Breaking News
- PELNI Tingkatkan Kesiapsiagaan Awak Kapal Hadapi Situasi Darurat
- Satgas Sampah Koramil /Ciputat Turun Tangan Bersihkan Lingkungan di Jalan Dewi Sartika.
- Jatinangor Music Fest 2026 Meriah, Booth BNI Jadi Magnet Pengunjung
- Polemik Dualitas Alumni Trisakti, Maman: Kini Hanya Ada IKA Trisakti
- PWI Majalengka Menggema, Doa untuk 8 Orang Hilang di Krakatau
- Kodim 0506/Tgr Deteksi Dini Keamanan Dengan Patroli Pos Ronda.
- IKA Trisakti Hadirkan Trisakti Peduli, Dorong Pemulihan Ekonomi Masyarakat Pascabencana
- Koramil 01/Teluknaga Salurkan Air Bersih untuk Warga Terdampak Kemarau Panjang.
- Koramil 04/Ciledug Turun Tangan, Pasar Lembang Dibersihkan dari Sampah.
- Gabungan Wartawan Bersatu dalam Doa, KWP Gelar Doa Bersama di Kompleks DPR/MPR RI
Layanan Kesehatan Masih Diskriminatif Terhadap Pasien Perempuan

MEGAPOLITANPOS.COM: Peringatan hari Perempuan sedunia merupakan momentum bagi kaum perempuan memperkuat perjuangannya dalam memperjuangkan hak-hak perempuan didalam segala bidang kehidupan. Tak terkecuali dibidang kesehatan, khususnya dibidang pelayanan kesehatan masih banyak bentuk diskriminasi terhadap pasien di Rumah Sakit, bahkan dilakukan oleh petugas rumah sakit yang juga seorang perempuan. "Di bidang kebidanan misalnya, pasien perempuan masih sering mendapat perlakuan tidak menyenangkan saat berhadapan dengan petugas di RS" kata Agung Nugroho, ketua nasional Rekawan Kesehatan (Rekan) Indonesia di Jakarta Selatan. Perlakuan tersebut, tambah Agung terjadi mulai dari perkataan dimana petugas kesehatan di kebidanan sering mengeluarkan ungkapa kepada pasien seoerti sudah gratis masih berisik, ketika pasien berteriak kesakitan akibat menahan kontraksi, sampai tindakan yang meneror secara phisikis misalnya dilayani dengan judes dan muka masam. Selain persoalan tindakan yang tidak menyenangkan, tubuh pasien perempuanjuga tidak terjamin kemerdekaannya untuk dapat menghindar dari eksploitasi industri kesehatan dari tubuhnya. "Pada perempuan hamil, kaum perempuan tidak pernah berdaya menghadapi konspirasi bisnis persalinan yang dilakukan oleh dokter/bidan dimana sering ketika kondisi kehamilan yang seharusnya bisa secara normal lalu disarankan untuk cesar dengan pertimbangan yang membuat perempuan hamil cemas" ujar Agung menambahkan. Begitu juga dalam hal kebebasan perempuan untuk menentukan hak memilih alat kontrasepsi yang cocok untuk dirinya, dimana masih sering dijumpai perempuan yang baru saja melahirkan terutama yang menggunakan program jaminan dari pemerintah langsung dipasang alat kontrasepsi tanpa persetujuan dirinya. "Jelas ini adalah pelanggaran hak terhadap kebebasan perempuan memilih alat kontrasepsi apa yang paling cocok terhadap tubuhnya" jelas Agung "Dan ini merupakan tanggungjawab pemerintah untuk dapat menjamin perlindungan terhadap perlakuan diskriminatif kepada pasien perempuan" tegasnya.


.jpg)






.jpg)






