- Warisan Leluhur yang Tetap Hidup, Hajat Laut Pangandaran Dorong Pariwisata Daerah
- Disambut Meriah di Istana Merdeka, Presiden Steinmeier Bahas Kerja Sama Strategis dengan Prabowo
- 585 Personel Gabungan Jajaran Polda Metro Disiagakan pada Kunjungan Kenegaraan Presiden Jerman
- Pesan Megawati Kepada Generasi Muda Dalam Bulan Bung Karno
- Jakarta Fair Kemayoran 2026 Semakin Semarak dengan Pertunjukan Barongsai Berkelas Dunia
- BNI Apresiasi Prestasi Alwi Farhan di Australia Open 2026, Pembinaan PBSI Dinilai Berhasil
- Jaga Stabilitas Keamanan Koramil 06/ Cbd dan Koramil 09/Setu Patroli Malam
- Berikan Pengarahan di Kantah Kota Samarinda, Wamen Ossy: ATR/BPN Harus Jadi Solusi Atas Pembangunan di Kalimantan Timur
- Jadi Pembicara di Akademi Politik UMJ, Wamen ATR/Waka BPN: Pertanahan Berperan Strategis dalam Mendukung Asta Cita Presiden
- Sambut Kedatangan Megawati di Bulan Bung Karno Sebagai Loyalitas Kader Partai
Toko Obat di Cisoka Diamuk Massa Lantaran Diduga Jual Obat Terlarang

Keterangan Gambar : Sebuah toko obat di Cisoka diamuk massa diduga menjual obat-obatan terlarang.
MEGAPOLITANPOS.COM, Kabupaten Tangerang – Sebuah toko obat yang disinyalir menjual obat-obatan terlarang di Desa Cempaka, Kecamatan Cisoka, Kabupaten Tangerang menjadi sasaran amuk massa, minggu (18/12/2022).
Kemarahan warga atas keberadaan toko obat yang diduga mengedarkan obat-obatan terlarang jenis Hexymer, Dekstrometorfan, dan Tramadol lantaran toko tersebut sudah sepakat untuk tidak lagi berjualan di Desa Cempaka.
“Kami sebelumnya sudah membuat suatu petisi terhadap keberadaan toko obat itu, waktu itu kami di mediasi oleh pihak desa dan mereka sepakat untuk pindah dari desa kami,” ungkap Otonk Netto salah seorang ketua pemuda Desa Cempaka kepada pewarta.
Baca Lainnya :
- Pesan Megawati Kepada Generasi Muda Dalam Bulan Bung Karno
- Sambut Kedatangan Megawati di Bulan Bung Karno Sebagai Loyalitas Kader Partai
- Pertamax Naik, Usaha Rakyat Terpukul! Pedagang dan Ojol di Majalengka Menjerit
- Aliansi Blitar Bersatu Bakal Gelar Tandingan Apel Akbar Dukung Program MBG
- Ribuan Relawan Penggiat MBG Blitar Raya Akan Melakukan Aksi Damai
Ia menuturkan, kemarahan warga yang tidak lagi bisa dibendung lantaran beberapa pemuda di desanya sudah menjadi korban atas peredaran obat-obatan terlarang.
“Itu toko obat sudah lima tahun buka di sini, kami sudah tidak lagi memberikan toleransi lagi karena sudah ada pemuda sini yang meninggal diduga gara-gara eksimer. Ada yang satu lagi terganggu kejiwaannya dan semuanya pemuda desa kami,” ungkap Otonk Netto yang juga aktif sebagai penggiat media sosial.
Ironisnya lagi, Netto menyebut peredaran obat-obatan terlarang jenis Eximer, Dekstrometorfan dan, Tramadol sudah merangsek ke kalangan anak-anak usia sekolah dasar, sehingga tidak lagi ada alasan untuk toko obat yang diduga mengedarkan obat tersebut untuk beroperasi di desanya.
“Kami pernah menanyakan kepada ibu-ibu yang beli obat di sana untuk putranya yang kecanduan. Jadi kalau nggak dikasih (obat) si anak ngamuk-ngamuk, nendangin tv, apa aja dia tendang,” ujar Otonk Netto.
Di sisi lain, keberadaan toko yang diduga mengedarkan obat-obatan terlarang tersebut sudah terang-terangan dalam mengedarkan barang terlarangnya yang memicu kemarahan warga Desa Cempaka.
“Entah ada siapa di belakangnya atau gimana? itu toko sudah meresahkan lah pokoknya,” ungkap Otonk Netto.
Netto menegaskan, untuk menghindari hal-hal anarki yang lebih parah, pekerja toko dan ratusan butir obat terlarang diserahkan ke Kepolisian Sektor (Polsek) Cisoka untuk ditindak lanjuti.
“Wah, kalau nggak diserahkan ke polsek bisa lebih parah. Untungnya sebelum massa aksi menjurus ke anarkis kami serahkan ke polisi,” ujar Otonk Netto.

















