- Polres Blitar Kota Laksanakan Ramp Check dan Tes Urine Sopir serta Awak Bus di Terminal Patria
- Geger! Kasi Satpol PP Majalengka Ditemukan Tewas Mendadak di Kamar Kos Cigasong
- PRSI Dukung Robotic Competition 2026 di Kupang, Pemkot Beri Dukungan Penuh
- BRI Life Tebar Kebaikan Ramadan Lewat Program Takjil on The Road
- Mudik Lebih Nyaman, Bank Jakarta Siapkan Posko Istirahat hingga Program Mudik Gratis
- Menkop: Kopdes Merah Putih Jadi Ujung Tombak Keadilan Ekonomi dan Solusi Kesejahteraan Desa
- Lantik Pejabat Pengawas dan Fungsional, Wamen Ossy: Ujung Tombak dalam Pelayanan Pertanahan
- Kementerian ATR/BPN Dukung Program Ketahanan Energi Lewat Penyediaan Lahan dan Tata Ruang
- Gelar Rapim, Menteri ATR/Kepala BPN Minta Jajaran Matangkan Penyelarasan Data Jelang Penetapan LSD di 12 Provinsi
- Ramadhan Berbagi, Dr H. Amrullah: Hadirkan Kebahagiaan Lintas Agama
AAJI Rilis Capaian Industri Asuransi Jiwa Periode Januari-Desember 2023, Pendapatan Premi Sebesar Rp. 177,66 Triliun

Keterangan Gambar : Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) merilis capaian Industri Asuransi Jiwa untuk periode Januari-Desember 2023
MEGAPOLITANPOS.COM, Jakarta – Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) merilis capaian Industri Asuransi Jiwa untuk periode Januari-Desember 2023, di Rumah AAJI, Jalan Talang Betutu, Tanah Abang, Jakarta Pusat. Selasa, (27/2/2024).
Dalam kesempatan itu Ketua Dewan Pengurus AAJI, Budi Tampubolon mengatakan, capaian Industri Asuransi Jiwa berdasarkan laporan kinerja dari 56 Perusahaan Asuransi Jiwa di Indonesia yang mencatat tren positif pada penjualan produk asuransi jiwa tradisional. Disisi lain, produk asuransi jiwa unit link juga masih diminati masyarakat yang membutuhkan fitur investasi pada produk asuransinya.
“Meskipun tercatat menurun dibandingkan dengan tahun 2022, produk asuransi jiwa unit link masih menunjukkan pertumbuhan. Sampai akhir tahun 2023, premi dari produk asuransi jiwa unit link mencapai Rp 85.33 triliun. Sementara itu, produk asuransi jiwa tradisional masih mendominasi pendapatan premi dengan total perolehan sebesar Rp 92,33 triliun atau naik 14,1% dibandingkan dengan tahun 2022,” ungkap Budi.
Baca Lainnya :
- Mudik Lebih Nyaman, Bank Jakarta Siapkan Posko Istirahat hingga Program Mudik Gratis
- DPR Sentil Program Konversi 120 Juta Motor Listrik: Ambisi Besar Harus Dibayar Kesiapan Nyata
- Operasi Keselamatan Lodaya 2026 Digelar, Ratusan Personel Amankan Majalengka
- DPR Dorong Percepatan Teknologi Pengolahan Sampah Usai Tragedi Bantargebang
- Panic Buying BBM Jadi Alarm Nasional, Ateng Sutisna Soroti Lemahnya Logistik Energi
Secara umum, lanjut Budi, total pendapatan asuransi jiwa sampai dengan akhir tahun 2023 berjumlah Rp 219,70 triliun. Angka tersebut menurun tipis 2% jika dibandingkan dengan total pendapatan di tahun 2022.
“Pendapatan premi asuransi jiwa sampai dengan akhir tahun 2023 berjumlah Rp 177,66 triliun. Hasil investasi menunjukkan pertumbuhan positif dengan naik 46.2% atau mencapai total Rp 32,03 triliun,” lanjut Budi.
Selain itu, Industri asuransi jiwa di tahun 2023 mencatat pencapaian positif dengan jumlah tertanggung yang mencapai 84,84 juta orang atau meningkat 0,5%. Total uang pertanggungan juga meningkat 9,9% menjadi Rp 5.343,43 triliun.
“Dari data tersebut dapat menggambarkan bahwa setiap individu yang mempunyai asuransi jiwa rata-rata memiliki uang pertanggungan sebesar Rp 63 juta. Jika dibandingkan dengan nilai upah minimum Jakarta saat ini sebesar Rp 5,6 juta maka dari angka tersebut dapat disimpulkan bahwa industri asuransi jiwa dapat memberikan ketahanan keuangan keluarga kepada setiap pemegang polis selama kurang lebih 12 bulan jika terjadi risiko yang mengakibatkan kerugian finansial. Semakin tinggi uang pertanggungan yang dimiliki maka akan semakin memperkuat ketahanan keuangannya,” ujar Budi.
Masih dalam capaian industri asuransi jiwa, AAJI juga mengungkapkan, klaim asuransi kesehatan mengalami peningkatan signifikan sepanjang tahun 2023.
"AAJI secara khusus menyoroti terjadinya peningkatan pada klaim asuransi kesehatan karena meningkatnya cukup besar," ungkap Ketua Bidang Literasi dan Pelindungan Konsumen AAJI Freddy Thamrin dalam acara tersebut.
Disebutkan, total klaim asuransi kesehatan di tahun 2023 meningkat sebesar 24,9 persen menjadi Rp 20,83 triliun dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai Rp 16,68 triliun.
Menurut Freddy, faktor utama pendorongnya (peningkatan klaim kesehatan) adalah inflasi medis yang tinggi, meliputi harga fasilitas kesehatan, biaya perawatan rumah sakit termasuk biaya pelayanan, obat dan berbagai tes kesehatan.
"Faktor lainnya adalah perubahan iklim ekstrem dan meningkatnya kesadaran masyarakat untuk mendapatkan layanan kesehatan yang optimal," imbuhnya.
Untuk mengatasi tantangan ini, tambah Freddy, industri asuransi jiwa mengambil langkah-langkah seperti meninjau kerjasama dengan rumah sakit, mengevaluasi produk dan premi berdasarkan pengalaman klaim, serta memfasilitasi diskusi antar perusahaan anggota AAJI.
"AAJI sedang mengkaji pembentukan metode pertukaran informasi antar perusahaan anggota untuk mewujudkan sektor kesehatan yang lebih transparan, akuntabel dan efisien," pungkasnya. ** (Anton)













