- Menkop: Penempatan Manajer KDKMP untuk Pemerataan SDM di Seluruh Wilayah
- Meriahkan HUT ke-7, Kogabwilhan II Gelar Olahraga Bersama dan Aksi Sosial.
- Babinsa Ajak Warga Perkuat Keamanan dan Kerukunan Wilayah.
- Tradisi Korps, Kodim 0510/Tigaraksa Terima Warga Baru Letkol Inf Yudha Fuady Putra.
- Kodim 0506/Tgr Lalui Koramil Jajaran Salurkan Bantuan Air Bersih Paada Masyarakat.
- Apresiasi Wajib Pajak Teladan Bupati Blitar Rijanto Anugerahkan BliTaX Award 2026.
- Kodim 0808/Blitar Lakukan Droping Air Bersih Untuk Warga Sumberagung Panggungrejo.
- Fraksi DPRD Mulai Bedah RAPBD Barito Utara 2027, Arah Anggaran Jadi Sorotan
- Presiden Prabowo Minta Layanan BPJS Kesehatan Ditingkatkan, Antrean Pasien Harus Lebih Singkat
- Sambut Hari Kesaktian Pancasila, Petugas PPSU Bersihkan Monumen Pancasila Sakti
Parmana Setiawan Soroti PBG dan Solusi Warga MBR dalam Raperda Permukiman Kumuh

MEGAPOLITANPOS.COM - Muara Teweh – Anggota DPRD Barito Utara, Parmana Setiawan, menyampaikan sejumlah poin krusial dalam rapat pembahasan dua Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) yang digelar DPRD setempat, Jumat (17/04/2026).
Dalam rapat tersebut, salah satu fokus pembahasan adalah Raperda tentang pencegahan dan peningkatan kualitas perumahan serta permukiman kumuh. Parmana menekankan pentingnya penguatan aspek regulasi, khususnya terkait perizinan bangunan.
Ia menyoroti bahwa istilah Izin Mendirikan Bangunan (IMB) kini telah berubah menjadi Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) pasca diberlakukannya Undang-Undang Cipta Kerja.
Oleh karena itu, menurutnya, penyebutan dan pengaturan terkait PBG harus ditegaskan dalam Perda agar tidak menimbulkan kekeliruan di lapangan.
“Barometer sanksi dan penertiban harus jelas. PBG ini menjadi dasar hukum untuk memberikan sanksi, mulai dari pencabutan izin hingga pembongkaran bangunan,” tegas politidi PKB ini
Lebih lanjut, Parmana mengungkapkan bahwa maraknya bangunan tanpa izin, khususnya di wilayah Barito Utara, menjadi salah satu faktor utama munculnya kawasan kumuh.
Ia menilai kepatuhan terhadap aturan tata ruang masih perlu ditingkatkan.
Menurutnya, keberadaan PBG sangat penting untuk memastikan pembangunan rumah memenuhi ketentuan teknis, seperti jarak sempadan jalan dan sungai. Hal ini dinilai sebagai langkah preventif untuk mencegah munculnya kawasan kumuh di masa mendatang.
Namun demikian, Parmana juga mengingatkan agar regulasi yang disusun tidak semata-mata berorientasi pada sanksi. Ia mendorong agar Perda juga memuat solusi konkret bagi masyarakat, khususnya kelompok Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR).
“Perlu ada kebijakan yang memberikan kemudahan, seperti program pemutihan atau legalisasi bangunan bagi warga kurang mampu, selama bangunan tersebut masih sesuai dengan tata ruang,” ujarnya.
Poin-poin yang disampaikan tersebut, lanjutnya, diharapkan menjadi catatan penting bagi pemerintah daerah dalam menyusun regulasi yang lebih komprehensif, aplikatif, dan berkeadilan.
Rapat pembahasan ini merupakan bagian dari upaya DPRD bersama Pemerintah Daerah dalam menyempurnakan dua Raperda strategis, guna menjawab persoalan perumahan dan ketahanan kawasan permukiman di Barito Utara.
(A)


.jpg)


.jpg)









