Polisi Tangkap Penyebar Hoax Di Majalengka, Eh.. Ternyata Seorang Oknum Dosen - Megapolitan Pos Online | Jembatan Informasi Masyarakat

Polisi Tangkap Penyebar Hoax Di Majalengka, Eh.. Ternyata Seorang Oknum Dosen

Hukum
polisi tangkap penyebar hoax di majalengka eh ternyata seorang oknum dosen
Dosen penyebar hoax ditangkap

MEGAPOLITANPOS.COM - Kabupaten Majalengka
Polres Majalengka sudah menangkap penyebar berita bohong (Hoax), terkait kasus pembunuhan dan kekerasan (curas) di Kecamatan Cikijing Kabupaten Majalengka belum lama ini dan tersangka merupakan seorang oknum dosen wanita di Yogyakarta berinisial "TAW" (48 tahun).

Pengungkapan itu saat Polisi menggelar Press Realese di Polres Majalengka dengan para awak media.

Kapolres Majalengka, AKBP Noviana Tursanurohmad menjelaskan, penangkapan tersangka dilakukan setelah Mabes Polri dan Polres Majalengka melakukanpenyelidikan dan penyidikan terkait viralnya di media sosial (medsos) mengenai kasus pembunuhan di Cikijing Kabupaten Majalengka yang dianggap seorang muadzin.

"Kita lakukan penyelidikan terhadap kasus ini, dan ternyata penyebar berita bohong ini akhirnya ditemukan beriniasal "TAW" seorang dosen Bahasa Inggris di Yogyakarta.Tersangka sendiri diamankan di Jakarta Utara, dan kelahiran Jakarta," katanya. Selasa (27/2/2018).

Menurut Kapolres, saat dilakukan penangkapan di medsos berupa facebook milik tersangka itu sudah dibagikan lebih dari 7 ribu dan dikomentari 1700 komentar.Tersangka juga mengaku tidak pernah mengecek dan mendalami terlebih dahulu kebenaran berita tersebut hingga membuat berita bohong tersebut.

"Pengakuan tersangka juga, kalau dirinya itu bukan yang pertama menyebarkan. Tapi silakan saja berkilah, nanti kita buktikan di pengadilan.Tapi berdasarkan Tim Cyber Polri tersangkalah yang pertama menyebarkan,"ungkapnya.

Dalam penangkapan ini, lanjut Kapolres, pihaknya tidak mempersoalkan gambar, namun berita hoax inilah yang menjadi peganganya hingga menjadi viral ke seluruh negeri. Tersangka membuat status bersifat provokatif, seorang muadzin meninggal dunia oleh orang gila. Padahal faktanya itu bukan muadzin tapi warga biasa.

"Akibat perbuatan tersangka, akan dijerat Pasal 28 ayat 2 Undang-Undang No 11/2008 tentang ITE. Disebutkan bahwa setiap orang yang sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras, dan antar gologan terancam pidana penjara paling lama 6 tahun dan atau denda paling banyak Rp 1.000.000.000 (Rp 1 miliar)," kata Kapolres
menegaskan.

Kapolres mengaku jika kasus penangkapan berita hoax ini yang pertama kalinya terjadi di Kabupaten Majalengka. Pihaknya berharap kasus seperti ini tidak terulang kembali, menimpa warga masyarakat lainnya.

"Ini kasus baru bagi kami di Majalengka untuk itu kami harap masyarakat bisa mengambil hikmah dari pelajaran ini agar bijak dan berhati-hati dalam menyebarkan berita. Karena konsekuensinya akan terkena pidana, seperti kasus ini,"saran Kapolres.

Mengenai kasus pengungkapan pembunuhan ini masih dalam penyelidikan Polres Majalengka hingga saat ini."Saat ini terus kita lakukan penyelidikan,"ucapnya.

Sebelumnya, kabar soal seorang Muadzin di Cikijing Majalengka dibunuh orang gila yang menjadi viral di medsos. Hal itu dibantah Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Cikijing, Kabupaten Majalengka, KH Akhmad Muhidin. Dijelaskan dia, informasi yang beredar di medsos adalah hoax karena, H Bahro (40) yang tinggal di Desa Sindang, Kecamatan Cikijing, Kabupaten Majalengka, bukan seorang Muadzin, ustad atau Kyai, melainkan hanya masyarakat biasa.

"Saya pastikan informasi tersebut, adalah hoax atau tidak benar dan kami harap masyarakat jangan mempercai isu tersebut,"ungkap H. Ahmad, Sabtu (17/2/2018) lalu.

Maka dari itu, MUI mengimbau kepada ulama, santri, ustaz dan warga agar tetap tentram serta tidak merasa terancam dan khususnya kepada masyarakat agar tidak mempercayai isu atau informasi hoax yang tidak bisa dipertanggung jawabkan.

Pengakuan serupa diutarakan istri korban, Mumun dan anak korban Ahmad Subendi. Dia mengatakan, bahwa peristiwa yang menimpa anggota keluarganya yang tewas korban curas karenadi dalam rumahnya sudah acak acakan.

"Bapak saya bukan seorang Muadzin, melainkan hanya masyarakat biasa dan Bapak saya meninggal di teras rumah kami, akibat korban pencurian yang dibunuh oleh pelaku yang hendak mencuri barang barang berharga kami,"jelasnya. ** (Sigit)

Author

Berita Terkait

MEGAPOLITANPOS.com adalah Media Online yang melayani informasi dan berita dengan lugas, kritis, dan mencerahkan sekaligus mencerdaskan bagi pembaca dengan data dan fakta berita. Media yang menyajikan berita-berita nasional, politik, hukum, sosial budaya, ekonomi bisnis, olahraga, iptek, gaya hidup, hobi, profil, dan lain sebagainya akan menjadi suguhan menarik, melegakan kehausan akan cinta dunia informasi terkini yang menginspirasi, memberikan inovasi sekaligus sarana aspirasi…

Back to Top