- PRSI Hadiri Bukber di Kantor Staf Presiden, Dorong SDM Berbasis Teknologi
- H. Iing Misyahudin: Idul Fitri Momentum Sucikan Hati dan Bangkit Bangun Majalengka
- Idul Fitri 2026: Perempuan Jadi Pilar Ekonomi Keluarga di Masa Sulit
- Bupati Majalengka Resmi Lepas Takbir Keliling Sambut Idul Fitri 1447 H
- Politisi Muda Disabilitas BambsoesHadir dalam Buka Puasa Bersama IKAL Lemhannas RI di Kantor Staf Presiden
- PRSI Ucapkan Selamat Nyepi, Perkuat Komitmen Program Robotika untuk Negeri
- Pastikan Kesiapan Lebaran, Bupati Barito Utara Cek Tiga Pos Strategis
- Politisi Nasdem, Hj Nety Herawati Ingatkan Pemudik Utamakan Keselamatan
- Hilal Tak Terlihat, Pemerintah Tetapkan Lebaran 2026 pada 21 Maret
- Pemerintah Tetapkan Idul Fitri 1447 Hijriah pada Sabtu 21 Maret
Hendry Ch Bangun Ingatkan Bahaya Ketergantungan AI dalam Jurnalisme

Keterangan Gambar : Ketua Dewan Pakar Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Pusat, Hendry Ch Bangun, dalam Seminar Green Journalism 4.0 bertema Kolaborasi Teknologi AI dan Reporter, yang digelar di Kampus FISIP Universitas Muhammadiyah Prof Dr HAMKA (Uhamka), Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa (23/12/2025).
MEGAPOLITANPOS.COM, Jakarta, — Teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dinilai berperan besar dalam mendukung kerja jurnalistik, khususnya untuk tugas-tugas yang bersifat teknis dan berulang, seperti peringkasan informasi, pengolahan data, hingga penyusunan berita berbasis data.
Namun demikian, penggunaan AI secara berlebihan juga memunculkan kekhawatiran di kalangan insan pers. Sejumlah media menilai ketergantungan terhadap AI berpotensi menurunkan ketajaman berpikir reporter, mengganggu akurasi informasi, serta menimbulkan persoalan etika jurnalistik.
“AI masih diposisikan sebagai pelengkap, bukan pengganti reporter atau editor,” tegas Ketua Dewan Pakar Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Pusat, Hendry Ch Bangun, dalam Seminar Green Journalism 4.0 bertema Kolaborasi Teknologi AI dan Reporter, yang digelar di Kampus FISIP Universitas Muhammadiyah Prof Dr HAMKA (Uhamka), Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa (23/12/2025).
Baca Lainnya :
- Wakabid Pendidikan PWI Jaya Indra Utama jadi Komisaris Utama Waskita Beton Precast Tbk, Kesit B Handoyo Sampaikan Ucapan Selamat
- Kolaborasi Lintas Komunitas, KRESHNA Foundation Dorong Strokers Sehat, Produktif, dan Sejahtera
- PWI Majalengka Apresiasi Sikap Terbuka Kapolri Layani Doorstop di Tengah Sorotan Kasus Oknum
- PDAM Tirta Benteng Kunjungi JMSI Kota Tangerang, Perkuat Sinergi dengan Media
- Gubernur Andra Soni: HPN 2026 Beri Dampak Nyata bagi Ekonomi Banten

Seminar yang merupakan bagian dari peringatan 6 Tahun JMSI ini juga menghadirkan Irsyan Hasyim, Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta, sebagai pembicara.
Acara dibuka oleh Wakil Dekan FISIP Uhamka, Farida Hayati, yang berharap kegiatan tersebut dapat memperkaya wawasan mahasiswa dalam menghadapi perkembangan teknologi AI yang semakin canggih dan kompleks.
Sementara itu, mewakili Ketua Umum JMSI Pusat yang berhalangan hadir, Syarif Hidayatullah, Ketua Bidang Usaha JMSI Pusat, mengatakan seminar ini merupakan bentuk kerja sama berkelanjutan antara JMSI dan kalangan akademisi.
Pemilihan tema AI dan jurnalisme dinilai relevan dengan kebutuhan media saat ini.
Dalam paparannya, Hendry Ch Bangun mengungkapkan materi yang disampaikan merupakan hasil survei khusus terhadap media-media anggota JMSI.
Ia menegaskan bahwa kerja jurnalistik di lapangan tetap membutuhkan peran manusia untuk memastikan fakta, konteks, dan nilai berita.
Ketua PWI Pusat periode 2023–2025 serta mantan Wakil Ketua Dewan Pers ini memprediksi peran AI dalam manajemen media akan semakin besar ke depan.
Namun, kualitas jurnalistik tetap ditentukan oleh kemampuan wartawan dalam berpikir kritis, memverifikasi informasi, dan menjaga etika profesi.
Mengutip berbagai kajian teknologi, Hendry menyebut AI telah merevolusi industri media dengan mengoptimalkan tugas-tugas berulang dan proses kompleks, sehingga wartawan dapat lebih fokus pada pekerjaan kreatif dan analitis.
Sementara itu, pembicara kedua Irsyan Hasyim menekankan pentingnya jurnalisme lingkungan di tengah memburuknya krisis ekologis di Indonesia.
Ia menegaskan bahwa meski teknologi AI semakin berkembang, peran reporter lapangan tidak dapat digantikan.
“Jurnalisme lingkungan memiliki tanggung jawab besar dalam mengawal kerusakan alam yang lajunya lebih cepat dibandingkan upaya pemulihannya,” ujar Irsyan.
Menurutnya, media harus melakukan pengawasan berkelanjutan terhadap kebijakan publik yang berdampak pada lingkungan hidup. Jurnalisme lingkungan, lanjut Irsyan, tidak hanya membahas isu alam, tetapi juga berkaitan erat dengan dimensi politik, ekonomi, dan sosial.(Reporter: Achmad Sholeh Alek).
















