- Gusmardi Bustami: Dari Order Menjadi Ekspor Nyata, Tantangan UKM Indonesia
- Syukuran HUT ke-81 TNI di Makogabwilhan II: Kaskogabwilhan II Potong Tumpeng dan Tekankan Pentingnya Syukur serta Soliditasm
- HUT ke-81 TNI, Kogabwilhan II Komitmen Perkuat Profesionalisme Demi Kawal Kedaulatan Negara.
- Pansus CSR DPRD DKI Apresiasi Program CSR Biodigester Sampah Organik Komunal Bank Jakarta, Ubah Sampah Jadi Energi Biogas
- Dandim 0808/Blitar Pimpin Apel HUT Ke 81 TNI, Tegaskan Komitmen Kawal Kedaulatan Bersama Rakyat.
- BAZNAS Majalengka Raih Penghargaan, Gerakan Zakat Makin Berdampak
- Wali Kota Jakpus Buka UKW Angkatan ke-66 PWI Jaya, Tekankan Pentingnya Akurasi dan Kompetensi Wartawan
- Polisi Bongkar Curat di Maja, Pelaku Ditangkap di Sumedang
- Cari Sensasi Berujung Bui, 3 Pemuda Majalengka Ditahan Polisi
- Peringati HUT TNI Ke-81, Danrem Olahraga Bersama 2000 Masyarakat.
Dampak Marketplace, Para Pedagang Pasar Tanah Abang Keluhkan Sepi Pengunjung

Keterangan Gambar : MenkopUKM Teten Masduki saat melakukan Sidak ke Pasar Tanah Abang, Selasa 19/9/2023
MEGAPOLITANPOS.COM, Jakarta- Pasar Tanah Abang, pasar tekstil terbesar se-Asia Tenggara. Pasar yang berdiri sejak tahun 1735 itu yang dahulu menjadi pusat perbelanjaan paling ramai kini mulai nampak sepi dari pengunjung.
Hal tersebut terlihat dari sejumlah toko yang sudah mulai tutup di lantai 3A, seakan Pasar Tanah Abang sudah tak lagi diminati pengunjung.
Sepinya kunjungan pembeli di pasar Tanah Abang diduga akibat peralihan perilaku konsumen yang mulai beralih melakukan pembelian secara daring melalui Apl Marketplace atau Tiktok.
Baca Lainnya :
- Gusmardi Bustami: Dari Order Menjadi Ekspor Nyata, Tantangan UKM Indonesia
- Wamen UMKM Helvi Moraza Dorong UMKM Sumbar Bangkit dan Naik Kelas Pascabencana
- Sport City Jadi Strategi Baru Kota Tangerang Gerakkan Hotel, UMKM dan Tingkatkan Ekonomi.
- Hari Batik Nasional, BNI Dorong Perajin dan UMKM Batik Naik Kelas hingga Pasar Global
- SMESCO Luncurkan SIAP 2026, Dorong UMKM Naik Kelas dan Tembus Pasar Global
Ibu Ade salah seorang pedagang yang sudah berjualan puluhan tahun, mengaku kini tokonya mengalami sepi pembeli, pasalnya sudah tergerus online. Dirinya terpaksa harus belajar bagaimana untuk berjualan secara online, tetapi itu pun sulit.
" Saat berjualan secara online, hanya dikunjungi 2 atau 3 pemesan saja, karena follower saya masih sedikit, sedangkan secara offline biasanya terjual sudah 2-3 lusin ini sudah hampir sore baru terjual 2-3 potong pakaian saja," kata Ade.
Ade mengaku mampu menjual hingga tiga lusin celana saat berjualan secara online dibanding berjualan offline yang hanya bisa menjual lima hingga 10 potong celana saja.
"Aku live di TikTok itu kurang lebih sudah satu tahun, cuma ya begitu karena kita bukan yang terkenal, omzetnya sedikit, walaupun follower saya sedikit di online tetapi pembelian lebih banyak online daripada yang datang langsung ke toko," tambahnya.
Mewakili para pedagang, Ketua Koperasi Pasar Tanah Abang, Dahler mengatakan, akibat perdagangan melalui online, sejak 6 bulan terakhir para pedagang mengalami penurunan omzet sampai 50 persen. " Sekitar 15 ribu pedagang di pasar tanah Abang yang melek digital baru sekitar 3000 an, itupun hanya menggunakan APL WhatsApp," ungkap Dahler.
Dahler berharap, bagaimana caranya pemerintah mengatur marketplace dengan regulasi yang tepat," Kami tidak menampik dengan adanya perdagangan melalui online(marketplace), tapi imbas yang kami rasakan sangat berdampak turunnya daya jual beli," kata dia.
Dahler mengaku para pedagang memang terlambat mengikuti perkembangan pasar digital, padahal katanya perdagangan online sudah marak bermunculan sejak pandemi covid 19 lalu
" Memang kami akui, kami sangat terlambat mengikuti perkembangan pasar digital, banyak dari kami belum mengerti bagaimana cara yang tepat untuk memasarkannya.
" Memang setelah pandemi Corona banyak muncul pedagang online, disitu kami benar benar tidak siap SDM nya, katanya.
Padahal lanjut Daher, kalau mereka(konsumen) belanja online, mereka tidak bisa retur(ditukar) kalau yang mereka beli lewat APL tersebut tidak sesuai.
" Kami berharap pemerintah bersedia membina kami, mengirimkan pakar pakar IT, untuk membina kami agar tidak tergerus atau tertinggal di era pemasaran digital," pintanya.
Ditambahkan Dahler, seperti Tik tok misalnya, mereka bisa menjual bahkan dibawah harga dasar, dan dengan free ongkir.
" Misalnya produk kemeja dari produsen harga Rp 8 ribu, tapi mengapa di tiktok atau marketplace bisa menjual dengan harga 6 ribu ditambah bebas biaya antar pula, ini membingungkan. Pada intinya kami mengalami sepi pembeli, biasanya dari para pedagang ada yang terjual 1- 2 lusinan, ini sampai siang ini baru terjual 1-2 produk saja," katanya.
Permasalahan lain yang dihadapi para pedagang selain kondisi dagang yang sepi juga dihadapkan dengan masalah sewa tempat yang harus dibayarkan," kalau telat beberapa hari saja membayar iuran maka dilakukan penyegelan toko oleh pihak pengelola pasar," tutupnya.(Reporter: Achmad Sholeh/Alek)

.jpg)

.jpg)





.jpg)






