan kesadaran bersama untuk menjadikan perubahan perilaku sebagai budaya, bukan sekadar slogan tahunan. ** (Agit)

















