- Hari Santri 2026, Nurul Anwar Ajak Santri Terus Belajar dan Berkarya
- Hari Santri 2026, Benny Siswanto Dorong Santri Berkontribusi bagi Kemajuan Daerah
- Hasil Pilkades Kebonjati Dipertanyakan, Warga Soroti Sistem QR Code
- Bangun Kedaulatan Ekonomi, Menkop Dorong Kolaborasi Cendekiawan dan Koperasi
- Sejarah Baru Pramuka Majalengka, 545 Anggota Resmi Jadi Pramuka Garuda
- Kantah Kabupaten Tangerang Salurkan UGK Untuk Pembangunan KSCS, Dukung Manfaat Air Baku bagi Masyarakat
- Perkuat Budaya Antikorupsi, Kantah Kabupaten Tangerang Ikuti Workshop Integritas Bersama KPK
- Kantah Kabupaten Pandeglang Ikuti Workshop Integritas Bersama KPK Bangun Budaya Anti Korupsi
- Lima Hari Kades Sangkanhurip Sulit Ditemui, Warga Pertanyakan Pelayanan Desa
- Kementerian UMKM Lanjutkan Pendampingan Usaha bagi UMKM Aceh Pascabencana
Pertamax Naik, Usaha Rakyat Terpukul! Pedagang dan Ojol di Majalengka Menjerit

Keterangan Gambar : Pedagang Pertamax di Pom Mini
MEGAPOLITANPOS.COM MAJALENGKA - Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax mulai memunculkan efek berantai yang dirasakan langsung oleh masyarakat kecil. Dari pemilik POM Mini, pedagang keliling, hingga pengemudi ojek online, semuanya mengaku harus menghadapi lonjakan biaya operasional yang semakin menekan penghasilan harian.
Di Kabupaten Majalengka, kondisi tersebut mulai terlihat dari menurunnya daya beli masyarakat dan merosotnya penjualan di sejumlah sektor usaha mikro yang bergantung pada kendaraan bermotor.
Pemilik POM Mini di wilayah Cigasong, Ucup (48), mengaku penjualan Pertamax miliknya turun drastis setelah harga BBM mengalami kenaikan. Jika sebelumnya dua jeriken atau sekitar 67 liter Pertamax dapat terjual dalam sehari, kini jumlah yang sama baru habis dalam waktu dua hari.
Baca Lainnya :
- Hasil Pilkades Kebonjati Dipertanyakan, Warga Soroti Sistem QR Code
- Sejarah Baru Pramuka Majalengka, 545 Anggota Resmi Jadi Pramuka Garuda
- Lima Hari Kades Sangkanhurip Sulit Ditemui, Warga Pertanyakan Pelayanan Desa
- HUT Humas Polri ke-75, Kapolres Majalengka Tegaskan Wartawan Saudara
- Ngaku PNS di Medsos, Pria Ini Diduga Bawa Kabur Scoopy Rp 24 Juta
"Biasanya satu hari habis dua jeriken, sekarang dua hari baru habis. Pembeli banyak yang mengurangi pembelian," ungkapnya, Minggu (14/6/2026).
Menurut Ucup, banyak pelanggan mulai beralih membeli BBM langsung ke SPBU atau memilih menggunakan Pertalite demi menekan pengeluaran. Selisih harga yang cukup besar membuat masyarakat semakin selektif dalam membeli bahan bakar.
Dampak serupa dirasakan para pengemudi ojek online yang setiap hari mengandalkan kendaraan sebagai sumber penghasilan. Kenaikan harga BBM membuat biaya operasional meningkat, sementara pendapatan tetap berjalan di tempat.
Gelombang kenaikan biaya juga menghantam pelaku usaha makanan keliling. Wirja (50), pedagang baso ikan asal Baribis, mengaku terpaksa menaikkan harga jual karena biaya bahan baku dan transportasi terus merangkak naik.
Sebelumnya harga tepung, aci, hingga daging ayam sudah lebih dulu mengalami kenaikan. Kini, tambahan beban dari sektor transportasi membuat ruang keuntungan semakin menyempit.
"Kalau tidak dinaikkan, keuntungan semakin kecil. Tapi setelah harga naik, pembeli juga berkurang karena banyak yang mengeluh kondisi ekonomi sedang sulit," tuturnya.
Situasi yang sama dialami Asep (45), pedagang sayur keliling yang setiap hari berkeliling menggunakan sepeda motor untuk menjangkau pelanggan di berbagai desa.
"Kalau bensin naik, biaya jalan ikut naik. Tapi harga sayur juga tidak bisa sembarangan dinaikkan karena pembeli pasti keberatan," katanya.
Menurut Asep, keuntungan yang diperoleh kini jauh lebih tipis dibandingkan sebelumnya karena sebagian besar pendapatan terserap untuk biaya operasional.
Kenaikan harga Pertamax kini bukan sekadar persoalan bahan bakar, melainkan telah menjadi tekanan baru bagi pelaku usaha mikro yang menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat. Penjualan menurun, biaya usaha meningkat, sementara daya beli warga melemah.
Di tengah kondisi tersebut, para pelaku usaha berharap adanya stabilitas harga dan kebijakan yang mampu menjaga keberlangsungan usaha kecil agar tidak semakin terhimpit oleh beban biaya yang terus meningkat. ** (Agit)
















