- Bank Jakarta Usung Visi Financial Operating System untuk Perkuat Ekosistem Kota
- Bupati Barito Utara Tinjau Pembangunan Jembatan Tumpung Laung-Sikan
- Pemkot Tangerang Pastikan SD Swasta Gratis dan Negeri di Kota Tangerang Sama-Sama Berkualitas
- Budidaya Melon Lahan Sempit Untuk Daerah Perkotaan
- Erick Thohir: Garuda di Dadaku Ajarkan Generasi Muda Pentingnya Kebersamaan dan Kerja Sama
- Bunda Guru Barito Utara Paparkan Strategi Sukseskan Wajib Belajar 13 Tahun di Konkerkab I PGRI
- Bupati Barito Utara Buka Konferensi Kerja PGRI Tahun 2026
- Perkuat Ketahanan Pangan, Bhabinkamtibmas Nglegok Dampingi Petani Kelola Lahan Jagung
- PRJ 2026 Hadir Lebih Meriah, 2.800 Peserta Ramaikan Jakarta Fair Kemayoran
- Komisi III DPRD Bunyikan Alarm! Iing : Gunung Sampah Bisa Jadi Petaka Besar Majalengka
Bank Jakarta Usung Visi Financial Operating System untuk Perkuat Ekosistem Kota

Keterangan Gambar : Direktur Utama Bank Jakarta, Agus H. Widodo, dalam kegiatan Urban Talks BUMD
MEGAPOLITANPOS.COM, Jakarta,- Bank Jakarta menegaskan komitmennya untuk menjadi Financial Operating System yang menghubungkan berbagai elemen pembangunan kota guna mendukung terwujudnya Jakarta sebagai kota global yang inklusif dan berkelanjutan.
Komitmen tersebut disampaikan Direktur Utama Bank Jakarta, Agus H. Widodo, dalam kegiatan Urban Talks BUMD: Katalisator Kota, Akselerator Pembangunan yang merupakan rangkaian Jakarta Future Festival 2026 di Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (5/6/2026).
Menurut Agus, tantangan utama Jakarta saat ini bukan lagi soal ketersediaan infrastruktur fisik maupun teknologi, melainkan bagaimana membangun keterhubungan yang lebih kuat di antara seluruh pemangku kepentingan kota.
Baca Lainnya :
“Jakarta tidak kekurangan gedung, jalan, maupun teknologi. Yang masih perlu diperkuat adalah keterhubungan antara warga dengan layanan, UMKM dengan pasar, investor dengan peluang, serta pemerintah dengan masyarakat,” ujar Agus.
Ia menjelaskan, berbagai BUMD telah memiliki peran strategis dalam mendukung kehidupan perkotaan. MRT Jakarta, misalnya, berfungsi sebagai Mobility Operating System yang menghubungkan mobilitas warga, sementara Transjakarta menjadi platform transportasi publik dan PAM Jaya mengelola layanan air bersih. Dalam ekosistem tersebut, Bank Jakarta ingin mengambil peran sebagai penghubung sektor keuangan kota.
“Bank Jakarta ingin menjadi Financial Operating System bagi Jakarta, yang menghubungkan berbagai peluang dan kebutuhan masyarakat dalam satu ekosistem keuangan yang terintegrasi,” katanya.
Untuk mewujudkan visi tersebut, Bank Jakarta menyiapkan empat strategi utama. Pertama, memperluas inklusi keuangan agar seluruh warga Jakarta dapat mengakses layanan keuangan formal secara mudah, aman, dan berbasis digital.
Agus mengakui masih terdapat sebagian masyarakat yang belum terhubung dengan sistem keuangan formal sehingga membutuhkan pendekatan yang lebih luas dan inklusif.
Strategi kedua adalah memperkuat pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Menurutnya, dukungan kepada UMKM tidak cukup hanya melalui pembiayaan, tetapi juga harus mencakup akses terhadap pasar, digitalisasi usaha, dan penguatan rantai pasok.
“UMKM tidak hanya membutuhkan pinjaman, tetapi juga membutuhkan kesempatan untuk berkembang dan masuk ke dalam ekosistem ekonomi yang lebih besar,” ujarnya.
Langkah ketiga adalah memperluas akses pembiayaan perumahan melalui program housing inclusion. Agus menilai kepemilikan rumah yang terjangkau masih menjadi tantangan besar bagi generasi muda Jakarta sehingga perlu menjadi perhatian dalam strategi pembangunan kota.
“Akses pembiayaan rumah harus menjadi bagian dari strategi kota karena banyak anak muda yang kesulitan menjangkau harga rumah di Jakarta,” katanya.
Sementara itu, strategi keempat difokuskan pada investment enablement atau penguatan iklim investasi. Bank Jakarta berupaya membangun kepercayaan investor untuk menanamkan modal di Jakarta guna mendukung pembangunan yang berkelanjutan.
Menurut Agus, pembangunan kota global tidak dapat hanya mengandalkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), tetapi membutuhkan dukungan investasi yang kuat dari berbagai pihak.
“Peran Bank Jakarta bukan sekadar menghimpun dana dan menyalurkan kredit, tetapi menjadi penghubung antara warga, UMKM, pemerintah, dan investor dalam satu ekosistem kota,” tegasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Agus juga menekankan pentingnya prinsip no one left behind dalam transformasi digital dan pembangunan perkotaan. Ia menilai kemajuan teknologi harus mampu membuka peluang yang lebih luas bagi seluruh lapisan masyarakat, termasuk pelaku usaha kecil, pedagang kaki lima, dan keluarga muda yang tengah berjuang memiliki rumah pertama.
“Teknologi tanpa inklusi hanya akan menciptakan kesenjangan yang semakin lebar. Karena itu, transformasi digital harus memberi manfaat bagi mereka yang selama ini tertinggal,” ujarnya.
Agus menambahkan, peran BUMD saat ini telah berkembang menjadi penggerak ekosistem pembangunan yang mampu menciptakan peluang ekonomi dan sosial bagi masyarakat.
“Ukuran keberhasilan Jakarta bukan seberapa tinggi gedung yang berdiri, tetapi seberapa banyak mimpi yang dapat diwujudkan oleh warganya. Jika MRT menghubungkan titik-titik kota, maka Bank Jakarta akan menghubungkan peluang-peluang kehidupan,” pungkasnya.
Melalui visi sebagai Financial Operating System, Bank Jakarta berharap dapat menjadi katalisator yang memperkuat konektivitas ekonomi kota sekaligus mendukung Jakarta menjadi kota yang tangguh, cerdas, kompetitif secara global, dan memberikan kesempatan yang setara bagi seluruh warganya.(AS/MP).

.jpg)

.jpg)












