TNI Bersinergi Membangun Peradaban di Perdesaan (2) - Megapolitan Pos Online | Jembatan Informasi Masyarakat

TNI Bersinergi Membangun Peradaban di Perdesaan (2)

TNI POLRI
tni bersinergi membangun peradaban di perdesaan 2
TNI bahu-membahu dengan warga Desa Sei Gohong membangun jembatan desa. (foto: Dhani/megapolitanpos.com)

MEGAPOLITANPOS.COM -Kehadiran TNI menyatu dengan masyarakat desa, bertujuan menjadi motor penggerak-percepatan pembangunan perdesaan.

Harus diakui, di tengah laju perkembangan teknologi dan informasi yang serba cepat, pembangunan desa justru terasa berjalan lebih lambat.

Memang teknologi informasi menciptakan kemajuan dalam hal kita melihat dunia. Tetapi, secara nyata kita masih melihat ada jarak yang jauh antara harapan dan kenyataan di era Indonesia merdeka ini. Terutama sekali dalam hal capaian kesejahteraan. Sangat terasa, bahwa peningkatan kesejahteraan warga di desa-desa yang tersebar di seluruh penjuru negeri ini berjalan dengan sangat lambat. Akibatnya, masih banyak desa-desa yang tertinggal.

Penyakit Lupa

Kata ‘manunggal’ memiliki makna bahwa TNI menggandeng dan merangkul kembali rakyat desa. Hal ini jelas mengelinimasi kesan, bahwa semenjak era reformasi di akhir 1990-an, TNI menjauh dari rakyat.

Situasi kehidupan yang semakin kompleks dan rumit belakangan ini, menjadikan masyarakat lupa pada nilai-nilai ke-Indonesiaan. Terutama sekali generasi muda. Mereka asyik dengan dunia mereka sendiri. Seperti kesibukan mereka mengonsumsi narkoba, kesibukan mereka berinteraksi dengan nilai-nilai lain melalui media sosial, yang disadari atau tidak, menjauhkan mereka dari nilai-nilai ke-Indonesiaan tadi.

Mereka lupa dengan teks Pancasila, lupa dengan teks lagu Indonesia Raya, lupa bahkan merasa tabu menghormat bendera merah putih. Mereka justru semakin asyik dengan narkoba, semakin familiar dengan ketrampilan meracik bahan peledak-bom, semakin fasih dengan faham khilafah…

Di tengah dunia yang semakin padat dan deras arus informasi, menjadikan mereka keliru dalam memahami kekebasan dan demokrasi. Salah satu contohnya adalah, kehebohan yang ditimbulkan oleh Gerakan Fajar Nusantara atau yang dikenal sebagai Gafatar pada 2015 – 2016 lalu. Karena keliru memahami kebebasan beragama, berserikat, berpendapat serta bersikap, maka mereka tersesat mengikuti faham Gafatar.

Sudah tentu, konsep ‘manunggal’ dengan rakyat akan menjadi sarana deteksi dini yang paling sensitive terhadap hal-hal yang menyimpang tadi. Terutama deteksi terhadap perilaku sosial, perilaku moral yang bermuatan berbagai faham dan ideologi terlarang, baik yang berkedok agama, berkedok kegiatan sosial, dan lainnya yang bertujuan merusak dan menghancurkan ketahanan sendi-sendi berbangsa dan bernegara.

Proxy War

Panglima TNI sering menyebut ancaman paling merusak yang saat ini dihadapi adalah proxy-war. Yakni perang yang serangannya tidak kita sadari dan sulit dideteksi, tetapi daya rusaknya sangat dahsyat. Serangan itu didesain sedemikian rupa oleh musuh-musuh, yang juga tak kentara keberadaannya.

Patut disambut gembira, jika ke depan interaksi antara TNI dengan masyarakat akan kian diintensifkan. Program TMMD yang selama ini setahun 2 kali, kelak akan diintensifkan menjadi tiga kali.

Dengan demikian, desa-desa yang mengalami percepatan pembangunan akan berlipat ganda jumlahnya. Dengan demikian warga desa yang mendapat pencerahan, mendapat penyadaran, bahkan yang mendapat penguatan akan semakin banyak. Ini berarti, warga desa yang mendapat pendampingan semakin banyak.

Warga desa tidak sendirian dalam memahami hal-hal yang bersifat destruktif. Semakin dekat dan akrab, semakin menyatu dan manunggal TNI dengan rakyat, maka rakyatpun terlindungi dari ketersesatan pemahaman terhadap faham atau ideologi dan perilaku yang merusak.

Mtmmd, anakala anggota TNI berinteraksi semakin intensif dengan masyarakat, misalnya dalam mengenalkan kisah atau sejarah para tokoh pejuang pada saat pergerakan nasional seperti yang dipimpin Tjilik Riwut, Panglima Utar, bahkan jauh sebelumnya ada Panglima Batur, ada Mat Seman, maka yakinlah kita, bahwa anak-anak muda khususnya di Kalimantan Tengah misalnya, tidak dengan mudah terpikat pada faham yang disebarkan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang menegasikan atau mengabaikan Pancasila dan substansi bahkan ekistensi negara Indonesia. (Yohanes Widada/Megapolitanpos.com)



Berita Terkait

MEGAPOLITANPOS.com adalah Media Online yang melayani informasi dan berita dengan lugas, kritis, dan mencerahkan sekaligus mencerdaskan bagi pembaca dengan data dan fakta berita. Media yang menyajikan berita-berita nasional, politik, hukum, sosial budaya, ekonomi bisnis, olahraga, iptek, gaya hidup, hobi, profil, dan lain sebagainya akan menjadi suguhan menarik, melegakan kehausan akan cinta dunia informasi terkini yang menginspirasi, memberikan inovasi sekaligus sarana aspirasi…

Back to Top