- Stafsus Menteri Agama Turun ke Tangerang, Pastikan GKPI Mauk Sepatan Bisa Ibadah Lagi.
- Pakar Hukum M Haryono S.H., M.H., : Elim Tyu Samba Masih Layak Menggunakan Azas Praduga Tak Bersalah ini Penjelasanya.
- Dugaan Ancaman Golok Saat Ibadah GKPI Rajeg, LBH Gekira Desak Penyelidikan Menyeluruh
- Kementerian UMKM dan UI Perkuat Sinergi Kewirausahaan Berbasis Inovasi
- PELNI Tingkatkan Kesiapsiagaan Awak Kapal Hadapi Situasi Darurat
- Satgas Sampah Koramil /Ciputat Turun Tangan Bersihkan Lingkungan di Jalan Dewi Sartika.
- Jatinangor Music Fest 2026 Meriah, Booth BNI Jadi Magnet Pengunjung
- Polemik Dualitas Alumni Trisakti, Maman: Kini Hanya Ada IKA Trisakti
- PWI Majalengka Menggema, Doa untuk 8 Orang Hilang di Krakatau
- Kodim 0506/Tgr Deteksi Dini Keamanan Dengan Patroli Pos Ronda.
Warga Kuta Baru Keluhkan Polusi Udara Diduga Dari Sebuah Pabrik Pengolahan Plastik
Keterangan Gambar : Rumah yang berada dekat dengan pabrik pengolahan plastik
MEGAPOLITANPOS.COM, Kabupaten Tangerang-Puluhan warga Kelurahan kutabaru Kecamatan Pasar kemis kabupaten Tangerang memilih menjual dengan harga murah rumahnya lantaran tidak tahan dengan aroma menyengat yang disinyalir dihasilkan dari polusi dari industri pengelohan plastik.
Hal itu diungkapkan salahseorang warga berinisial A yang mengaku memilih bertahan lantaran telah lebih dari 20 tahun tinggal dan berdampingan dengan lokasi pabrik.
Ia menuturkan, selain aroma menyengat yang seringkali dirasakan warga, kebisingan yang dihasilkan dari mesin mesin juga disebutnya sebagai pemicu puluhan warga sekitar lebih memilih hengkang dan menjual murah rumah - rumahnya.
Baca Lainnya :
- Stafsus Menteri Agama Turun ke Tangerang, Pastikan GKPI Mauk Sepatan Bisa Ibadah Lagi.
- Dugaan Ancaman Golok Saat Ibadah GKPI Rajeg, LBH Gekira Desak Penyelidikan Menyeluruh
- Satgas Sampah Koramil /Ciputat Turun Tangan Bersihkan Lingkungan di Jalan Dewi Sartika.
- PWI Majalengka Menggema, Doa untuk 8 Orang Hilang di Krakatau
- Kodim 0506/Tgr Deteksi Dini Keamanan Dengan Patroli Pos Ronda.
Penolakan - penolakan dari warga atas keberadaan industri tersebut sebelumnya telah dilakukan oleh warga sekitar hingga ke DPRD Kabupaten Tangerang, namun demikian hingga saat ini polusi udara dan kebisingan yang menjadi keresahan warga tidak mendapat respon positif dari pemerintah.
"Yang jelas kalau asep iya menyengat gitu, dulu sempet didemo ke DPRD oleh warga yang radius rumahnya berdekatan , tapi akhirnya kita cuma demo demo aja ya begitu aja,"jelasnya.
Ia menjelaskan, Aspirasi yang disebutnya kurang mendapatkan respon positif menjadikan warga pesimis akan kehadiran negara dalam menjawab keresahan masyarakat, sehingga warga lebih memilih menyerah dan menjual tanahnya dengan harga dibawah pasaran.
"Didemo kita ngga ada kekuatan, ya ngga dilayani sempat satu gang itu pindah semua hanya tertinggal satu orang dan itu sudah dibeli semua oleh mereka (perusahaan) karna dulu komplen kesitu ngga digubris ya pindah semua warga karna bau itu kayak aroma sangit sangit gitu," ujar dia.
Dengan kondisi tersebut ia berharap pemerintah dapat menanggapi dan hadir dalam menyingkapi persoalan tersebut sehingga kedepan dirinya dan beberapa warga yang masih memilih bertahan dapat lebih nyaman.
"Awal awal demo, tapi kita kalah dan pabrik itu berdiri sampe sekararang, kita ngga akan mampu melawan yang punya uang jadi rasanya percuma," ungkapnya.
Meski demikian, ia mengaku akan meminta pendampingan dari beberapa aktifis lingkungan agar keresahan yang selama ini dirasakan oleh dirinya dan puluhan warga lainnya dapat segera diakhiri.
"Kita lihat mungkin kedepannya ada aktifis lingkungan atau LBH yang dapat mendampingi kami dalam mengatasi segala kekacauan yang hari ini terjadi dilingkungan kami," pungkas dia.
Sayangnya hingga berita ini dilansir belum ada keterangan dari Manajemen perusahaan, beberapa kali wartawan mencoba mendatangi industri pengolahan pabrik tesebut namun belum ada respon.(**)










.jpg)




