Lebih dari Seabad Berdiri, Sekolah Panggung di Malabar Simpan Sejarah Pendidikan Bangsa

By Achmad Sholeh(Alek) 22 Jun 2026, 12:23:54 WIB Sejarah Indonesia
Lebih dari Seabad Berdiri, Sekolah Panggung di Malabar Simpan Sejarah Pendidikan Bangsa

Keterangan Gambar : Berdiri Sejak 1901, SDN Malabar II Jadi Saksi Perjuangan


MEGAPOLITANPOS.COM, Pangalengan– Di tengah hamparan hijau perkebunan teh Gunung Malabar, Kabupaten Bandung, berdiri sebuah bangunan sederhana yang menyimpan sejarah besar bagi dunia pendidikan Indonesia. Sekolah yang kini bernama SD Negeri Malabar II tersebut telah menjadi saksi perjalanan pendidikan rakyat selama lebih dari satu abad.

Awalnya dikenal sebagai Vervoloog Malabar, sekolah ini didirikan pada tahun 1901 oleh pelopor perkebunan teh Malabar, Karel Albert Rudolf (KAR) Bosscha. Di tengah kuatnya pembatasan akses pendidikan bagi masyarakat pribumi pada masa kolonial, Bosscha mengambil langkah berani dengan membuka kesempatan belajar secara gratis bagi anak-anak karyawan dan buruh perkebunan.

Sekolah tersebut menjadi salah satu embrio pendidikan rakyat yang bertujuan memberantas buta aksara dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat sekitar perkebunan. Kini, bangunan bersejarah itu telah bertransformasi menjadi SD Negeri Malabar II yang dikelola pemerintah, namun jejak sejarahnya masih terjaga dengan baik.

Baca Lainnya :

Berbagai foto dokumentasi kegiatan belajar mengajar pada masa lampau masih tersimpan dan dipajang sebagai pengingat perjuangan generasi terdahulu dalam memperoleh pendidikan. Nilai-nilai sejarah tersebut menjadi inspirasi bagi para siswa dan tenaga pendidik untuk terus melahirkan prestasi.

Direktur Utama PTPN I (Persero), Teddy Yunirman Danas, menegaskan bahwa menjaga warisan pendidikan seperti SDN Malabar II merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam membangun masa depan bangsa.

"PTPN I hadir tidak hanya sebagai penggerak ekonomi wilayah, tetapi juga berkomitmen aktif dalam mencerdaskan generasi penerus, baik putra-putri karyawan maupun masyarakat di sekitar perkebunan. Ini adalah warisan moral yang menegaskan bahwa sejak dulu perusahaan peduli dengan pendidikan," ujar Teddy.

Menurutnya, keberadaan sekolah bersejarah tersebut bukan sekadar aset fisik, melainkan simbol kepedulian sosial yang harus terus dijaga sebagai investasi jangka panjang bagi kemajuan literasi nasional.

Kisah sekolah ini juga hidup dalam ingatan para alumninya. Asep (85), pensiunan karyawan pabrik teh Malabar, mengenang masa sekolahnya pada era 1950-an di bangunan panggung yang menjadi ciri khas sekolah tersebut.

"Dulu saya sekolah di sana sekitar tahun 1950-an. Menurut orang-orang, Tuan Bosscha sangat berani membuka sekolah bagi kaum pribumi, khususnya wong cilik," kenangnya.

Cerita serupa datang dari Maman (86) atau Abah Uci, alumnus yang kini masih aktif sebagai penarik ojek pangkalan di kawasan Pintu Malabar. Ia menyebut sekolah tersebut dahulu dikenal masyarakat sebagai Sekolah Rakyat (SR) Ciemas.

"Tahun 1958 abah sudah lulus dari SR Ciemas. Sekolah ini dulu dibangun oleh Bosscha. Kondisinya dulu bagus dan terawat. Sekarang bangunan panggungnya terlihat kusam, sayang belum ada bantuan pemugaran dari pemerintah," ungkapnya.

Menariknya, pendidikan di sekolah tersebut telah mengalir dalam keluarganya selama tiga generasi. Kakek, ayah, hingga dirinya pernah mengenyam pendidikan di tempat yang sama.

Pada awal berdirinya, sekolah ini hanya memiliki empat ruang belajar berukuran 5 x 6 meter dengan dinding bilik bambu dan lantai kayu jati. Para murid belajar menggunakan sabak dan gerip sambil duduk di atas tikar. Meski sederhana, sekolah tersebut berhasil melahirkan banyak lulusan yang kemudian melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi seperti HIS dan MULO di Bandung.

Perjalanan panjang sekolah ini juga tercermin dari perubahan namanya yang mengikuti dinamika sejarah bangsa. Dari Vervoloog Malabar pada masa kolonial, berubah menjadi Sekolah Rendah, kemudian Sekolah Rakyat (SR), hingga kini menjadi SD Negeri Malabar II.

Pada tahun 1955, pihak perkebunan menambah tiga ruang permanen untuk mengakomodasi meningkatnya jumlah siswa. Meski popularitasnya mulai berkurang setelah berdirinya SDN Malabar 4 pada 1982, sekolah panggung bersejarah ini tetap menjadi simbol perjuangan pendidikan di kawasan Pangalengan.

Sebagai pewaris sejarah, PTPN I menegaskan komitmennya untuk terus menjaga nilai-nilai historis dan semangat literasi yang diwariskan sejak masa KAR Bosscha. Di tengah perkembangan zaman, sekolah tua di kaki Gunung Malabar itu tetap berdiri sebagai monumen hidup pendidikan nasional yang mengingatkan bahwa akses pendidikan merupakan fondasi utama kemajuan bangsa.(AS/MP).




  • Lebih dari Seabad Berdiri, Sekolah Panggung di Malabar Simpan Sejarah Pendidikan Bangsa

    🕔12:23:54, 22 Jun 2026