- Mahasiswa Unhas dan Pemkab Bone Perkuat Sinergi melalui Bakti Sosial dan Audiensi Program Pemberdayaan
- Kontes Sapi dan Expo Skala Nasional Piala Bupati Blitar Sukses Tanpa APBD
- Dari Perkebunan ke Energi Bersih, PTPN I Dorong Bioenergi Menuju Net Zero Emission
- Ribuan Warga Padati Senam Massal Barito Utara, Bupati Serahkan Hadiah Utama Sepeda Motor dan Resmikan Futsal Bupati Cup 2026
- Bupati Barito Utara Deklarasikan GERNAS RANA, Perkuat Komitmen Lindungi Anak
- Dandim 0808/Blitar Rotasi Personel Pindah Satuan, Mutasi Pembinaan Karier Prajurit
- Harlah ke 25, DPC Demokrat Kabupaten Blitar Pelopori Gerakan Indonesia Asri di Pantai Pasur
- PT. FAZ ANUGERAH NUSANTARA Dukung Program Cetak Sawah Nasional Lewat Pengadaan Pupuk dan Pestisida
- Bulutangkis Kapolri Cup 2026 Digelar, Atlet Muda hingga Penyandang Disabilitas Siap Cetak Prestasi
- Kapolda Metro dan Pangdam Jaya Sambangi Mako Kopassus
Hendry Ch Bangun Ingatkan Bahaya Ketergantungan AI dalam Jurnalisme

Keterangan Gambar : Ketua Dewan Pakar Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Pusat, Hendry Ch Bangun, dalam Seminar Green Journalism 4.0 bertema Kolaborasi Teknologi AI dan Reporter, yang digelar di Kampus FISIP Universitas Muhammadiyah Prof Dr HAMKA (Uhamka), Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa (23/12/2025).
MEGAPOLITANPOS.COM, Jakarta, — Teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dinilai berperan besar dalam mendukung kerja jurnalistik, khususnya untuk tugas-tugas yang bersifat teknis dan berulang, seperti peringkasan informasi, pengolahan data, hingga penyusunan berita berbasis data.
Namun demikian, penggunaan AI secara berlebihan juga memunculkan kekhawatiran di kalangan insan pers. Sejumlah media menilai ketergantungan terhadap AI berpotensi menurunkan ketajaman berpikir reporter, mengganggu akurasi informasi, serta menimbulkan persoalan etika jurnalistik.
“AI masih diposisikan sebagai pelengkap, bukan pengganti reporter atau editor,” tegas Ketua Dewan Pakar Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Pusat, Hendry Ch Bangun, dalam Seminar Green Journalism 4.0 bertema Kolaborasi Teknologi AI dan Reporter, yang digelar di Kampus FISIP Universitas Muhammadiyah Prof Dr HAMKA (Uhamka), Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa (23/12/2025).
Baca Lainnya :
- Penutupan UKW PWI Jabar, Atal S Depari Ingatkan Bahaya Berita Tak Terverifikasi
- 95 Wartawan Ikuti UKW di Majalengka, PWI Tekankan Profesionalisme
- Menteri UMKM: Suku Bunga Pinjaman PNM Mekar Turun Jadi 8 Persen
- Transformasi Digital UMKM Dipercepat, Kementerian UMKM Integrasikan Layanan Lewat SAPA UMKM
- Dewan Pers Berikan Mandat RRI Gelar UKW Siber, Perkuat Profesionalisme Pers Digital

Seminar yang merupakan bagian dari peringatan 6 Tahun JMSI ini juga menghadirkan Irsyan Hasyim, Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta, sebagai pembicara.
Acara dibuka oleh Wakil Dekan FISIP Uhamka, Farida Hayati, yang berharap kegiatan tersebut dapat memperkaya wawasan mahasiswa dalam menghadapi perkembangan teknologi AI yang semakin canggih dan kompleks.
Sementara itu, mewakili Ketua Umum JMSI Pusat yang berhalangan hadir, Syarif Hidayatullah, Ketua Bidang Usaha JMSI Pusat, mengatakan seminar ini merupakan bentuk kerja sama berkelanjutan antara JMSI dan kalangan akademisi.
Pemilihan tema AI dan jurnalisme dinilai relevan dengan kebutuhan media saat ini.
Dalam paparannya, Hendry Ch Bangun mengungkapkan materi yang disampaikan merupakan hasil survei khusus terhadap media-media anggota JMSI.
Ia menegaskan bahwa kerja jurnalistik di lapangan tetap membutuhkan peran manusia untuk memastikan fakta, konteks, dan nilai berita.
Ketua PWI Pusat periode 2023–2025 serta mantan Wakil Ketua Dewan Pers ini memprediksi peran AI dalam manajemen media akan semakin besar ke depan.
Namun, kualitas jurnalistik tetap ditentukan oleh kemampuan wartawan dalam berpikir kritis, memverifikasi informasi, dan menjaga etika profesi.
Mengutip berbagai kajian teknologi, Hendry menyebut AI telah merevolusi industri media dengan mengoptimalkan tugas-tugas berulang dan proses kompleks, sehingga wartawan dapat lebih fokus pada pekerjaan kreatif dan analitis.
Sementara itu, pembicara kedua Irsyan Hasyim menekankan pentingnya jurnalisme lingkungan di tengah memburuknya krisis ekologis di Indonesia.
Ia menegaskan bahwa meski teknologi AI semakin berkembang, peran reporter lapangan tidak dapat digantikan.
“Jurnalisme lingkungan memiliki tanggung jawab besar dalam mengawal kerusakan alam yang lajunya lebih cepat dibandingkan upaya pemulihannya,” ujar Irsyan.
Menurutnya, media harus melakukan pengawasan berkelanjutan terhadap kebijakan publik yang berdampak pada lingkungan hidup. Jurnalisme lingkungan, lanjut Irsyan, tidak hanya membahas isu alam, tetapi juga berkaitan erat dengan dimensi politik, ekonomi, dan sosial.(Reporter: Achmad Sholeh Alek).

.jpg)
.jpg)














