- Bupati Eman Resmikan Revitalisasi SMPN 1 Leuwimunding, Ini Harapannya
- Kementerian UMKM: Opera Batak Jadi Motor Penggerak Pariwisata dan Pemberdayaan UMKM
- Jakarta Fair 2026 Sukses Besar, Ribuan Pelaku Usaha Dongkrak Perputaran Ekonomi Jakarta
- Bupati Barito Utara Lepas Kontingen O2SN 2026, Minta Atlet Junjung Tinggi Sportivitas
- Tradisi Bersih Desa Sumberagung Wujudkan Integral Kebhinekaan Nusantara
- Hari Terakhir Jakarta Fair 2026, Diskon hingga 80 Persen dan Pesta Kembang Api Siap Memukau
- Perkuat Ukhuwah, Subling ke-45 di Masjid Al-Mustaqim Dihadiri Ratusan Jamaah
- Pengurus Ranting Muslimat NU Desa Tumpang Kecamatan Talun Menggelar Pengajian dan Santunan Yatim Piatu
- Angkat Destinasi Wisata, Tan Ngi Hing Perjuangkan Akses Jembatan Garuda
- Mempererat Hubungan Kekeluargaan, PDI Perjuangan Buka Dapur Umum
Kementerian UMKM: Opera Batak Jadi Motor Penggerak Pariwisata dan Pemberdayaan UMKM

Keterangan Gambar : Kementerian UMKM Dukung Kebangkitan Opera Batak.,
MEGAPOLITANPOS.COM, Tapanuli Utara – Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) memperkuat sinergi antara sektor pariwisata, ekonomi kreatif, pelestarian budaya, dan pemberdayaan UMKM melalui pagelaran Opera dan Konser Musik "Tona Sian Huta: Dari Danau Toba untuk Dunia" yang digelar di Gedung Jetun Silangit, Tapanuli Utara, Sumatera Utara, Sabtu (11/7/2026).
Pagelaran budaya tersebut dibuka secara resmi oleh Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya bersama Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Lamhot Sinaga selaku Ketua Dewan Penasehat kegiatan. Acara juga dihadiri perwakilan Kementerian Pariwisata serta Kementerian UMKM.
Baca Lainnya :
Staf Ahli Menteri UMKM Bidang Hukum dan Kebijakan Publik, Reghi Perdana, mengatakan kolaborasi lintas sektor menjadi bukti bahwa pelestarian budaya dapat berjalan beriringan dengan penguatan ekonomi masyarakat.
"Kementerian UMKM berkolaborasi menghadirkan kekayaan budaya Batak yang berpadu dengan semangat pemberdayaan ekonomi rakyat melalui pagelaran opera," ujar Reghi.
Opera Batak yang dipentaskan mengangkat perjalanan sejarah dan peradaban masyarakat Batak, mulai dari legenda asal-usul Danau Toba, perjuangan Sisingamangaraja XII melawan penjajah, kiprah Ludwig Ingwer Nommensen dalam pengembangan pendidikan dan penyebaran agama Kristen, hingga dinamika kehidupan masyarakat Batak masa kini.
Selain menjadi panggung seni budaya, kegiatan ini juga menghadirkan pameran dan pasar kreatif yang menampilkan ratusan produk unggulan UMKM dari kawasan Danau Toba. Berbagai produk seperti ulos, kerajinan tangan, kuliner khas, hingga komoditas unggulan daerah diperkenalkan kepada masyarakat dan wisatawan sebagai upaya memperluas akses pasar sekaligus meningkatkan nilai tambah ekonomi lokal.
"Gagasan menghidupkan kembali pertunjukan Opera Batak merupakan hal yang luar biasa. Apalagi kegiatan ini dikolaborasikan dengan sektor pariwisata, ekonomi kreatif, dan UMKM," kata Reghi.
Pagelaran yang diselenggarakan Persatuan Artis Batak Indonesia (PARBI) itu mendapat dukungan dari Kementerian Ekonomi Kreatif, Kementerian Pariwisata, dan Kementerian UMKM sebagai bentuk komitmen bersama dalam membangun ekosistem pariwisata berbasis budaya sekaligus memperluas peluang usaha bagi pelaku UMKM.
Menurut Reghi, sinergi antara pariwisata, ekonomi kreatif, dan UMKM merupakan strategi penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.
"Ketika destinasi seperti Danau Toba menghadirkan pagelaran seni dan budaya yang berkualitas, kunjungan wisata akan meningkat, ekonomi kreatif bergerak, dan UMKM memperoleh peluang yang lebih besar untuk memasarkan produknya," ujarnya.
Ia menambahkan, Opera Batak yang dipadukan dengan konser musik menjadi media efektif untuk memperkenalkan sekaligus melestarikan warisan budaya Nusantara kepada generasi muda maupun wisatawan. Dengan demikian, kekayaan budaya Batak tidak hanya menjadi daya tarik wisata, tetapi juga mampu menggerakkan ekonomi masyarakat secara berkelanjutan.
Sementara itu, Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Lamhot Sinaga menilai Opera Batak memiliki nilai budaya dan pesan moral yang sangat kuat bagi masyarakat.
"Opera Batak ini sudah punah sejak lebih dari 40 tahun lalu. Terakhir saya menyaksikannya ketika masih duduk di sekolah dasar," ungkap Lamhot.
Ia optimistis pagelaran "Tona Sian Huta" menjadi momentum kebangkitan Opera Batak sekaligus mendorong pembangunan ekonomi kawasan Danau Toba melalui penguatan sektor pariwisata, ekonomi kreatif, dan UMKM.
Menurut Lamhot, pelestarian budaya bukan hanya menjaga identitas bangsa, tetapi juga membuka peluang usaha, meningkatkan kreativitas masyarakat, menciptakan lapangan kerja, serta memperkuat daya saing pelaku UMKM.
"Opera Batak harus terus dilestarikan. Melalui penyelenggaraan acara ini, saya berharap Opera Batak bangkit kembali dan dapat diselenggarakan secara rutin setiap tahun," tutupnya.
Kebangkitan Opera Batak melalui kolaborasi lintas kementerian dan berbagai pemangku kepentingan diharapkan menjadi model pengembangan ekonomi berbasis budaya yang mampu memperkuat posisi Danau Toba sebagai destinasi wisata kelas dunia sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui tumbuhnya sektor UMKM dan ekonomi kreatif secara berkelanjutan.(AS/MP).
















