- Pemprov DKI Jakarta Resmi Cabut Izin Operasional B Fashion dan The Seven terkait Peredaran Narkotika
- Peserta UKW di Barito Utara Diberi Pembekalan, Wartawan Senior Tekankan Etika dan Verifikasi Berita
- Komitmen Hijau BNI: Konservasi Satwa Dilindungi hingga Pemberdayaan Desa Penyangga
- Prabowo Resmikan 1.061 Koperasi Merah Putih di Jatim-Jateng, Tonggak Baru Ekonomi Desa
- Menikmati Sunrise dari Atas Awan, Nimo Highland Jadi Primadona Libur Panjang
- Dukung Suporter Indonesia di Thailand Open 2026, BNI Andalkan QRIS wondr by BNI
- Menkop Ajak Koperasi Tebu Rakyat Miliki Saham Pabrik Gula
- Ditreskrimum Polda Metro Siapkan Tim Buru Begal dan Kejahatan Jalanan 24 Jam
- Wujudkan Swasembada Gula Kementan Kerjasama CV Lang Buana Tanam Bibit Unggul Tebu Aas Agribun
- BNI Perkuat Dukungan untuk PBSI, Regenerasi Atlet Bulu Tangkis Indonesia Kian Bersinar
Warga Keluhkan Sulitnya Tanda Tangan Kades Kandawati dan Dugaan Jatah Rp1.200 per Meter

Keterangan Gambar : Kantor desa Kandawati Kec.Gunung Kaler Kab.Tangerang
MEGAPOLITANPOS.COM, KABUPATEN TANGERANG – Pelayanan publik di Desa Kandawati, Kecamatan Gunung Kaler, menjadi sorotan. Kepala Desa (Kades) Kandawati, Sumarni, diduga mempersulit pengurusan Surat Keterangan Waris (SKW) warga dengan alasan yang simpang siur, mulai dari kondisi kesehatan hingga adanya permintaan uang "jatah".
Pada Senin (13/04/2026), sejumlah wartawan mendatangi Kantor Desa Kandawati, Kec. Gunung Kalir, Kab. Tangerang untuk mengonfirmasi keluhan warga. Staf desa bernama Suli menyatakan bahwa Kades tidak masuk kantor karena sakit. Namun, keterangan tersebut terpatahkan setelah seorang warga, H. Nurdin, menginformasikan bahwa Kades sedang berada di kios miliknya di Kampung Cibanteng, Desa Kresek.
Entah siapa yang yang berbohong ? Saat didatangi, ternyata Sumarni kedapatan sedang sehat dan tengah mengawasi tukang bangunan yang merenovasi kiosnya.
Baca Lainnya :
- Wujudkan Swasembada Gula Kementan Kerjasama CV Lang Buana Tanam Bibit Unggul Tebu Aas Agribun
- Chandra Terpilih Secara Aklamasi, Lurah Cipondoh Makmur Segera Membuat SK Ketua RW 11
- YPPM Ungkap Alasan Pilih Otong Syuhada Jadi Rektor UNMA
- Kadisdik Kota Tangerang Beberkan Rincian Program Sekolah Gratis Tahun 2026
- DPRD Majalengka Bongkar Dilema Galian C Ilegal : Lingkungan Rusak, Rakyat Terjepit
Kepada wartawan, Sumarni membantah telah mempersulit warga. Ia berdalih enggan menandatangani dokumen karena yang datang adalah utusan notaris, bukan warga yang bersangkutan secara langsung.
"Saya akan tanda tangani kalau warganya sendiri yang menghadap. Dan terkait pungutan, saya tidak merasa meminta, namun lebih jelasnya nunggu suami saya biar dia yang menjelaskan," tegas Sumarni. Ia membantah adanya pungutan liar kepada perusahaan pembeli tanah, meski tidak secara tegas menjelaskan adanya penerimaan jatah dari pihak perusahaan yang detailnya disebut hanya diketahui oleh suaminya.
Di sisi lain, Tuti, seorang utusan notaris, membeberkan fakta berbeda. Menurutnya, SKW baru akan ditandatangani jika "uang jatah" sebesar Rp1.200 per meter diselesaikan. Keluhan senada disampaikan oleh Sinan, warga setempat, yang juga menyoroti keterlibatan suami Kades dalam urusan administrasi desa yang bukan kewenangannya.
"Surat keterangan waris dipersulit, baru ditandatangani kalau uang jatahnya beres, bahkan tanah yang wakaf pun ikut dihitung jatah per meternya," ungkap Tuti.
Perwakilan perusahaan pembeli tanah mengaku terpaksa menalangi permintaan uang jatah tersebut agar proses jual-beli lancar. Namun, ia menyayangkan karena meski uang sudah diserahkan, sebagian dokumen tetap tidak ditandatangani.
"Saya ada saksi dan bukti menyerahkan uang tersebut. Bahkan sekarang permintaannya naik dari Rp1.200 menjadi Rp1.500 per meter, saya tidak mau," ungkap pihak perusahaan yang enggan disebutkan namanya.
Hingga berita ini diturunkan, warga berharap ada tindakan tegas dari instansi terkait di Kabupaten Tangerang agar pelayanan administrasi di Desa Kandawati kembali bersih dan transparan tanpa ada intervensi dari pihak luar kantor desa.(Mw)









1.jpg)







