- Dari GBK ke Lapangan Daerah, Gema Sasmita: Sepak Bola Indonesia Harus Dibangun dari Bawah
- Sinergi Babinsa dan Komduk, Perketat Patroli Malam.
- Pimpin HUT ke-81 TNI, Prabowo Ingatkan Prajurit Selalu Hadir untuk Rakyat
- Bank Jakarta Buka Peluang Duplikasi Program CSR Biodigester di Seluruh Wilayah
- Bupati Tangerang Tegaskan Pergantian Kepsek Harus Bawa Semangat dan Gagasan Baru Tingkatkan Pengelolaan Sekolah.
- Kaskogabwilhan II Pimpin Laporan Korps Rapor Kenaikan Pangkat Prajurit: Dorong Peningkatan Profesionalisme dan Tanggung Jawab.
- Gusmardi Bustami: Dari Order Menjadi Ekspor Nyata, Tantangan UKM Indonesia
- Syukuran HUT ke-81 TNI di Makogabwilhan II: Kaskogabwilhan II Potong Tumpeng dan Tekankan Pentingnya Syukur serta Soliditasm
- HUT ke-81 TNI, Kogabwilhan II Komitmen Perkuat Profesionalisme Demi Kawal Kedaulatan Negara.
- Pansus CSR DPRD DKI Apresiasi Program CSR Biodigester Sampah Organik Komunal Bank Jakarta, Ubah Sampah Jadi Energi Biogas
Dari GBK ke Lapangan Daerah, Gema Sasmita: Sepak Bola Indonesia Harus Dibangun dari Bawah

Keterangan Gambar : tokoh penggerak olahraga nasional sekaligus Pengurus KADIN Indonesia Bidang Perencanaan Nasional, Pemuda dan Olahraga, Gema Sasmita.
MEGAPOLITANPOS.COM, Jakarta— Tim Nasional Indonesia sukses menahbiskan diri sebagai kampiun ASEAN Cup setelah melewati pertandingan dramatis kontra Thailand di Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta.
Di hadapan sekitar 67 ribu penonton, skuad Garuda tampil penuh determinasi dalam pertandingan yang berlangsung hingga 120 menit. Indonesia dan Thailand bermain imbang 2-2 sehingga penentuan juara harus dilakukan melalui adu penalti.
Dalam drama adu penalti tersebut, ketangguhan penjaga gawang Emil Audero menjadi salah satu faktor penting. Refleks dan ketenangannya menggagalkan eksekusi krusial Thailand sekaligus memastikan Indonesia meraih trofi juara Asia Tenggara.
Baca Lainnya :
- Dari GBK ke Lapangan Daerah, Gema Sasmita: Sepak Bola Indonesia Harus Dibangun dari Bawah
- Sinergi Babinsa dan Komduk, Perketat Patroli Malam.
- Pimpin HUT ke-81 TNI, Prabowo Ingatkan Prajurit Selalu Hadir untuk Rakyat
- Bank Jakarta Buka Peluang Duplikasi Program CSR Biodigester di Seluruh Wilayah
- Bupati Tangerang Tegaskan Pergantian Kepsek Harus Bawa Semangat dan Gagasan Baru Tingkatkan Pengelolaan Sekolah.
Pencapaian tersebut mendapat apresiasi dari tokoh penggerak olahraga nasional sekaligus Pengurus KADIN Indonesia Bidang Perencanaan Nasional, Pemuda dan Olahraga, Gema Sasmita.
Menurut Gema, keberhasilan Timnas Indonesia bukan sekadar kejutan, melainkan buah dari kematangan strategi serta perkembangan mental para pemain sepanjang turnamen.
"Ya, kita semua sudah melihat sepanjang turnamen, Timnas memperlihatkan pergeseran paradigma permainan yang radikal. Tertinggal, disamakan kedudukannya, lalu dipaksa melewati 120 menit bertegangan tinggi di partai final, mereka sama sekali tidak panik," ujar Gema.
Ia menilai ketenangan para pemain dalam situasi tekanan tinggi, termasuk para eksekutor penalti dan Emil Audero di bawah mistar, menjadi bukti bahwa Timnas Indonesia mulai memiliki mental juara.
"Ketenangan para eksekutor kita dan kejeniusan Emil Audero membaca arah bola adalah bukti sahih bahwa Garuda kini telah memiliki DNA juara sejati, alias bermental juara," katanya.
Juara ASEAN, Indonesia Naik Kelas
Gema menilai keberhasilan meraih trofi ASEAN Cup turut mengubah peta persaingan sepak bola kawasan.
Menurutnya, Indonesia kini tidak lagi sekadar dipandang sebagai penantang atau kuda hitam. Prestasi tersebut menunjukkan bahwa fondasi sepak bola nasional semakin kuat untuk bersaing dengan negara-negara lain di Asia Tenggara.
"Kemenangan atas Thailand mengirimkan pesan tegas bahwa fondasi sepak bola nasional kini cukup solid untuk mendobrak dominasi lama dan mulai menatap persaingan yang lebih luas di tingkat benua," ujarnya.
Selain mental juara, Gema juga menyoroti kemampuan pemain mempertahankan konsentrasi dan daya juang selama 120 menit pertandingan.
Menurut dia, kemampuan tersebut menunjukkan pentingnya penerapan sport science dalam membangun performa atlet sepak bola modern.
Namun, Gema mengingatkan bahwa keberhasilan Timnas seharusnya tidak berhenti pada perayaan trofi semata. Prestasi tersebut, kata dia, harus menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap kebugaran, nutrisi dan gaya hidup aktif.
"Daya tahan 120 menit di lapangan adalah cermin ketahanan fisik level elite, tetapi ini harus menjadi momentum refleksi bersama. Indeks Kebugaran Nasional masyarakat kita membutuhkan atensi serius," tegasnya.
Ia berharap prestasi Timnas dapat menjadi lokomotif yang mendorong masyarakat Indonesia untuk lebih peduli terhadap kesehatan dan kebugaran.
"Ketangguhan fisik tidak boleh hanya menjadi milik atlet, melainkan modal dasar ketahanan bangsa," tambah Gema.
Pembinaan Pemain Muda Harus Berkelanjutan
Di tengah euforia keberhasilan Timnas, Gema juga mengingatkan pentingnya menjaga pembinaan sepak bola usia muda di daerah.
Sebagai Pembina PPSM Magelang, ia menilai kompetisi dan pembinaan di daerah merupakan bagian penting dari fondasi sepak bola nasional.
Gema turut menyoroti dua laga uji coba PPSM Magelang melawan Banyumas yang berakhir dengan kekalahan 0-1 dan 2-4.
Meski hasil tersebut belum sesuai harapan, ia tetap memberikan apresiasi terhadap perjuangan para pemain muda.
"Pesta di GBK malam ini bermula dari lapangan-lapangan di daerah. Di pertandingan Liga 1 hingga 4, seperti halnya kemarin tim Magelang baru saja melakoni laga uji coba yang sarat tekanan melawan Banyumas," kata Gema.
"Meski papan skor belum memihak dengan kekalahan 0-1 dan 2-4, saya mengangkat topi setinggi-tingginya atas daya juang pantang menyerah putra daerah yang memberikan segalanya di atas lapangan," sambungnya.
Menurut Gema, kekalahan dalam pertandingan justru dapat menjadi bagian penting dalam proses pembentukan mental dan kemampuan pemain.
Dari pertandingan sulit, tim dapat melakukan evaluasi, memperbaiki kelemahan taktis dan meningkatkan kedisiplinan.
Ia juga menekankan pentingnya manajemen klub yang profesional dalam membangun ekosistem sepak bola yang sehat.
Antara kemeriahan panggung sepak bola nasional di Jakarta dan perjuangan pemain muda di daerah, menurut Gema, terdapat satu kesamaan. Keduanya membutuhkan kerja keras, pengorbanan, evaluasi berkelanjutan dan pembinaan yang konsisten.
"Untuk membangun dinasti sepak bola yang kuat selalu membutuhkan pengorbanan, evaluasi berkelanjutan, dan pembinaan yang pantang surut," pungkasnya.(AS/MP).


.jpg)



.jpg)








