Diduga Habitatnya Terganggu, Harimau Sumatera Berkonflik Dengan Manusia - Megapolitan Pos Online | Jembatan Informasi Masyarakat

Diduga Habitatnya Terganggu, Harimau Sumatera Berkonflik Dengan Manusia

Berita Daerah
diduga habitatnya terganggu harimau sumatera berkonflik dengan manusia
Harimau Sumatera

MEGAPOLITANPOSCOM, Pagaralam - Harimau Sumatera (Panthera Tigris Sumatrae) yang masih bertahan hidup hingga saat ini termasuk dalam klasifikasi satwa kritis yang terancam punah yang tercatat dalam daftar merah spesies terancam dirilis oleh Lembaga Konservasi Dunia IUCN. Dengan jumlah populasi liar diperkirakan hanya tersisa 400-500 ekor yang tersebar disejumlah kawasan taman nasional dan hutan lindung diwilayah pulau Sumatera. Perusakan dan penghancuran habitat merupakan ancaman terbesar terhadap populasi harimau Sumatera hingga saat ini.

Perusakan dan penghancuran habitat populasi satwa dilindungi yang terancam punah, salahsatunya Harimau Sumatera juga terjadi dikawasan hutan lindung Bukit Dingin, seluas lebih kurang 28, 741 ha (Gunung Dempo Pagaralam), Hutan Lindung Bukit Jambul dan Hutan Lindung Gunung Patah, seluas 23,785 ha diwilayah Sumatera Selatan. Menurut catatan Bagian Penyidikan dan Pengamanan Hutan Balai Kobservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Selatan ditahun 2015 jumlah populasinya berkisar antara 15-20 ekor.

Kuat dugaan akibat perusakkan habitat secara besar-besaran memaksa kawanan harimau Sumatera berkonflik dengan manusia. Tercatat pada hari Sabtu (16/11/2019), Irfan (20) seorang warga Musi Banyu Asin Sumatera Selatan diterkam si raja rimba saat tengah berwisata dikawan Tugu Rimau Gunung Dempo Pagaralam yang menyebabkan dirinya mengalami luka parah dibeberapa bagian tubuhnya.

Berselang sehari kemudian, Minggu (17/11/2019), kejadian serupa dialami Kuswanto (54), warga Desa Pulau Panas Kecamatan Tanjung Sakti PUMI Kabupaten Lahat ini harus kehilangan nyawa akibat berkonflik dengan harimau sumatera saat dirinya tengah beraktivitas dikebun kopi miliknya, Kuswanto mengalami luka gigitan dibagian leher dan luka cakar dibeberapa bagian tubuh.

Tidak cukup sampai disitu, teror harimaupun terus berlanjut pada hari Senin (2/12/2019) tepatnya dikawasan perkebunan kopi didusun Tebat Benawa Kelurahan Penjalang Kecamatan Dempo Selatan Kota Pagaralam yang berbatasan langsung dengan kawasan hutan lindung, kali ini korbannya adalah warga setempat yakni Marta Rulani (24) yang saat kejadian tengah menjalankan aktivitas bertani dikebun kopi miliknya, Marta mengalami luka robek dibagian paha sebelah kanan, perut dan bokong akibat cakaran dan gigitan Panthera Tigris Sumatrae. Beruntung dirinya selamat karena kelima rekannya berhasil menghalau satwa buas tersebut dan korban memanjat pohon.

Terbaru, Kamis (5/11/2019). Seorang petani kopi asal Desa Karang Dalam Ulu Kecamatan Pulau Pinang Kabupaten Lahat yang berkebun didalam kawasan Hutan Lindung, Yudiansyah Haryanto (40) didapati tak bernyawa dengan bagian tubuh yang tidak utuh lagi, menyisakan tulang belulang dan daging bagian kaki. Kuat dugaan korban dimangsa harimau.

Menyikapi maraknya teror yang ditebar sekawanan harimau Sumatera dalam satu bulan terakhir ini, kepala UPTD-KPH X Dempo, Ardiansyah yang dihubungi Megapolitanpos, Jum'at (6/11) membenarkan salahsatu penyebab migrasi populasi harimau Sumatera mendekati kawasan pemukiman dan berkonflik dengan manusia efek dari musim kemarau panjang dan akibat kerusakan habitat mereka, dimana ribuan Hektar are (Ha) hutan lindung dikawasan Gunung Dempo dan Bukit Barisan yang masuk dalam wilayah Pagaralam, Lahat dan Muara Enim, merupakan habitat Harimau Sumatera telah mengalami kerusakan yang cukup parah akibat ulah tangan manusia itu sendiri, dengan cara pembalakkan dan alih fungsi lahan. Sehingga memaksa mereka untuk mencari tempat baru.

"Bukan tanpa sebab Harimau Sumatera mendekati pemukiman penduduk, bisa jadi mereka tidak lagi mendapatkan makanan dari habitat mereka yang telah rusak, baik itu akibat musim kemarau panjang atau karena terjadinya alih fungsi lahan, dari hutan lindung menjadi lahan perkebunan", Jelas Ardiansyah.

Masih menurut dia, masyarakat tidak perlu khawatir untuk beraktivitas sebagai petani jika saja lahan mereka tidak merebut habitat kawanan Harimau dan satwa lainnya,"mereka juga berhak untuk hidup dan mencari makan, jadi jangan kita rusak habitat mereka," lanjutnya.

Kedepan Kepala UPTD-KPH X Dempo, akan bersibergi dengan aparat terkait, guna melakukan penegakkan hukum yang tegas tanpa pandang bulu terhadap pelanggar dan perusak lingkungan.

Sementara itu, dirilis dari Kompas.com, Kamis (5/12). Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Selatan, Genman Suhefti Hasibuan, dari laporan yang mereka terima, lokasi tewasnya Yudiansah Harianto (40), tak jauh dari kejadian pertama yang dialami oleh Marta Rolani (24) pada Senin (2/12/2019) kemarin di Kelurahan Penjalang, Kecamatan Dempo Selatan.

Dalam serangan itu,Marta mengalami luka cakar diperut dan bokong. Namun, ia berhasil selamat setelah memanjat pohon.

"Lokasi TKP berada didalam kawasan hutan lindung dan menurut keterangan yang kami terima, TKP tersebut berada disekitar TKP beberapa hari lalu,"kata Genman, Kamis (5/12/2019).

Genman menerangkan, mereka sebelumnya telah mengimbau warga untuk tidak beraktivitas di kebun. Karena, lokasi tersebut merupakan kawasan hutan lindung dan merupakan habitat harimau sumatera.

"Korban kemungkinan menggarap di dalam hutan lindung, padahal Muspida Pagaralam beberapa hari lalu, sudah mengimbau agar menghentikan aktivitas di dalam Kawasan hutan lindung yang dapat mengganngu keberdaan harimau," pungkas Genman. (JF)

IMG-20200717-WA0141

Author

Berita Terkait

MEGAPOLITANPOS.com adalah Media Online yang melayani informasi dan berita dengan lugas, kritis, dan mencerahkan sekaligus mencerdaskan bagi pembaca dengan data dan fakta berita. Media yang menyajikan berita-berita nasional, politik, hukum, sosial budaya, ekonomi bisnis, olahraga, iptek, gaya hidup, hobi, profil, dan lain sebagainya akan menjadi suguhan menarik, melegakan kehausan akan cinta dunia informasi terkini yang menginspirasi, memberikan inovasi sekaligus sarana aspirasi…

Back to Top