- Rampas Mobil Taksi Online, Pelaku Berhasil Dibekuk Jatanras PMJ di Rangkasbitung
- Disambut Pangkogabwilhan II Marsdya TNI Muzafar, Komisi I DPR RI Tegaskan Komitmen Dukung Alutsista dan Kesejahteraan Prajurit.
- Kantah Kabupaten Tangerang Serahkan 8 Sertipikat Aset BMN untuk Dukung Pembangunan Jalan Tol Tangerang–Merak.
- Sinergi Koramil dan Komduk Gelar Patroli Jaga Kondusifitas Wilayah Binaan.
- Kementerian UMKM Fasilitasi 1.000 Pengusaha Mikro di Sumatera Barat
- Kodim 0506/Tgr Sosialisasikan Penerimaan Secaba dan Secata PK TNI AD Gelombang I TA 2027, Tegaskan Gratis Tanpa Biaya.
- Kantor Pertanahan Kabupaten Pandeglang Dorong Percepatan Sertipikasi Tanah, Aset Pemda, dan Tanah Wakaf.
- Sertu Suparman Ajak Warga Tingkatkan Kewaspadaan Hadapi Musim Kemarau.
- Tim Wasrik Itdam V/Brawijaya Tinjau Proyek Pembangunan Jembatan Di Wilayah Kodim 0808/Blitar.
- Evaluasi Maturitas SPIP 2026, Kantah Kabupaten Tangerang Terima Kunjungan BPKP dan Biro OrtalaMR Kementerian ATR/BPN.
Wartawan Rebahan, Antara Kopi, Kuota, dan Copy-Paste

MEGAPOLITANPOS.COM - Di era serba cepat ini, profesi wartawan seharusnya semakin dituntut untuk gesit, cerdas, dan berani turun ke lapangan.
Namun sayangnya, muncul fenomena baru yang bisa dibilang cukup “menggelitik”, wartawan rebahan.
Ya, benar. Mereka mengaku jurnalis, tetapi medan tempurnya bukan jalanan berdebu, ruang rapat panas, atau lokasi kejadian.
Melainkan kasur empuk, ditemani secangkir kopi dan sinyal WiFi yang kadang lebih setia daripada narasumber.
Alih-alih berburu fakta, mereka berburu tombol copy dan paste.
Padahal, dalam dunia jurnalistik, menulis berita bukan sekadar merangkai kata. Ada proses panjang yang seharusnya dilalui, verifikasi, konfirmasi, hingga observasi langsung.
Tapi bagi wartawan jenis ini, tampaknya cukup satu prinsip kalau sudah ada di internet, kenapa harus capek-capek turun ke lapangan.
Lucunya lagi, berita yang diambil sering kali bukan sekadar inspirasi, tapi “diadopsi” secara utuh.
Judul diganti sedikit, isi tetap sama. Ibarat masak mie instan, hanya bungkusnya saja yang beda, rasanya tetap itu-itu juga.
Fenomena ini tentu bukan sekadar bahan candaan. Di balik kelucuannya, ada persoalan serius, runtuhnya integritas.
Sebab, wartawan sejati tidak hanya dituntut pandai menulis, tetapi juga memiliki tanggung jawab moral terhadap kebenaran.
Masyarakat berhak mendapatkan informasi yang akurat, bukan hasil salinan yang bahkan belum tentu diverifikasi.
Jika dibiarkan, bukan tidak mungkin kepercayaan publik terhadap media akan ikut “rebahan” turun dan sulit bangkit kembali.
Jadi, mungkin sudah saatnya kita membedakan mana wartawan yang benar-benar bekerja, dan mana yang sekadar login sebagai wartawan.
Karena pada akhirnya, menjadi jurnalis bukan soal seberapa cepat mengetik, tapi seberapa berani melangkah keluar rumah untuk mencari kebenaran.
(*)







.jpg)







