- Perbasi Cup Bergulir, Maryono: Olahraga Buka Peluang Wisata dan Ekonomi.
- Berita Sahih dan Kabar Bohong Makin Kabur, Masyarakat Harus Cermat
- Jaga Layanan Air Tetap Optimal, Sachrudin Cek Kondisi Cisadane.
- Handoko Tenang Tanggapi Demo Forum Pemuda Peduli ( FPP ) Desa Serang ini Alasanya.
- Warnai HUT TNI Ke 81 Bantaran Sungai Karplos Kota Blitar Jadikan Kawasan Asri.
- Kementerian ATR/BPN Pastikan Layanan Pertanahan di Kantah Kabupaten Bogor I Tetap Berjalan Normal Pascapenyidikan Kepolisian.
- Supangat : Alhamdulilah Gercep PUPR dan Bupati Rijanto Jalan Kami Lancar.
- Bupati Shalahuddin Hadiri Haul Abuya Syeikh Ahmad Fahmi Zamzam Yang ke 5
- Dua Koramil, Kodim 0506/Tgr Jaga Situasi Tetap Kondusif Patroli Malam.
- Pengukuhan 1.000 Pramuka Garuda, Sachrudin: Pionir Masa Depan Kota.
Berita Sahih dan Kabar Bohong Makin Kabur, Masyarakat Harus Cermat

Keterangan Gambar : Yohan, S.H.
MEGAPOLITANPOS.COM, KOTA TANGERANG-Mawar bukan nama sebenarnya percaya dan menelan mentah mentah berita yang ia baca yang ditayangkan dari salah satu situs di media sosial.
Informasi yang disampaikan dalam situs tersebut adalah soal keracunan di salah satu Pondok Pesantren di Jawa Timur, disampaikan bahwa ada ratusan santri yang keracunan MBG, dan ada puluhan santri yang meninggal karena keracunan MBG tersebut.
Soal adanya Keracunan akibat MBG di Pondok Pesantren tersebut memang benar, tetapi melalui informasi resmi dari Pemerintah daerah setempat bahwa tidak ada santri yang meninggal dunia.
Baca Lainnya :
- Perbasi Cup Bergulir, Maryono: Olahraga Buka Peluang Wisata dan Ekonomi.
- Berita Sahih dan Kabar Bohong Makin Kabur, Masyarakat Harus Cermat
- Handoko Tenang Tanggapi Demo Forum Pemuda Peduli ( FPP ) Desa Serang ini Alasanya.
- Supangat : Alhamdulilah Gercep PUPR dan Bupati Rijanto Jalan Kami Lancar.
- Dua Koramil, Kodim 0506/Tgr Jaga Situasi Tetap Kondusif Patroli Malam.
Contoh diatas adalah satu dari berita hoax dari ratusan atau mungkin ribuan berita kabar bohong yang dibuat oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.
Di era ledakan informasi, batasan antara berita sahih dan kabar bohong makin kabur. Banyak masyarakat yang menganggap semua konten berbasis teks atau video yang beredar di internet sebagai "berita". Padahal, sebagian besar hoaks yang marak beredar bukanlah karya jurnalistik, melainkan opini sepihak, disinformasi, atau manipulasi yang disebarkan oleh pihak tak bertanggung jawab melalui media sosial dan aplikasi perpesanan. (Sumber :detikNews)
Informasi palsu yang tidak berasal dari lembaga atau perusahaan pers terverifikasi umumnya memiliki pola dan karakteristik khas:
Tidak Terikat Kode Etik Jurnalistik: Media formal yang terverifikasi Dewan Pers wajib mematuhi Kode Etik Jurnalistik, seperti menerapkan azas cover both sides (konfirmasi dua sisi), check-and-recheck, dan verifikasi sumber. Hoaks mengabaikan seluruh proses kurasi dan disiplin verifikasi ini.(Sumber Kementerian Komunikasi dan Digital)
Identitas Redaksi yang Anonim: Konten disinformasi biasanya bersumber dari situs web tak resmi (blog gratisan), akun media sosial tanpa identitas jelas, atau pesan berantai. Pengelola domain tidak mencantumkan nama penanggung jawab maupun alamat redaksi yang sah.
Judul Sensasional dan Provokatif: Informasi palsu dirancang untuk memanipulasi emosi publik—seperti memicu kemarahan, ketakutan, atau kepanikan. Judulnya kerap hiperbolis dan mengajak pembaca untuk segera melempar pesan tersebut tanpa dipikirkan ulang.(Sumber : Asosiasi Peniliti dan Pengajar Ilmu Sosial).
Penyalahgunaan Visual dan Konteks: Gambar atau video lama kerap disunting kembali atau ditambahi narasi baru yang menyimpang dari peristiwa aslinya.
Memerangi hoaks memerlukan kesadaran literasi media yang kuat. Menguji kredibilitas penerbit, memeriksa status verifikasi media di lembaga pers resmi, serta membiasakan diri untuk tidak membagikan informasi sebelum valid adalah benteng utama agar tidak mudah terjebak kabar bohong.
Biar nggak gampang terjebak atau ikut menyebarkan kabar bohong, kamu bisa menerapkan beberapa langkah praktis ini tiap menerima informasi baru:
Saring Sebelum Sharing: Tahan jempol untuk tidak langsung membagikan pesan, seheboh apa pun isinya. Beri waktu sejenak untuk memikirkan dampak dan kebenaran informasi tersebut.
Cek Sumber dan Verifikasi Media: Pastikan berita berasal dari media resmi yang terdaftar dan memiliki identitas redaksi yang jelas. Kalau cuma dapat potongan pesan berantai, cari judul atau ikhtisar bicaranya di mesin pencari untuk melihat apakah media kredibel ikut memberitakannya.
Waspadai Judul Provokatif: Hoaks kerap memakai judul yang sengaja memancing emosi seperti kemarahan atau ketakutan. Jika judulnya terasa terlalu melebih-lebihkan, kemungkinan besarisinya sudah dipelintir.
Periksa Tanggal dan Visual: Jangan cuma melihat gambar atau video sekilas. Banyak hoaks memakai dokumentasi lama yang diberi narasi baru. Cek kapan peristiwa sebenarnya terjadi dan pastikan konteksnya sesuai.
Gunakan Layanan Cek Fakta: Manfaatkan platform verifikasi independent seperti CekFakta.com atau fitur cek fakta dari lembaga pers resmi untuk memastikan kebenaran suatu isu yang ragu-ragu kamu percayai.
Dari beberapa langkah di atas, mana yang menurutmu paling sering bikin orang kecolongan saat baca berita di media sosial?.(**)
Penulis : Yohan, SH.
Jurnalis, Pendiri Forwat, Pengurus JMSI dan Praktisi Hukum.















