Breaking News
- Gathering Orang Tua Camaba FTSL ITB Tahun 2026 Penuh Kekeluargaan
- Kementerian UMKM dan APSKI Perkuat Ekosistem Kewirausahaan Perguruan Tinggi
- Ketua MUI Periuk Apresiasi Dukungan dan Prestasi di Halal Fest ke-2 dan Milad MUI ke-51
- Nurhadi : Mancing Berhadiah Jadikan Moment Terbaik Komunikasi dan Serap Aspirasi Masyarakat
- Mahasiswa Unhas dan Pemkab Bone Perkuat Sinergi melalui Bakti Sosial dan Audiensi Program Pemberdayaan
- Kontes Sapi dan Expo Skala Nasional Piala Bupati Blitar Sukses Tanpa APBD
- Dari Perkebunan ke Energi Bersih, PTPN I Dorong Bioenergi Menuju Net Zero Emission
- Ribuan Warga Padati Senam Massal Barito Utara, Bupati Serahkan Hadiah Utama Sepeda Motor dan Resmikan Futsal Bupati Cup 2026
- Bupati Barito Utara Deklarasikan GERNAS RANA, Perkuat Komitmen Lindungi Anak
- Dandim 0808/Blitar Rotasi Personel Pindah Satuan, Mutasi Pembinaan Karier Prajurit
Jelang Lebaran Brebes Optimis Suplai Bawang Merah Jabodetabek

Poto:Panen Bawang Merah di Pesantunan Brebes(Poto ASl/MP). Brebes(MegapolitanPos.com)-Kabupaten Brebes merupakan salah satu sentra produksi bawang merah di Indonesia. Kontribusinya terhadap total produksi bawang merah nasional mencapai 30 persen. Oleh karena itu, bawang merah menjadi andalan karena selain memiliki nilai ekonomis yang tinggi bawang merah sudah menjadi sumber penghasilan utama bagi masyarakat Brebes. Produksi bawang merah Kabupaten Brebes pada tahun 2019 berdasarkan data Badan Pusat Statistik sebesar 3,03 juta kuintal dan mengalami peningkatan pada tahun 2020 menjadi 3,8 juta kuintal sementara produksi nasional tahun 2020 sebesar 1,8 juta ton. Menurut Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Kadin PKP) Kabupaten Brebes Yulia Hendrawati, produksi bawang merah pada bulan Maret diperkirakan sebesar 15.840 ton. Angka ini menurutnya bisa lebih karena panen masih berlangsung, ditambah sisa bawang merah dari masa panen sebelumnya. “Brebes optimis bisa mensuplai kebutuhan bawang merah Jabodetabek menghadapi puasa Ramadhan dan lebaran. Produksi di sini masih tinggi,” kata Yulia belum lama ini, Kamis (24/3/2022). Lebih lanjut, Yulia menambahkan bahwa kebutuhan bawang merah tidak mengenal waktu sementara bawang merah sendiri merupakan komoditas musiman. Menurutnya, hal itulah yang menyebabkan harga bawang merah mengalami fluktuasi. Ia mengungkapkan bahwa harga bawang merah rogol basah di tingkat petani sebelum memasuki masa panen raya adalah Rp 18-20 ribu per kilogram, biasanya akan turun saat panen raya menjadi Rp 8 – 10 ribu dan kembali naik setelah panen di harga Rp 13-14 ribu. “Hal yang sama juga untuk bawang kering. Sebelum panen Rp 20-23 ribu, saat panen raya 11-13 ribu, dan naik kembali setelah panen raya menjadi Rp 16-17 rb per kilogram. Jadi, panen raya itu paling mempengaruhi, harga pasti turun. Dan harga di Brebes menjadi acuan di daerah lain,” jelas dia. Agar petani bawang merah tetap mendapatkan harga yang bagus saat panen dan stok berkesinambungan, Yulia mengharapkan ada pengaturan pola tanam di masing-masing daerah termasuk jalur distribusinya. “Pengaturan distribusi dari daerah surplus ke daerah minus sehingga nanti menjadi seimbang. Maksudnya begini, daerah surplus-surplus, ditarik ke beberapa titik kumpul yang besar sehingga pengelolaan dan pengontrolannya lebih mudah dan efisien. Sehingga distribusi lebih mudah, daerah yang surplus tapi jumlahnya terbatas tidak tercecer,” ungkap Yulia.(ASl/Red/MP).


.jpg)














