Mengenal Lebih Dekat, Tokoh Kalibata Alm Guru Din. - Megapolitan Pos Online | Jembatan Informasi Masyarakat

Mengenal Lebih Dekat, Tokoh Kalibata Alm Guru Din.

Tokoh
mengenal lebih dekat tokoh kalibata alm guru din
Alm.Guru Din ( KH. Ahmad Zainuddin )

Megapolitanpos. com.Tokoh - Selain dari kedua guru tersebut yaitu Habib Ali Al-Habsy dan KH. Muhammad Amin, belum ada data dan cerita kepada siapa lagi beliau berguru, informasi dari orang-orang yang mengalami dan mengikuti kehidupan beliau, ternyata beliau hanya berguru kepada kedua tokoh tersebut.

Selanjutnya beliau lebih banyak belajar sendiri dengan rajin membaca dan istiqomah bermutholaah, terbukti di tempat duduknya beliau selalu ditemani oleh kitab-kitabnya yang kadang beliau sampai tertidur bersama kitab-kitab tersebut.

Pada saat tidak belajar dan mengajar, beliau mengisi waktu senggang dengan bertani, menanam jambu, jeruk, rambutan dan pisang serta tanaman bunga, juga sering mengoredi (merawat) tanah untuk menyuburkan tanaman di lahan kebunnya.

Selain itu beliau juga gemar memelihara burung kicauan, perkutut dan ayam sekedar hobby di waktu senggang. Pada tahun 1935 KH. Ahmad Zainuddin mulai memberikan pengajaran kepada masyarakat sekitarnya.

System pengajaran pada saat itu sangatlah sederhana, beliau duduk bersila dengan meja pendek (lekar) sementara murid-murid beliau duduk mengelilinginya dengan mendengarkan dan menyimak apa yang beliau sampaikan.

Pelajaran pada saat itu berkisar mengenai sifat dua puluh, fiqh, akhlak dan nahwu sharf dengan menggunakan kitab kuning. Tempat yang digunakan untuk belajar pada saat itu adalah sebelah barat dari rumah kediamannya sekarang atau di rumah kediaman Ust. H. M. Yazid sekarang, kemudian mengalami perpindahan beberapa kali hingga pada akhirnya menempati lahan yang sekarang didirikan Madrasah Unwanul Huda yuang pada saat itu terkenal dengan sebutan Madrasah Guru Din.

Dalam mengajar di Madrasah tersebut KH. Ahmad Zainuddin dibantu oleh Ust. KH. Ahmad Muhayyar, Ust. H. Mushonif, Ust. H. Sayuti dan Ust. H. Hatamin. Pada tahun 1948 – 1949 beliau sempat menjadi pegawai negeri Kantor Urusan Agama sebagai Naib bersama dengan KH. Muhammad Amin (Guru Amin) Beliau berhenti sebagai pegawai negeri bersamaan dengan pindahnya kantor tersebut ke daerah Bekasi di samping ada persyaratan bahwa pegawai negeri harus menggunakan celana panjang, sementara beliau dalam kegiatan sehari-hari selalu menggunakan kain sarung.

Pada tahun 1950, KH. Ahmad Zainuddin mulai mengajar di langgar-langgar, antara lain Langgar Guru Din yang pada saat itu lokasinya berada di sebelah barat Madrasah Unwanul Huda, Langgar Guru Ijo (Al-Ikhlas), Langgar H. Saimi/H. Ilyas, Langgar Duren (Al-Barkah), Langgar Al-Muqarrobin dan Masjid Al-Fajri.

Pada saat itu Jakarta masih gelap, beccek penuh dengan rawa dan semak belukar, penerangan untuk mengaji dan belajar di Mushola-mushola pada saat itu hanya menggunakan lampu cempor.

Perjalanan untuk menuju Musholla pada malam hari hanya menggunakan obor, colen atau baterai senter bagi yang punya, walaupun demikian semangat belajar dan mengajar tak pernah padam. Dari sinilah cikal bakal pengajian Musholla-musholla dan di Masjid-masjid yang disampaaikan oleh beliau dalam mengembangkan ilmu agama.

Pada tahun 1960-an masyakarat di sekitar Kalibata belum mempunyai Masjid yang ada hanya dua Masjid yaitu Masjid Syi’arul Islam (Guru Amin) yang sekarang dikenal dengan nama masjid Nashrumminallah dan Masjid Al-Fajri Kerobokan Pejaten.

Pada tahun 1964-1965, pada saat itu dimulainya pembangunan komplek Cakra Birawa (Pomad), hal ini membuat masyakarat disekitarnya kesulitan bila ingin melaksanakan sholat Jum’at. Akhirnya pada tahun 1968, KH. As’ad dengan melihat illat/kondisi yang ada mengusulkan untuk mengadakan sholat Jum’at.

Usulan ini ditanggapi dan ditindak lanjuti oleh KH. Ahmad Zainuddin dengan mengutus KH. As’ad untuk menemui Habib Ali Al-Atas dalam rangka meminta fatwa dan pendapat beliau sehubungan akan diadakan sholat Jum’at Musholla tersebut.

Dengan berbagai macam pertimbangan dan penelitian tentang boleh tidaknya kampong tersebut diadakan sholat Jum’at, akhirnya Habib Ali Al-Atas merestui dan mengizinkannya.

Diadakanlah sholat Jum’at pertama kali pada tahun 1968 di Musholla yang saat itu bangunannya berada di sebelah barat Madrasah Unwanul Huda. Sebagai peresmiannya maka KH. As’ad dan Ust. H. Muhayyar Hasby dengan menggunakan mobil Jeep, menjemput Habib Ali Al-Atas untuk menghadiri sholat Jum’at terebut dengan imam dan khotib oleh Ust. KH. Ahmad (Guru Amad).

Pada bulan Januari tahun 1969, ketika KH. Ahmad Zainuddin akan berangkat mengajar di Masjid Al-Fajri, H. Mathohir yang selalu mendampinginya mengusulkan untuk membangun masjid, usulan tersebut didukung oleh Ust. KH. Ahmad (Guru Amad).

Dimulailah pembangunan Masjid Nurul Hidayah di atas tanah waqaf pemberian H. Aseni, H. Yazid dan gotong royong/amal jariyah sebagian masyarakat. (facebook fikri)

Author

Berita Terkait

MEGAPOLITANPOS.com adalah Media Online yang melayani informasi dan berita dengan lugas, kritis, dan mencerahkan sekaligus mencerdaskan bagi pembaca dengan data dan fakta berita. Media yang menyajikan berita-berita nasional, politik, hukum, sosial budaya, ekonomi bisnis, olahraga, iptek, gaya hidup, hobi, profil, dan lain sebagainya akan menjadi suguhan menarik, melegakan kehausan akan cinta dunia informasi terkini yang menginspirasi, memberikan inovasi sekaligus sarana aspirasi…

Back to Top