- PRSI Babel Sukses Ramaikan Festival Semarak Ekraf Lewat Bangka Robotic Competition 2026
- Kementerian ATR/BPN Tegaskan Dukungan terhadap Proses Hukum Kasus di Kantah Kota Serang
- Serahkan Sertipikat Hak Pakai untuk Lemhannas RI, Menteri Nusron: Perkuat Kepastian Hukum Aset Negara
- Klarifikasi Terkait Viral Harga Tabung Gas 3 Kg di Koperasi Merah Putih Ciakar, Tangerang Banten
- Belum Ada Kepastian, PT Aditya Laksana Sejahtera Minta OJK Perjelas Jadwal Mediasi
- Menteri Maman: SAPA UMKM Ubah Data Statis Jadi Kebijakan Tepat Sasaran
- Pemerintah Siapkan Regulasi DHE dan Ekspor CPO Jelang Berlaku 1 Juni 2026
- UKW Angkatan ke-65 PWI Jaya Digelar di Kantor Wali Kota Jakarta Pusat
- Eman Suherman Gegerkan Aula, Baznas Bangun Harapan Warga
- Gelaran Bersih Desa Rejowinangun Implentasikan Kerukunan Dalam Kebhinekaan Hakiki
Wartawan Rebahan, Antara Kopi, Kuota, dan Copy-Paste

MEGAPOLITANPOS.COM - Di era serba cepat ini, profesi wartawan seharusnya semakin dituntut untuk gesit, cerdas, dan berani turun ke lapangan.
Namun sayangnya, muncul fenomena baru yang bisa dibilang cukup “menggelitik”, wartawan rebahan.
Ya, benar. Mereka mengaku jurnalis, tetapi medan tempurnya bukan jalanan berdebu, ruang rapat panas, atau lokasi kejadian.
Melainkan kasur empuk, ditemani secangkir kopi dan sinyal WiFi yang kadang lebih setia daripada narasumber.
Alih-alih berburu fakta, mereka berburu tombol copy dan paste.
Padahal, dalam dunia jurnalistik, menulis berita bukan sekadar merangkai kata. Ada proses panjang yang seharusnya dilalui, verifikasi, konfirmasi, hingga observasi langsung.
Tapi bagi wartawan jenis ini, tampaknya cukup satu prinsip kalau sudah ada di internet, kenapa harus capek-capek turun ke lapangan.
Lucunya lagi, berita yang diambil sering kali bukan sekadar inspirasi, tapi “diadopsi” secara utuh.
Judul diganti sedikit, isi tetap sama. Ibarat masak mie instan, hanya bungkusnya saja yang beda, rasanya tetap itu-itu juga.
Fenomena ini tentu bukan sekadar bahan candaan. Di balik kelucuannya, ada persoalan serius, runtuhnya integritas.
Sebab, wartawan sejati tidak hanya dituntut pandai menulis, tetapi juga memiliki tanggung jawab moral terhadap kebenaran.
Masyarakat berhak mendapatkan informasi yang akurat, bukan hasil salinan yang bahkan belum tentu diverifikasi.
Jika dibiarkan, bukan tidak mungkin kepercayaan publik terhadap media akan ikut “rebahan” turun dan sulit bangkit kembali.
Jadi, mungkin sudah saatnya kita membedakan mana wartawan yang benar-benar bekerja, dan mana yang sekadar login sebagai wartawan.
Karena pada akhirnya, menjadi jurnalis bukan soal seberapa cepat mengetik, tapi seberapa berani melangkah keluar rumah untuk mencari kebenaran.
(*)
















