- Bank Mandiri Digugat karena Cairkan Kredit Rp200 Juta dengan Jaminan Aset Milik Orang Lain
- Sineas Indonesia Bongkar Formula Film Drama yang Masih Diminati Penonton
- Menkop Buka Kebumen Travel Mart dan Dorong IWAKK Walet Emas Jadi Koperasi
- Banpres Rp1,2 Triliun untuk UMKM Terdampak Bencana Sumatera Disalurkan Bertahap
- AiMOGA Mornine Raih Tiga Sertifikasi Uni Eropa, Siap Ekspansi ke Pasar Global
- BIMA Apresiasi DPR dan Botok, Dorong Pengesahan RUU Perampasan Aset Maksimal 15 Desember 2026
- Peran Penting Kemitraan dengan BRI Talun Dorong UMKM Usaha Fasiatin Naik Kelas dan Berkembang
- Canvas Gemilang 2026 Dapat Respon Positif dari Masyarakat, Wadah Anak Muda Tuangkan Gagasan
- Sosialisasi Digital BPJS Ketenagakerjaan Lewat Zoom, Dwi Paparkan Manfaat Program Lapak Asik
- Bupati Blitar Dorong Pelestarian Wisata Budaya Jamasan Gong Kyai Pradah 2026
Sineas Indonesia Bongkar Formula Film Drama yang Masih Diminati Penonton

Keterangan Gambar : Diskusi Film Indonesia yang digelar PT Avatara Lintas Media bersama PFN Heritage dalam rangkaian Kreatif Merdeka Carnival 2026.
MEGAPOLITANPOS.COM, Jakarta – Perkembangan pola konsumsi hiburan di era digital mendorong industri perfilman Indonesia untuk terus beradaptasi. Film drama, yang selama ini memiliki basis penonton kuat, dinilai masih memiliki peluang besar untuk berkembang dengan mengangkat cerita keseharian, kisah nyata, budaya lokal, hingga persoalan sosial yang dekat dengan masyarakat.
Hal tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam Pekan Diskusi Film Indonesia yang digelar PT Avatara Lintas Media bersama PFN Heritage dalam rangkaian Kreatif Merdeka Carnival 2026, dengan tema “Trend & Formula Film Drama Saat Ini”, di PFN Heritage, Jakarta Timur, Kamis (27/8/2026).
Kegiatan tersebut mempertemukan sejumlah pelaku industri kreatif, mulai dari sutradara, produser, pelajar, mahasiswa, hingga masyarakat umum. Diskusi diarahkan untuk memberikan pemahaman mengenai perkembangan film drama sekaligus proses kreatif dalam menghasilkan sebuah karya film, mulai dari penciptaan ide, produksi hingga pascaproduksi.
Baca Lainnya :
- Bank Mandiri Digugat karena Cairkan Kredit Rp200 Juta dengan Jaminan Aset Milik Orang Lain
- Sineas Indonesia Bongkar Formula Film Drama yang Masih Diminati Penonton
- Menkop Buka Kebumen Travel Mart dan Dorong IWAKK Walet Emas Jadi Koperasi
- Banpres Rp1,2 Triliun untuk UMKM Terdampak Bencana Sumatera Disalurkan Bertahap
- AiMOGA Mornine Raih Tiga Sertifikasi Uni Eropa, Siap Ekspansi ke Pasar Global
Direktur PT Avatara Lintas Media sekaligus Ketua Panitia Kreatif Merdeka Carnival 2026, Herty Paulina Purba, mengatakan kegiatan tersebut menjadi ruang pembelajaran bagi generasi muda untuk mengenal lebih dekat dunia perfilman Indonesia.
“Kami ingin memberikan ruang kepada anak-anak dan generasi muda untuk belajar, berdiskusi, sekaligus mengenal lebih dekat dunia perfilman, drama dan perkembangan teknologi digital,” ujar Herty.
Menurutnya, generasi muda diharapkan tidak hanya menjadi penikmat film asing, tetapi juga semakin mencintai dan mengapresiasi karya-karya sineas Indonesia.
“Melalui diskusi ini, kami berharap masyarakat dapat mengetahui dan memahami bagaimana para kreator film memproduksi karya, mulai dari proses pembuatannya hingga pascaproduksi, sehingga mampu melahirkan karya-karya kreatif,” katanya.
Drama Dinilai Tak Pernah Kehabisan Cerita
Diskusi menghadirkan sejumlah pembicara dari industri perfilman, di antaranya sutradara Black Coffee Jeremias Nyangoen, sutradara film NIA dan Senyum Manies Ronny Mepet, serta produser film Made in Bali Joseph Tarigan.
Jeremias Nyangoen mengatakan perkembangan genre film Indonesia seharusnya tidak hanya terpusat pada satu jenis film. Menurutnya, keberagaman tema justru akan membuat industri perfilman nasional semakin sehat.
“Film drama akan bergulir dengan sendirinya. Kemarin ramai produksi horor, sekarang ramai drama keluarga. Kesadaran bahwa kreator film semakin banyak dan tema semakin beragam akan lebih baik,” kata Jeremias.
Ia menilai keberadaan berbagai genre seperti drama, action, horor, romance maupun film yang diangkat dari kisah nyata merupakan sesuatu yang positif.
“Kalau horor semua, ada apa sih negara ini? Jadi para kreator film itu akan berpikir juga. Pada akhirnya masyarakat semakin terdidik, kemudian ada drama keluarga, kisah nyata dihadirkan,” ujarnya.
Menurut Jeremias, film yang mengangkat realitas kehidupan masyarakat memiliki kekuatan tersendiri karena penonton dapat merasa dekat dengan cerita yang disampaikan.
Black Coffee Lahir dari Riset Mendalam
Jeremias juga membagikan pengalaman dalam menggarap film Black Coffee yang dibintangi Reza Rahadian dan Sha Ine Febrianti. Film tersebut mengangkat kisah kehidupan pasangan tunanetra yang menjalani kehidupan dengan penuh keterbatasan.
Film yang mengambil inspirasi dari kisah nyata itu tidak sekadar bercerita mengenai kopi, tetapi juga tentang manusia, cinta, keteguhan dan kemampuan untuk menemukan makna kehidupan dalam keterbatasan.
Jeremias mengatakan proses produksi Black Coffee membutuhkan riset yang cukup panjang dan mendalam.
“Butuh waktu yang lama dan riset yang mendalam sebelum film ini diproduksi,” katanya.
Ia juga menjelaskan bahwa pemilihan pemain menjadi salah satu bagian penting dalam membangun karakter. Menurutnya, pemain yang belum pernah tampil dalam film terkadang justru memiliki nilai lebih karena dapat memberikan sisi originalitas.
“Pemain baru yang belum pernah bermain punya nilai plus. Karena belum pernah bermain, kita bisa mendapatkan sisi originalitas,” jelasnya.
Dalam proses produksi, Jeremias juga mengaku kerap memanfaatkan kondisi alam sebagai bagian dari cerita. Bahkan, sejumlah kondisi alam yang muncul saat syuting justru dapat memberikan kekuatan tersendiri terhadap adegan.
Ia mencontohkan adegan badai dalam Black Coffee. Ketika kondisi alam tidak sesuai dengan rencana, tim produksi berusaha merespons situasi tersebut secara kreatif.
“Kalau ada angin, saya respons. Kru saya siap. Kita dikasih hujan oleh Tuhan, tinggal bagaimana kita memanfaatkannya. Bisa mengurangi biaya produksi,” ujarnya.
Drama Keseharian Dinilai Masih Menjadi Kekuatan Film Indonesia
Sementara itu, produser Made in Bali, Joseph Tarigan, menilai film drama yang mengangkat kehidupan sehari-hari masyarakat masih mempunyai pasar yang kuat.
“Drama yang masih diminati penonton saat ini adalah drama-drama yang dilihat keseharian, yang jujur. Drama yang menampilkan keseharian kita,” kata Joseph.
Menurut dia, salah satu kekuatan film Indonesia sejak dahulu adalah kemampuan mengangkat cerita keluarga, komedi, romance dan kisah kehidupan masyarakat.
“Kekuatan kita dari dulu kalau kita perhatikan adalah drama keluarga, komedi, ya horor juga,” ujarnya.
Joseph mengatakan dirinya tidak selalu menjadikan tren sebagai pertimbangan utama dalam memilih sebuah proyek film. Yang lebih penting adalah cerita tersebut memiliki daya tarik dan memberikan dampak positif bagi penonton.
“Bagi saya, selama film ini mengenakan buat saya dan memang akan diminati market, maka saya suka, saya ambil,” katanya.
Made in Bali Angkat Romance dan Budaya Lokal
Joseph juga menceritakan proses penggarapan Made in Bali, film romance yang mengangkat kisah anak muda sekaligus memperkenalkan budaya dan keindahan Bali.
Menurutnya, film tersebut diharapkan tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga dapat menjadi media untuk memperkenalkan budaya dan pariwisata Bali kepada masyarakat luas.
“Made in Bali saya pikirkan sebagai cerita remaja Bali dengan latar belakang budaya. Saya ingin membuat sesuatu yang berbeda,” ujarnya.
Ia berharap film Indonesia tidak sekadar mengikuti tren, tetapi juga mampu menghadirkan nilai dan pesan positif bagi masyarakat.
“Setiap film saya ingin ada sesuatu yang disampaikan. Saya ingin film yang menginspirasi dan membangun nilai kehidupan bangsa ini agar maju,” katanya.
Kisah Nyata Menjadi Kekuatan Film NIA
Sementara itu, sutradara film NIA, Ronny Mepet, menilai kisah nyata memiliki kedekatan emosional dengan masyarakat. Film NIA mengangkat kisah tragis Nia Kurnia Sari, seorang gadis asal Padang Pariaman, Sumatera Barat, yang menjadi korban kekerasan pada 2024.
Film tersebut mengisahkan kehidupan Nia yang menjadi tulang punggung keluarga dengan berjualan gorengan, hingga akhirnya menjadi korban kekerasan brutal.
Ronny mengatakan pengangkatan kisah tersebut bukan semata-mata untuk mengejar popularitas sebuah kasus yang pernah menjadi perhatian publik, tetapi juga untuk menyampaikan pesan sosial dan edukasi.
“Kalau kita mengangkat film kisah nyata, sudah dekat banget dengan masyarakat,” kata Ronny.
Ia menilai cerita mengenai Nia memiliki nilai inspiratif sekaligus edukatif karena menggambarkan perjuangan seorang anak yang sejak masih sekolah membantu perekonomian keluarganya.
“Kita ingin menyampaikan, kok ada anak sekolah sejak kelas empat SD sudah jual gorengan untuk menghidupi nafkah keluarganya. Itu dibawa ke sekolah dan diizinkan oleh gurunya,” ujarnya.
Ronny berharap kisah tersebut dapat diketahui masyarakat luas dan menjadi pembelajaran, khususnya bagi generasi muda.
Tak Selalu Mengandalkan Bintang Besar
Menariknya, Ronny mengatakan film NIA tidak menjadikan nama besar pemain sebagai satu-satunya daya jual. Menurutnya, kekuatan utama film tersebut berada pada cerita.
“Kami yakin film ini punya nilai jual. Yang dijual adalah ceritanya,” ujarnya.
Ia mengatakan dalam menentukan sebuah proyek film, aspek bisnis tetap harus diperhitungkan agar karya tersebut dapat menjangkau penonton.
“Film ini berangkat dari cerita. Bisa jualan atau tidak, saya selalu pikirkan bisnis, kecuali saya pakai uang sendiri,” katanya.
Menurut Ronny, penggarapan film yang bersumber dari kasus aktual juga memiliki tantangan tersendiri karena harus dilakukan dengan cepat agar relevansinya tidak hilang. Namun, proses adaptasi tetap harus melalui penyaringan dan pertimbangan agar cerita dapat dikonsumsi secara tepat, termasuk oleh kalangan pelajar.

AI Mulai Masuk dalam Proses Kreatif
Dalam diskusi tersebut, perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) juga menjadi perhatian.
Jeremias mengatakan perkembangan AI tidak mungkin ditolak karena teknologi tersebut menawarkan sejumlah manfaat dalam proses kreatif. Namun, menurut dia, penggunaannya tetap perlu memperhatikan batasan dan etika.
“Dalam konteks tertentu mungkin bisa menghadirkan AI dalam memproduksi film drama dengan batasan-batasan tertentu,” ujarnya.
Ia menilai industri film perlu mengikuti perkembangan teknologi, tetapi tetap harus mempertahankan unsur kreativitas dan sentuhan manusia.
“Dengan perkembangan AI sendiri kita tidak bisa menolak. Banyak juga manfaatnya,” katanya.

Film Indonesia Harus Menjadi Tuan Rumah di Negeri Sendiri
Pengamat film, seni dan budaya yang juga Ketua Diskusi Film, Liza Maria, mengatakan forum tersebut merupakan bagian dari upaya mendorong perfilman Indonesia agar terus berkembang melalui inovasi dan diskusi.
“Forum diskusi kali ini dan sebelumnya kita mengangkat diskusi tentang perfilman Indonesia agar film-film kita terus eksis, terbangun inovasi dan semakin berkembang serta diminati masyarakat kita sendiri,” kata Liza.
Ia berharap masyarakat semakin mencintai film karya anak bangsa sehingga film Indonesia dapat menjadi tuan rumah di negeri sendiri.
“Harapannya masyarakat lebih mencintai film karya anak bangsa,” ujarnya.
Diskusi tersebut sekaligus menunjukkan bahwa film drama Indonesia masih memiliki ruang yang luas untuk berkembang. Cerita keluarga, romance, kisah nyata, budaya daerah hingga persoalan sosial dinilai masih menjadi sumber cerita yang tidak pernah habis, selama dikemas dengan kreativitas, riset dan formula produksi yang tepat.
Di tengah perubahan perilaku penonton dan pesatnya perkembangan teknologi digital, tantangan sineas Indonesia bukan hanya menciptakan film yang mengikuti tren, tetapi juga menghadirkan karya yang memiliki identitas, relevan dengan kehidupan masyarakat, serta mampu meninggalkan pesan bagi penontonnya.(AS/MP).


.jpg)












